RADARSEMARANG.ID - Masyarakat Semarang merupakan masyarakat homogen yang terdiri dari berbagai macam latar kebudayaan yang hidup bersama sejak masa lalu.
Menjadikan ibukota Jawa Tengah ini kaya akan keberagaman budaya yang mampu menyihir siapapun terpesona untuk singgah dan menelisik lebih jauh ke seluruh penjuru kota.
Mulai dari kehidupan perkotaan yang gemerlap hingga wilayah-wilayah pinggiran yang memiliki kearifan lokal yang khas dan cukup tradisional.
Salah satunya adalah tradisi khas bernama Sesaji Rewanda yang dilakukan oleh masyarakat di wilayah sekitaran Goa Kreo di Kecamatan Gunung Pati, Kota Semarang.
Tradisi ini adalah bentuk dari rasa bersyukur sebagai sesama makhluk hidup yang sama-sama hidup saling berdampingan dan menjaga satu sama lain.
Warga dari dusun Talun Kacang, Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunung Pati memulai kegiatan sejak pagi pukul 07.00 dengan membawa bungkusan makanan bernama sego kethek.
Sego kethek sendiri memiliki arti secara harafiah yakni Nasi Monyet, merujuk pada lokasi Wisata Goa Kreo yang memang dipenuhi oleh monyet berekor panjang (Macaca Fascicularsis).
Makanan ini berisi sayur mayur, oseng daun pepaya, tahu tempe bacem, bermacam ikan asin dan telur dadar dan dibungkus dengan daun jati maupun daun pisang.
Adapula gunungan buatan warga yang diisi dengan hasil bumi, berupa buah-buahan yang disusun menumpuk keatas, seperti pisang, nanas, belimbing, jeruk dan apel.
Menurut keterangan Masduki saat diwawancarai oleh Tim Radar Semarang, pengelola Desa Wisata Kandri tersebut menjelaskan bahwa gunungan-gunungan hasil bumi ini memang diperuntukkan bagi monyet-monyet yang ada di kawasan.
Berbagai jenis makanan ini akan diarak sepanjang 2,5 kilometer hingga puncak Goa Kreo. Melihat hal tersebut para monyet akan mengikuti dengan antusias aktivitas arak-arakan yang dilakukan oleh para warga.
Tradisi ini diakhiri dengan acara makan bersama, bagi para masyarakat bersama-sama akan memakan Sego Kethek yang telah disiapkan.
Baca Juga: Sejarah Gunungpati, Kecamatan Terbesar di Semarang Yang Luasnya Melebihi Kota Salatiga dan Solo
Sedangkan gunungan hasil bumi menjadi jatah para monyet penghuni Goa Kreo yang diletakkan di Watu Tetenger, konon menjadi tempat bertapa bagi Sunan Kalijaga dahulu.
Selain itu ada juga beberapa penampilan menarik dari Tari Bambu Kerincing, Tari Wanara Parisuko dan juga Prosesi Ngalap Berkah yang telah dikonfirmasi Pemkot Semarang.
Untuk perayaan tradisi Sesaji Ruwanda tahun ini akan diselenggarakan di Kompleks Goa Kreo pada hari Sabtu 12 April 2025 dari jam 07.00 WIB hingga selesai.
Tradisi ini sendiri konon lekat dengan kisah perjalanan Sunan Kalijaga dan pembangunan Masjid Agung Demak yang dibantu oleh para monyet berekor panjang yang kini ditugaskan menjaga dan bertempat tinggal di Goa Kreo Semarang.
Source: Pemkot Semarang, Pariwisata Semarang Kota, Radar Semarang
Editor : Baskoro Septiadi