RADARSEMARANG.ID - Terkenal dengan citarasa gurih manis yang begitu melegenda, Wingko Babat lebih dikenal sebagai jajanan khas Kota Semarang.
Makanan ini kerap digunakan sebagai oleh-oleh bagi orang yang hendak bepergian ke kota lain maupun yang baru pulang dari Semarang.
Di Kota Atlas ini kita bisa dengan mudah menemukan makanan khas tersebut dijajakan oleh para penjual baik kaki lima hingga yang ada di pusat perbelanjaan.
Rasanya yang begitu nikmat cocok dimakan langsung sebagai camilan dan cocok pula menjadi pendamping untuk minuman hangat seperti kopi untuk menemani anda bersantai.
Namun, meskipun jajanan ini identik dengan Kota Semarang, ternyata asal-usul sejarah pembuatan awal makanan ini bukanlah dari kota ini.
Lalu, darimanakah sejarah Wingko Babat awal mulanya dibuat? dan kenapa makanan ini justru sekarang sangat terkenal di Semarang? berikut penjelasannya.
Sejarah Wingko Babat
Secara etnografis, penamaan makanan ini menjadi clue yang sangat jelas tentang asal muasal perkembangan kudapan ini berasal.
Bukannya nama Semarang atau wilayah-wilayah lain disekitat Semarang namun Babad, perlu digarisbawahi kata Babad disini bukan mengacu pada bagian tubuh sapi atau kambing; Babat.
Melainkan sebuah daerah bernama Babad yang dahulu berada di dekat Kota Tuban, Jawa Timur. Namun kini telah beralih menjadi salah satu kecamatan dalam wilayah Kabupaten Lamongan.
Wingko atau kue tradisional ini akhirnya diberi nama Wingko Babad, mengacu pada daerah awal penyebaran jajanan tradisional ini, bahkan Pemerintah Kabupaten Lamongan juga telah mengakui bahwa makanan ini adalah khas resmi dari Lamongan.
Baca Juga: Mengenal Beraneka Ragam Makanan Asal Jawa Tengah
Klaim yang sama juga diaturkan oleh masyarakat dan Pemerintah Kota Semarang yang juga mengakui bahwa makanan ini menjadi ciri khas dan makanan tradisional yang telah lama ada dalam kebudayaan masyarakat Semarang.
Lalu bagaimana Wingko Babad yang dahulu ada di Lamongan bisa menyebar dan pada akhirnya menjadi besar di Kota Semarang?.
Awalnya, penyebaran ini bermula dari kepindahan sepasang suami-istri keturunan Tionghoa dari Babad menuju Kota Semarang untuk memulai kehidupan yang lebih baik serta terhindar dari carut marut Perang Dunia Kedua yang sedang berlangsung.
Di kota ini, sang istri Loe Lan Hwa mencari peruntungan dengan menjual Wingko Babad yang belum ada di Semarang dibantu oleh sang suami, The Ek Tjong.
Pada tahun 1946, bisnis tersebut makin berkembang menjadi lebih besar, tak disangka warga Semarang menyukai kue tradisional yang berasal dari Babad, Lamongan ini.
Untuk menamai jajanan ini yang selalu ditanyakan oleh para pembeli, akhirnya Loe Lan Hwa menamainya dengan Wingko Babad, kue yang juga menjadi kenangan serta identitas diri terhadap wilayah desa kelahirannya tersebut.
Source: Universitas Airlangga, Universitas Negeri Semarang
Editor : Baskoro Septiadi