Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Cerita Suka Duka Debt Collector di Semarang, Tak Bisa Asal-asalan DC Juga Butuh Skill, Utamakan Negosiasi Demi Keselamatan

Muhammad Hariyanto • Minggu, 15 Juni 2025 | 18:28 WIB

 

Ilustrasi debt collector.
Ilustrasi debt collector.
 

RADARSEMARANG.ID - Melakoni kerja sebagai debt collector alias DC bukan merupakan hal yang mudah. Apalagi pekerjaan lapangan ini juga banyak tantangan, bahkan nyawa taruhannya.

Sehingga harus pintar-pintar bernegosiasi untuk menghindari bentrokan fisik demi keselamatan.

Pekerjaan sebagai DC ini pernah dilakoni pria bernama Dema, warga Kota Semarang. Ia mengaku, pekerjaan sebagai DC identik di lapangan dan banyak tantangan.

 Baca Juga: Pesan Maia Estianty dalam Sungkeman Penuh Air Mata, Tangis Al Ghazali Pecah Saat Bersimpuh di Hadapan Bunda Maia

“Ya, memang pekerjaan DC itu kalau gak hati-hati juga ya imbasnya pada diri sendiri. Dalam arti sudah ada kejadian-kejadian, seperti bentrok fisik dengan pemilik atau nasabah, bahkan sama masyarakat lainnya,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Pekerjaan ini dilakoni Dema selama dua tahun. Ia mulai melakoni pekerjaan ini setelah keluar dari perusahan penjualan mobil di Kota Semarang pada 2010.

Sebab, kontrak kerjanya tidak diperpanjang lantaran tidak memenuhi target penjualan kendaraan roda empat.

“Di situ saya marketing, sebulan harus ada penjualan 2-3 unit mobil. Aku hanya bisa mencapai 1 unit mobil. Terus dari pusat, saya tidak diperpanjang karena tidak mencapai target,” jelasnya.

Meski demikian, Dema tak putus asa. Ia memutar otak mencari pekerjaan lain demi mendapat penghasilan untuk kebutuhan hidup.

Beberapa bulan kemudian, melamar pekerjaan dengan skill yang sama di perusahaan penjualan kendaraan roda dua di Kota Semarang.

 Baca Juga: Lee Byung Hun Mengaku Perasaan Campur Aduk Menjelang Penayangan Squid Game Season Akhir

“Dapatlah pekerjaan di leasing. Di situ aku melamarnya marketing, ternyata di situ adanya collector. Pada waktu itu aku ditetapkan di debt collector yang menangani tunggakan enam bulan ke atas, motor. Telat dua bulan itu warning, mulai penarikan itu telat 3 kali sampai empat kali itu sudah mulai penarikan,” bebernya.

Dema mengaku, melakoni pekerjaan DC dibekali Surat Keterangan Penarikan (SKP) ataupun Berita Acara Surat Tarik, yang dikeluarkan secara resmi dari leasing perusahaannya bekerja.

Surat resmi ini selalu dibawa ketika menjalankan tugas penarikan kendaraan yang kredit macet batas maksimal. 

“SKP atau BST itu resmi dari kantor, perusahaan leasing. DC-nya juga resmi. Surat itu kalau hilang, suruh ganti oleh perusahaan dengan nominal. Alhamdulillah tidak pernah hilang,” jelasnya.

Selain membawa surat tersebut, ia juga membawa data nasabah yang menjadi target penarikan.

Meski telah berhasil mendatangi lokasi rumah pembeli sesuai namanya, namun terkadang tak membuahkan hasil.

 “Tapi kebanyakan motor itu sudah tidak ada, sudah dilempar ke orang lain. Jadi ya ketemu pembeli atas nama, tapi aslinya yang beli orang lain,” katanya.

 Baca Juga: Foto Lawas Al, El, Dul Bareng Ahmad Dhani dan Maia Estianty Jadi Sorotan di Unggahan Story Al Ghazali

“Ya kita cari, kita kejar cari sampai luar kota. Pernah di Boyolali, Salatiga. Tapi sampai sana bilang sudah saya lempar ke sana posisinya di sana (kota lain), dilempar juga,” sambungnya.

Diakuinya juga, penarikan kendaraan ini dilakukan di jalan dengan melacak melalui pelat nomor kendaraan.

Namun penarikan juga dilakukan di rumah nasabah yang bersangkutan. Penarikan juga tidak dilakukan sendirian, melainkan didampingi rekan timnya. 

“Ya ada suka dukanya. Sukanya kita dapat insentif, bonus, dari kantor, dapat penilaian bagus. Kita juga punya keluarga. Kalau mengandalkan gaji pokok saja kan ya pas-pasan. Kedua, kita orang lapangan pasti banyak kenalan dengan orang lapangan dari leasing lain. Bisa saling tukar informasi,” bebernya.

Menurutnya, penarikan target di atas enam bulan dirasa susah. Namun, Dema harus bisa memenuhi target penarikan dari perusahaan.

Selain suka, ada rintangan dan tantangan keras yang kerap dilaluinya dengan nasabah. Menurutnya, paling aman untuk keselamatan adalah bernegosiasi.

 Baca Juga: Alyssa Daguise Hadiahkan Souvenir Dyson Airstrait Senilai 7,7 Juta untuk Sahabatnya di Bridal Brunch

“Kan kadang ada yang sampai bentrok dengan nasabah. Kalau dulu aku paling cuma adu mulut, ya sering. Jadi kita harus bisa melihat situasi dan karakter orangnya. Ketika penarikan ya itu, ada yang memaklumi dia salah, motor dikasihkan juga ada. Tapi ada juga yang sampai adu mulut,” katanya.

“Kalau di rumah kita negosiasi juga, tidak asal narik. Kita juga cari aman, karena nyawa taruhannya. Apalagi kalau narik nasabah yang daerah rawan,” lanjutnya.

Diakuinya, penarikan paling membahayakan adalah di wilayah rawan atau daerah pinggiran. Dema mengakui, pernah dihalangi warga ketika menarik kendaraan yang nunggak. Pernah juga diancam menggunakan sajam dengan nasabah. 

“Pernah narik dibawakan senjata tajam, nek kowe narik iki mas, rak selamat nek ndalan. Tapi nek kowe apik-apik, iso dirembuk bareng. Nah itu juga baik, jadi ada negosiasi, kita juga kasih kesempatan untuk pembayaran tunggakan. Ya kita sampaikan ke perusahan untuk laporan,” bebernya. Pekerjaan tersebut hanya berlangsung dua tahun sebelum akhirnya Dema pindah di perusahan lain.

Ia mengingatkan kepada masyarakat untuk juga bertanggung jawab atas yang diajukan kredit kendaraan.

 “Kepada pembeli atau nasabah? Ya intinya untuk pembeli itu atau nasabah itu jangan sampai dibuat atas nama. Itu khawatirnya yang pinjam gak bayar, tapi yang disalahkan yang atas namanya pembelinya. Itu kan juga blacklist. Jadi nasabah harus hati-hati,” katanya.

“Kepada kawan-kawan DC kalau nagih juga jangan keras-keras, kalau masih bisa dinego ya dinego, itu karena juga berimbas pada hukum. Kan ada undang-undang juga terkait penarikan, tidak asal kita narik,” jelasnya. (mha/ton)

 

Editor : Baskoro Septiadi
#semarang #dc #debt collector #Pekerjaan