Ekaristi Rasa Kejawen: Misa Suro di Gereja Mater Dei Lampersari Sarat Makna Budaya
RADARSEMARANG.ID, Semarang - Gamelan mengalun lirih di dalam Gereja Katolik Mater Dei Lampersari, Semarang, Jumat (27/6) pagi.
Diiringi nyanyian rohani berbahasa Jawa, ratusan umat Katolik berpakaian adat duduk khusyuk dalam suasana yang lebih menyerupai pendopo keraton ketimbang gereja.
Baca Juga: 1447 Obor Terangi Bandarharjo Semarang, Pawai Cahaya Sambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 H
Itulah wajah Misa Suro, tradisi tahunan Gereja Mater Dei dalam menyambut Tahun Baru Jawa 1959.
Tak sekadar seremoni iman, misa ini menjadi ruang bertemunya spiritualitas Katolik dengan kearifan budaya Jawa.
Sebuah bentuk syukur sekaligus upaya menghidupkan kembali identitas yang kian tergerus zaman.
“Sebagian besar umat kami adalah orang Jawa. Maka penting bagi kami untuk tidak kehilangan Jawane,” ujar Ireneus Ipung Jati Wisnutomo, Wakil Ketua Dewan Pastoral Paroki.
Baca Juga: Nissan Livina Terbakar di Depan Vihara Kopeng Salatiga, Begini Kronologinya
Misa Suro bukan hanya misa biasa. Perayaan Ekaristi dibawakan dalam bahasa Jawa, diiringi gamelan dan karawitan khas Mater Dei.
Sekitar 300–400 jemaat hadir pagi itu. Suasana gereja penuh, hangat, sekaligus syahdu.
Petugas misdinar, lektor, kur, tim lcd, petugas tatib, persembahan, dewan harian, tim karawitan Mater Dei. Mereka mengenakan beskap, kebaya, dan kain batik.
Bahkan, anak-anak tampil mempersembahkan tarian Jawa sebelum misa dimulai. Paduan suara pun menyanyikan lagu-lagu rohani dalam langgam Jawa.
Baca Juga: Exit Tol Salatiga Punya Nama Baru, Selesai 25 Oktober 2026
Yang menarik, di ujung misa disajikan gunungan tumpeng sebagai persembahan dan ditutup dengan tradisi makan bersama bubur Suran.
Sebuah penegasan, budaya dan iman bisa berjalan berdampingan, bahkan saling menguatkan.
“Ini bentuk konkret pewartaan iman dalam balutan budaya,” tutur Romo Yustinus Agus Purwadi Pr, Vikaris Paroki Mater Dei.
Menurut Romo Agus, budaya bukan sekadar warisan nenek moyang. Melainkan medan perjuangan nilai yang terus harus dihidupi.
Baca Juga: Tahun Baru Islam Atau 1 Suro, Benarkah Bulan Ini Keramat? Begini Penjelasannya
Karena itu, Misa Suro bukan acara musiman. Setiap tahun gereja ini rutin menggelar perayaan serupa, sebagai sarana penguatan identitas budaya dalam kehidupan beriman.
“Kita hidup di Jawa, di mana budaya ini tumbuh. Maka jangan sampai kita meninggalkan budaya sendiri. Justru harus kita segarkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam perayaan liturgi,” tegasnya.
Satu pagi, satu misa, satu pesan, yakni iman tak harus lepas dari akar budaya.
Bahkan sebaliknya, bisa menjadi jembatan untuk mengenal Tuhan lewat bahasa tradisi.
Mater Dei Lampersari telah memberi contoh, menjadi Katholik tak berarti harus kehilangan kejawaan.
Sebab iman dan budaya, jika dihidupi dengan cinta, justru saling memperkaya. (fgr)
Editor : Baskoro Septiadi