Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Monyet Gua Kreo Semarang Serbu Sesaji Rewanda, Warga Berebut Gunungan Sego Kethek

Ida Fadilah • Sabtu, 12 April 2025 | 23:26 WIB
Warga berebut gunungan Sego Kethek, monyet ekor panjang Gua Kreo Semarang menyerbu gunungan buah dan sayur. (Baskoro Septiadi/Jawa Pos Radar Semarang)
Warga berebut gunungan Sego Kethek, monyet ekor panjang Gua Kreo Semarang menyerbu gunungan buah dan sayur. (Baskoro Septiadi/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Semarang  - Tradisi Sesaji Rewanda Gua Kreo Semarang di Desa Kandri, Kecamatan Gunung Pati, Kembali digelar secara meriah, Sabtu (12/4/2025).

Perayaan ritual ini mengundang daya tarik wisatawan Kota Semarang. Masyarakat berbondong-bondong menyaksikan tradisi yang diselenggarakan setahun sekali ini. 

Tradisi Sesaji Rewanda dimulai dari kirab. Rutenya dari masjid menuju arah Gua Kreo.

Arak-arakan itu berupa hasil bumi seperti buah-buahan terdiri dari pisang, nanas, tomat, salak, belimbing, dan lainnya. Ada pula biji-bijian dan umbi-umbian.

Bahkan, karena masih bulan Syawal ada gunungan berisi ketupat dan lepet.

Tak lupa, gunungan Sego Kethek (nasi monyet) menjadi sajian wajib dalam tradisi ini. Semuanya dibentuk gunungan yang dipikul warga sekitar. 

Yang tak kalah menarik, ada replika kayu jati besar yang dipikul beberapa orang yang memeragakan sebagai santri.

Rombongan itu dipimpin Sunan Kalijaga bernama Raden Mas Said.

Pertunjukan itu untuk menggambarkan cerita Sunan Kalijaga yang tengah berjuang mencari kayu jati untuk membangun Masjid Agung Demak.

Dalam arak-arakan itu diiringi kera berwarna merah, putih, hitam dan kuning yang menggambarkan Sunan Kalijaga membawa kayu jati ke Demak itu dibantu oleh kera-kera Gua Kreo.

Lantas, para kera itu diperintahkan oleh Sunan Kalijaga untuk menjaga alam di wilayah tersebut.

Dalam arak-arakan tersebut, melibatkan ribuan warga dari RW 1 sampai RW 4 di Desa Kandri, Kecamatan Gunungpati Kota Semarang. Ditambah masyarakat sekitar yang turut hadir. 

Pada dasarnya, secara adatnya tradisi Sesaji Rewanda dilaksanakan pada H+3 Lebaran Idul Fitri.

Namun karena ini suatu budaya yang unik dan bisa narik wisatawan, sehingga Pemerintah Kota membuat atraksi budaya yang bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat.

Saat yang paling ditunggu-tunggu adalah ketika gunungan-gunungan itu menjadi rebutan warga dan monyet yang menghuni Gua Kreo.

Bukan sekedar adat, rebutan ini untuk mendapatkan berkah dari hasil bumi yang telah didoakan. 

Hadir secara langsung di Gua Kreo, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng. Ia mengatakan pelaksanaan tradisi ini cukup meriah, namun menurutnya masih ada potensi di upgrade dengan berbagai macam tambahan. 

"Ada beberapa hal yang kami harus mendorong untuk memasarkannnya. Ini sudah tradisi masyarakat dan menurut saya ini dianggap sebagai blessing," tuturnya. 

Tradisi ini, lanjut Agustina, ada bagian yang tidak dibiayai oleh pemerintah namun dilakukan warga secara bergotong royong.

Hal ini menunjukkan Desa Kandri bisa yang sudah terkenal ini berpotensi semakin menggeliat.

Maka, pihaknya akan mengembangkannya lagi menjadi lebih modern.

Di antaranya menggandeng Anggota Komisi VII bidang pariwisata, Samuel Wattimena. Pada acara ini perancang busana ini juga turut hadir. 

"Memang ada kaitan erat antara pariwisata dan budaya. Dan yang paling stain adalah pariwisata yang memasukan unsur budaya di dalamnya. Saya minta, kepada pak samuel watimena untuk mendesain kostum dalam acara tradisi di Goa Kreo ini," katanya. 

Menanggapi hal itu, Samuel menyatakan sepakat dengan rencana Wali Kota Semarang. 

"Seperti yang bu Agustin tadi sampaikan, potensinya besar tapi masih ada yang harus ditingkatkan. Karena story telling jadi bagian yang penting dalam sebuah acara kebudayaan," jelasnya. 

Ditanya apakah ada rencana mengadakan fashion show, Samuel mengaku tertarik.

Ia pun membeberkan akan mencocokkan busana budaya yang apik. 

"Kostum yang dipakai berikan asupan yang lebih soal Semarang mulai batiknya, kompisisinya. Itu yang akan saya lakukan dan libatkan perancang busana lokal," bebernya. 

Sebagai dewan yang bermitra dengan pariwisata, UMKM, ekonomi kreatif dan perindustrian kreatif, tradisi ini sangat cocok dengan program kebudayaan di desa wisata. 

"Usulan saya di desa wisata mengenalkan masyarakat setempat fokusnya sudah nasional dan internasional. Sekarang kan mayoritas yang hadir orang jawa. Tapi kalo internasional perlu ada terjemahannya. Supaya lokal wisdom ini bisa disiarkan lebih luas," jelasnya. 

Ia pun menyarankan untuk desa wisata apa bisa melengkapi data. Pasalnya, untuk menjadi bagian kementerian, sifatnya harus bottom up. Menjalankannya memerlukan penguatan konsep dengan pemerintah setempat. 

Salah seorang wisatawan asal Semarang Barat Siti Fitri Astuti mengatakan terkesan dengan tradisi ini. Sebagai warga Kota Semarang ia baru pertama berebut Sego Kethek, pasalnya dia juga baru pertama mengikuti Sesaji Rewanda ini.

Namun, meski tak berhasil mendapatkan sego khas Goa Kreo ini, namun ia berhasil membawa pulang buah-buahan hasil bumi. 

"Baru pertama kali ke sini bareng keluarga. Walaupun tidak dapat sego ketek, tapi dapat buah-buahan di gunungan," tandasnya. (ifa/bas)

Editor : Baskoro Septiadi
#semarang #Sesaji rewanda #Gua Kreo