RADARSEMARANG.ID - Ratusan pusaka dengan berbagai macam jenis, tertata rapi di lemari pada kediaman Fajar Purwoto yang terletak di Kecamatan Ngaliyan Semarang.
Fajar merupakan pensiunan Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkot Semarang dengan jabatan terakhirnya adalah kepala Satpol PP. Pria yang dikenal ramah dan bersahaja ini punya 375 pusaka yang mayoritas berupa keris.
Fajar mengaku tidak pernah mengeluarkan uang sepeserpun untuk membeli keris. Ia mengaku mendapatkan keris itu dari alam atau datang sendiri.
Baca Juga: Mengunjungi Eks Lokalisasi Sunan Kuning Semarang setelah Enam Tahun Ditutup, Karaoke Beroperasi
"Totalnya ada 375 pusaka, dari keris, kujang, tombak dan lainnya," kata Fajar saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang belum lama ini.
Keris yang dimiliki bisa dibilang sangat lengkap, mulai dari yang lurus, sampai yang memiliki luk atau kelokan. Mulai dari luk 3 sampai luk 21.
Ada pula keris yang bentuknya seperti Semar, konon keris tersebut bernama Semar Duduk, Naga dan lain sebagainya. Menurut informasi, Keris Semar Duduk memiliki fungsi sebagai kewibawaan.
"Ada macam-macam, itu ada yang Semar Duduk, ada yang luk-nya sedikit ada yang banyak. Konon kegunaannya pun beda-beda," tambah dia.
Bagi Fajar, keris bukan sekadar benda tajam bersejarah. Ia menyebutnya sebagai bentuk kecintaannya pada budaya Jawa.
Hobi ini mulai digelutinya sejak 2004, saat ia menjabat sebagai Camat Gayamsari. Tapi ia menegaskan, tidak pernah sekalipun ia membeli keris-keris itu.
"Nggak pernah beli, kalau misalnya saya pengin tiba-tiba ada bayangan itu di mana letaknya. Misal di pohon, ya saya minta orang buat ambil, dan bilang di situ ada keris, nah di situ ternyata ada," ujar sambil memperlihatkan keris bernama Nogo Sosro Sabuk Inten miliknya.
Kemudian sejak 2011, kisah datangnya keris-keris itu semakin sering terjadi. Ia mengatakan, dalam satu minggu kadang ada dua-tiga keris yang muncul.
Menurutnya, datangnya keris ini merupakan berkah. Dia menganggap, jika keris yang datang ini minta untuk dirawat, sesuai dengan apa yang dilakukan oleh pendahulunya alias kemampuan keturunan.
"Tahu-tahu dapat 8 buah, datang sendiri. Saya nggak pernah beli, karena kalau bicara nilai itu keris dibilang tidak ada nilainya, tapi juga bisa jadi miliaran bagi yang suka," ujarnya.
Karena datang sendiri, Fajar mengaku sering muncul keris secara tiba-tiba di depan rumahnya.
Ada pula pusaka yang terlihat di tempat angker. Namun keris di tempat angker seperti kuburan atau pohon bambu, tidak pernah dia ambil.
"Kalau tempat angker tidak saya ambil, karena bagi saya itu nggak baik," tegasnya.
"Kalau orang bicara khodam atau isinya, ya tergantung keyakinan masing-masing. Tapi bagi saya, yang penting kita tetap percaya bahwa semua milik Allah. Kita manusia lebih mulia," tambah dia.
Dari ratusan keris yang ia miliki, ada satu yang paling berkesan baginya. Keris itu selalu ia bawa saat masih menjabat sebagai Kepala Dinas Satpol PP Kota Semarang.
Bahkan bagi sebagian orang, keris yang mirip tongkat dengan bentuk naga memakan bola yang diibaratkan bumi dan berwarna emas kerap dianggap tongkat komando.
"Orang-orang nggak tahu, dikira tongkat komando. Padahal itu keris. Namanya nggak saya sebutkan, biar yang tahu aja yang nyebut," paparnya.
Baca Juga: Ketegangan Memuncak! Rudal Iran Hantam Kawasan Teknologi Israel, 18 Orang Terluka
Baginya sugesti dari keris itu sangat kuat, terutama saat ia bertugas menegakkan aturan di lapangan.
Meskipun punya sugesti yang kuat, dia berpesan agar tidak berlebihan dalam mempercayai hal mistis.
Ia memegang erat prinsip bahwa yang harus disembah hanyalah Tuhan Yang Maha Esa. Misalnya ketika memiliki keris, lalu bisa naik jabatan atau kegunaan lainnya.
"Itu malah musyrik, terlalu mendewakan, karena yang wajib kita sembah adalah Allah," tuturnya. Koleksi yang paling tua, kata dia, umurnya diklaim ratusan tahun. Ada yang umurnya atas 500 tahun. Karena ya tidak beli, ngambil dari alam gaib. Saya transfer di pohon, terus tinggal minta apa, misal minta kembang melati, tak taruh melati di situ, beli Rp 5 ribu tok," sambungnya. (den/ton)
Editor : Baskoro Septiadi