Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Mengenal Sejarah Dugderan di Kota Semarang, Tradisi Sambut Bulan Ramadan

Deka Yusuf Afandi • Kamis, 27 Februari 2025 | 17:49 WIB

 

Dugderan di Balaikota Semarang
Dugderan di Balaikota Semarang


RADARSEMARANG.ID – Perayaan dugderan merupakan agenda tahunan yang sering diselenggarakan di Kota Semarang. Biasanya, perayaan ini menyambut bulan Ramadan.

Tradisi dugderan sendiri merupakan sebuah warisan budaya yang telah berlangsung lebih dari satu abad dan sebuah ciri khas di Kota lumpia ini.

Berdasarkan dari penelusuran, kata 'dugder' dalam tradisi Dugderan diambil dari perpaduan bunyi bedug 'dug dug' dan bunyi meriam yang mengikutinya, yaitu 'der'.

Karena itulah upacara penyambutan bulan suci Ramadan tersebut disebut dengan nama Dugderan atau Dhug Der.

Terlebih dalam peryaan dugderan ini pun juga memadukan antara budaya dan agama di Kota Semarang.

Dalam Sejarah Dugderan sendiri bermula dari tahun 1881 ketika itu di masa kepemimpinan Bupati Semarang, Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat.

Nah, saat itu, Masyarakat belum memiliki cara yang efektif untuk mengetahui awal Ramadan.

Sebagai solusi, Bupati Semarang menciptakan sebuah pengumuman yang menandai awalmula Ramadan.

Yakni setelah bedug Masjid Agung dan meriam bambu di halaman kabupaten dibunyikan masing-masing sebanyak tiga kali.

Sebelum membunyikan bedug dan meriam, akan diadakan upacara di halaman kabupaten terlebih dahulu.

Sejak saat itu, umat islam di Semarang tidak lagi berbeda pendapat dan menjadikannya sebagai budaya lokal setempat.

Tentu, dalam perayaan tradisi Dugderan dimulai dengan pemukulan bedug dan ditutup dengan perayaan letusan mercon dan kembang api

Sedangkan, untuk makna bedug dalam tradisi Dugderan digunakan sebagai penanda telah masuk bulan puasa.

Sementara itu, suara letusan mercon, dan kembang api bermakna sebagai kebahagiaan di akhir bulan puasa dan datangnya Idul Fitri.

Bahkan hingga sekarang, perayaan Dugderan masih dilakukan untuk melestarikan budaya di Masyarakat Kota Semarang.

Salah satunya dengan mengadakan pawai budaya serta pasar rakyat yang menjajakan berbagai kerajinan, permainan tradisional, dan kebutuhan Ramadhan.

Mengenal Ikon Dugderan, Warak Ngendok

Salah satu ikon Dugderan yang terkenal yaitu Warak Ngendog, yang merupakan simbol akulturasi budaya yang merepresentasikan harmoni masyarakat Semarang.

Warak Ngendog merupakan binatang rekaan bertubuh kambing, berkepala naga, dan bersisik yang terbuat dari kertas warna-warni. Binatang ini juga dilengkapi dengan telur rebus yang disebut sebagai 'endog'.

Makna dari maskot Warak Ngendok ini adalah warak yang sedang bertelur. Hal ini mengisyaratkan masyarakat Semarang sedang mengalami krisis pangan dan telur sehingga pada masa itu makanan tersebut menjadi makanan mewah.

Usai, dilakukan perayaan Dugderan dan karnaval akan digelar halaqah tentang pengumuman awal dimulainya puasa dengan ditandai oleh pemukulan bedug.(dka)

 

Editor : Baskoro Septiadi
#Dugderan Semarang #Dugderan 2025 #Budaya Dugderan #Perayaan dugderan merupakan agenda tahunan #tradisi dugderan #Kirab Budaya Dugderan #Dugderan adalah #Begini Sejarah Tradisi Dugderan di Kota Semarang #Sejarah Dugderan