Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Mengikuti Tradisi Riyoyonan saat Lebaran di Kampung Kentangan Semarang, Selain Makan Bersama, Warga Juga Memberikan Uang yang Dibungkus Daun Pisang

Figur Ronggo Wassalim • Rabu, 2 April 2025 | 18:43 WIB

Tradisi Riyoyonan di Kampung Kentangan Semarang yang sudah bertahan puluhan tahun. FIGUR RONGGO WASSALIM/JAWA POS RADAR SEMARANG
Tradisi Riyoyonan di Kampung Kentangan Semarang yang sudah bertahan puluhan tahun. FIGUR RONGGO WASSALIM/JAWA POS RADAR SEMARANG
 

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Kampung Kentangan Semarang yang berlokasi di Jalan MT Haryono punya tradisi khusus pada Lebaran yang bernama Riyoyonan.

Tradisi Riyoyonan oleh Kampung Kentangan Semarang ini dilakukan setelah sholat Idul Fitri.

Warsini, 65, sesepuh Kampung Kentangan Semarang menuturkan jika tradisi ini sudah dilakukan sejak puluhan tahun silam.

"Sejak saya usia satu tahun sudah ada. Bahkan sejak orang tua saya," katanya, Senin (31/3).

Warsini menambahkan, Riyoyonan di kampungnya adalah tradisi makan-makan bersama setelah sholat Id.

Makan-makannya dilakukan dengan cara lesehan dan menyantap berbagai makanan khas Lebaran seperti kupat opor dan sambal goreng, ketan, lalu juga ada nasi gudangan.

Semua masakan itu dihidangkan dengan swadaya masing-masing rumah warga.

"Jadi setiap warga bawa makanan sendiri-sendiri. Dan itu sukarela," katanya.

Warsini menambahkan, tradisi Riyoyonan itu juga sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.

Selain itu, bentuk syukur warga Kampung Kentangan juga memberikan sumbangan berupa uang yang dibungkus dengan daun pisang.

Bungkusan uang itu lalu diselipkan di bawah nasi gudangan dan berbagai makanan lain.

"Uang itu nanti untuk disumbangkan ke masjid sebagai sodaqoh," sambungnya.

Lebih lanjut Warsini menuturkan jika tradisi ini sudah berbeda seperti zaman dahulu.

Dahulu jumlah warga yang berpartisipasi masih banyak. Pasalnya di saat Warsini muda dulu, para penghuni Kampung Kentangan masih warga asli.

"Namun lambat laun sudah pada pindah. Sekarang tinggal dikit," katanya.

Secara singkat, Warsini juga menjelaskan kenapa kampungnya bisa disebut "Kentangan".

Di masa lampau, berdasarkan keterangan para sesepuh, Kampung Kentangan adalah pasar.

Ketika siang hari, pasar itu cukup panas yang cukup terik. Di tengah panas terik itu, warga lokal menyebutnya dengan "kentang".

"Dadi panase kentang-kentang dan jadinya kentangan," sambungnya.

Lantas saat kepanasan itu, warga mendatangi sumur yang berada di Kampung Kentangan.

"Sumur itu sudah tua. Mungkin usianya sama dengan kampung ini," katanya.

Sementara dari warga lain yakni Deva juga sangat mendukung tradisi ini terus dilakukan.

Kendati warga kampungnya tidak sebanyak dulu, namun dia sebagai penerus wajib melestarikan.

"Ini untuk memupuk kebersamaan warga. Dan tidak hanya warga muslim saja, non Islam juga sengkuyung bersama," ungkap Deva. (fgr/bas)

Editor : Baskoro Septiadi
#kentang #IDUL FITRI #lebaran