RADARSEMARANG.ID, SEMARANG - Sirkuit Mijen kondisinya memprihatinkan. Mangkrak.
Sejak diresmikan pada 2018, sirkuit yang menelan anggaran Rp 135 miliar ini hanya dipakai beberapa kali event saja.
Pantauan di lapangan, kondisi lintasan sudah tidak terawat, termasuk tribun dan fasilitas lain.
Banyak ditumbuhi tanaman liar. Bahkan secara keseluruhan terlihat kumuh.
Padahal dari sisi lokasi, Sirkuit yang memiliki lahan seluas 5,1 kilometer ini cukup strategis, berada di pinggir jalan utama Mijen-Cangkiran.
Selain itu, punya view yang indah. Meski terkesan tidak terawatt.
Kawasn sirkuti kerap dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk arena jogging atau berolahraga saat pagi.
Arena trek sepanjang 2,7 kilometer dinilai ideal bagi masyarakat dalam aktivitas berolahraga terutama lari, jalan santai, atau bersepeda.
Sayangnya pengunjung merasa terganggu dengan suasana kumuh dan tak terawat. Banyak belukar di setiap sudut.
"Sayangnya kondisinya terkesan tidak terawat, padahal view-nya bagus, bisa terlihat gunung Ungaran, Merbabu dan Sindoro," kata Dian Eka, warga Jatisari, Senin (16/6).
Tidak hanya belukar, sampah yang berserakan di pinggir lintasan menambahkan areal semakin kumuh.
Belum lagi sampah di tribun penonton. Lampu penerangan juga banyak yang pecah, tak terawat.
"Kondisinya terlihat kumuh, banyak sampah yang berserakan, harusnya bisa dibersihkan setelah event," keluhnya.
Narso warga lain juga mengeluhkan kondisi sirkuit Mijen yang terkesan tidak terawat.
Pria yang hobi bersepeda ini menyebutkan ada beberapa titik kondisi aspal yang mulai terkelupas.
Baca Juga: Mohammad Saleh: MOU Ekspor Listrik dari Energi Hijau Merupakan Langkah Cerdas Pemerintah RI
Selain itu juga ada bekas ban yang berserakan, serta kondisi rumput yang terlalu panjang membuat kesan sirkuit ini kumuh.
"Ban-ban bekas bumper berserakan sangat mengganggu pemandangan," tandasnya. (den/zal)
Editor : Tasropi