Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Mengunjungi Eks Lokalisasi Sunan Kuning Semarang setelah Enam Tahun Ditutup, Karaoke Beroperasi

Radar Semarang • Minggu, 22 Juni 2025 | 17:30 WIB
Ilustrasi AI.
Ilustrasi AI.

RADARSEMARANG.ID - Kawasan lokalisasi Argorejo atau biasa disebut Sunan Kuning (SK) resmi ditutup sejak tahun 2019 lalu. Setelah enam tahun ditutup, geliat SK tetap beroperasi.

Hingar bingar hiburan malam masih ramai lengkap dengan minuman keras dan wanita pemandu karaoke atau LC. Bahkan, tidak sedikit yang memesan LC dan kemudian dibawa keluar.

Pasca ditutup, tempat ini tidak banyak berubah. Masih ada banyak wisma karaoke yang buka di bawah binaan Paguyuban Karaoke (Pakar) Argorejo  yang mengelola kawasan tersebut sebagai tempat hiburan, tanpa adanya prostitusi.

Ada lima gang yang di kawasan ini, dengan berbagai wisma karaoke yang menjajakan kesenangan dunia hiburan malam, dengan tarif lebih murah bahkan ada paket mulai Rp 500 ribu.

Tentunya harga ini lebih murah di kantong dibandingkan tempat karaoke yang ada di pusat kota.

Setelah Magrib, lampu berwarna-warni mulai menyala, suara sound sistem dari dalam room pun menggelegar keras, menandai dimulainya aktivitas dunia hiburan di Argorejo.

 Baca Juga: Sikap Kim So Hyun Berubah Jadi Dingin Kepada Park Bo Gum di Drama Good Boy

Mbak-mbak cantik terlihat mangkal di depan wisma, dengan pakaian yang menggoda untuk menunggu pelanggan atau lelaki yang haus akan hiburan.

Usianya berkisar 20 tahun ada pula yang di atas 30 tahun. Tugasnya menemani serta memandu lagu ataupun sebagai teman duet.

"Tarif LC per jam Rp 75 ribu, itu ada dipotong masuk wisma sekitar Rp 5 ribu sampai Rp 15 ribu. Jadi bersihnya bisa pegang Rp 60 ribu per jam," kata Fikri bukan nama sebenarnya, yang pernah mengelola sebuah wisma di Argorejo.

Dia menjelaskan, setiap pengunjung punya permintaan yang berbeda, misalnya meminta LC yang asik diajak ngobrol atau ramah, LC yang cantik dan suaranya bagus, bahkan LC yang seksi.

Pihaknya tidak memungkiri, ada pelanggan yang bertanya apakah ada LC yang bispak (bisa dipakai) alias di BO atau dieksekusi, untuk memuaskan nafsu.

"Mintanya beda-beda, kalau misalnya ada yang tanya apakah bisa di BO, ya saya jawab. Tergantung nyepik LC nya, karena disini sebenarnya tidak ada lagi prostitusi. Itupun pakainya tidak di dalam wisma," tegasnya.

 Baca Juga: UU ODOL Memantik Bara Memicu Jeritan Sopir Truk di Jalanan, Ini Alasan dan Faktanya!

Menurutnya, itu keputusan dari LC itu adalah tanggung jawab pribadi. Sebagai management, atau pengelola wisma, tidak ikut campur tangan jika terjadi masalah dikemudian hari.

"Nggak berani resiko ya, kalaupun ada itu pribadi, ya resikonya ditanggung sendiri," paparnya.

Sangat sulit memang, menemukan LC yang 'nyambi', ketika koran ini mencoba mendatangi Argorejo.

Bahkan meskipun sudah menggunakan jurus 'speak-speak iblis' (SSI), dan uang tunai pun masih belum mempan untuk menemukan LC yang bisa 'dipakai'.

"Karena memang dilarang, biasanya ya harus pintar ngerayu, bisa dibilang lebih ke suka sama suka, meskipun tetap ada tarifnya," kata Tama pria yang kerap menikmati hingar bingar dunia malam di Argorejo.

 Baca Juga: Kapan Malam 1 Suro 2025? Ini Tanggal dan Maknanya dalam Budaya Jawa

Karena memang dilarang ada aktivitas 'jual beli', ujar pria asli Gajahmungkur Semarang ini, sangat susah jika harus menemukan LC Nyambi.

Namun Pratama mengaku, pernah beberapa kali menemukan, meskipun kebanyakan itu dilakukan setelah selesai nyanyi.

"Ngerayu pas di room, ibarat kita merayu cewek, ya harus ada effort. Ada yang mau, tapi biasanya diluar, karena didalam pasti takut ketahuan, jadi ya cuma tahu sama tahu saja," bebernya.

Biasanya, LC yang nyambi sedang kekurangan uang. Tarifnya sekitar Rp 300 ribu, tapi tidak bisa dipukul rata.

Ada LC juga yang sreg atau suka dengan tamunya, sehingga bisa diajak keluar, karena dianggap sebagai pacar.

"Ya bejo-bejonan, deal ya berangkat keluar. Bisa dibilang nggak transaksional, lebih ke nyangoni. Karena kalau ketahuan pemilik wisma tentu jadi masalah, dan bisa dikeluarkan," tambahnya.

Setiap wisma, sari informasi yang ada memiliki sedikitnya tiga sampai tujuh wanita pemandu lagu alias LC.

Konon total LC mencapai 300 lebih, dimana mereka yang keluar maupun masuk ke Argorejo harus sepengetahuan dan melalui pendataan dari pengurus paguyuban.

Sekretaris Dinsos Kota Semarang, dr. Mada Gautama menambahkan, pada tahun 2019 lalu pekerja seks komersial (PSK) yang dipulangkan Pemkot ke daerahnya berjumlah 484 orang.

"Sudah dipulangkan, harapannya tentu sudah bersih dari prostitusi, tidak seperti dulu," jelasnya.

Pemkot kata dia, juga masih memberikan bantuan program keluarga harapan (PKH) ke warga asli yang tinggal di kawasan tersebut.

Pengelola lanjut dia, juga bisa mengajukan bantuan untuk pelatihan dan lainnya kepada Pemkot.

 "Pengelola bisa mengajukan ke kelurahan ataupun Dinsos untuk pelatihan warga yang ada disana," bebernya. (tim)

 

 

Editor : Baskoro Septiadi
#semarang #SK #SUNAN KUNING