RADARSEMARANG.ID - Di gang-gang sempit Kampung Bustaman Semarang, aroma khas Idul Adha masih terasa.
Asap tipis mengepul dari tungku sederhana, suara obrolan warga berbaur dengan decak pisau di atas kayu pemotong.
Di sinilah, di jantung Kawasan Kelurahan Purwodinatan, Semarang Tengah, sebuah tradisi turun-temurun tetap hidup.
Warga membersihkan kepala kambing dan sapi dengan cara warisan leluhur. Kampung ini juga terkenal sebagai bengkel kepala.
Ketua RW 3 Kelurahan Purwodinatan Azhar mengenang masa kecilnya ketika kegiatan ini menjadi pusat perhatian warga setiap menjelang hari raya kurban. Kini, meski geliatnya tak semeriah dulu, warisan itu tetap dijaga.
“Yang tetap itu dua keluarga. Tapi karena musiman, bisa sampai delapan keluarga yang terlibat. Satu keluarga bisa dibantu tujuh sampai delapan orang,” ujarnya.
Meski kini banyak cara instan bertebaran di media sosial, banyak warga Kota Semarang tetap menjatuhkan pilihan mereka ke Bustaman. “Orang datang karena di sini lebih bersih, lebih cepat, dan tahu tekniknya,” kata Azhar.
Sri Purwanti, 43, duduk di depan rumahnya yang berubah menjadi bengkel kepala kambing. Tangan-tangannya lincah mengolah bulu dan kulit, sementara di sekelilingnya beberapa anggota keluarga ikut membantu. “Tahun kemarin ramai sekali. Sekarang agak menurun,” ucapnya lirih.
Menurut Sri, harga jasa pembersihan kepala sapi kini Rp 450 ribu, sedangkan kepala kambing berkisar antara Rp 75 ribu hingga Rp 100 ribu, tergantung ukuran.
Meski tak seramai dulu, ia tetap menjalani ritual ini dengan penuh dedikasi. “Sudah jadi bagian hidup. Dari pagi sampai sore, ya kerjaan ini,” katanya.
Rizal, pria asli Bustaman mengaku sudah menekuni pekerjaan ini sejak awal tahun 2000.
Dalam dua hari saat Idul Adha, Rizal membersihkan sekitar 20 kepala kambing dan lima kepala sapi. “Yang hitam itu bulunya susah. Tapi yang biasa, gampang,” katanya sambil tersenyum.
Tak hanya membersihkan kepala, konsumen juga bisa meminta untuk dimasakkan. Kepala kambing atau sapi bisa diubah menjadi sajian yang nikmat seperti sate, gule, tengkleng, tongseng dan lainnya.
Lebih dari sekadar jasa, apa yang terjadi di Bustaman bukan sekadar usaha jasa menjelang Idul Adha.
Ini adalah etalase dari budaya lokal yang masih bertahan di tengah derasnya modernisasi. (fgr/ton)
Editor : Baskoro Septiadi