RADARSEMARANG.ID, Semarang - Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang, tetap akan melakukan prosesi dugderan untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.
Namun pada tahun ini, prosesi akan dilakukan lebih sederhana, sesuai arahan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 tentang efisiensi anggaran.
Adapun prosesi, rencananya hanya dilakukan satu sesi pada Jumat (28/2) mendatang.
Tahun sebelumnya, prosesi dilakukan dua sesi, yakni dugderan anak dan kirab budaya prosesi dugderan di Balai Kota, Masjid Agung Semarang dan Masjid Agung Jawa Tengah.
“Tahun ini ada efisiensi, sehingga dilakukan hanya satu sesi. Tahun sebelumnya ada dugderan anak-anak di Simpang Lima, nah ini kita jadikan satu,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, R Wing Wiyarso, Jumat (14/2).
Adapun Disbudpar tetap melakukan prosesi dugderan dengan tujuan mempertahankan tradisi tahunan dari era Kanjeng Adipati Purbo Aryodiningrat, sebagai bentuk akulutarsi budaya di Semarang.
Selain itu juga sebagai bentuk pengenalan Wali Kota dan Wakil Wali Kota baru kepada warga.
Pada tahun ini, lanjut Wing, tema yang diangkata dalah Bhineka Tunggal Budaya dalam Harmoni Dugder 2025.
“Tema ini membuktikan Kota Semarang memiliki realitas sebagai kota yang memiliki toleransi, memiliki akulturasi budaya yang sangat menghargai sesama, khususnya dalam menyambut Bulan Suci Ramadhan,” ujarnya.
Rancana awal, prosesi dugeran berlangsung pada tanggal Kamis (27/2) H-2 Ramadhan.
Namun karena setelah pelantikan di Istana Presiden, bakal dilanjut pembelakalan di Magelang mulai 21-28 Februari akhirnya diputuskan diselenggarakan pada 28 Februari mendatang.
“Jadwal ini sudah kita koordinasikan dengan pengurus Masjid Agung Semarang, Masjid Agung Jawa Tengah dan Pemprov.” tambahnya.
Dia menjelaskan prosesi Dugderan tetap akan berjalan sebagaimana semestinya selama ini, tetap ada kirab budaya, dengan arak arakan dari Balai Kota Semarang.
Nantinya Wali Kota terpilih, Agustina Wilujeng akan didapuk sebagai Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Purbodiningrum, sebagai Adipati Kota Semarang akan memimpin upacara.
Prosesi berlanjut dengan pemukulan bedug sebagai tanda mulainya pawai arak-arakan peserta Dugder, ke Masjid Agung Semarang dengan menggunakan kereta kencana.
“Nanti ada prajurit Patang Puluhan, termasuk prajurit berkudo yang mengawali proses kirab budaya ini. Rombongan ibu Wali Kota dan pak Wakil Wali Kota, akan menggunakan kereta kencana,” bebernya.
Dalam kirab, juga akan dimeriahkan oleh berbagai komunitas seperti komunitas Tay Kak Sie, lintas etnis, termasuk perempuan berkebaya. Ada pula Ormas seperti NU, Muhammadiyah yang makin memeriahkan acara.
“Anak-anak akan melakukan flashmob di Halaman Balai Kota, jumlahnya sekitar 4 ribu anak setelah dilakukan pemukulan bedug,” katanya.
Setelah flashmob, lanjut Wing, anak-anak akan ikut pawai namun di barisan terakhir. Karena mereka tidak akan ikut arak-arakan sampai titik akhir dan hanya berhenti di depan Paragon.
Sementara rombongan akan melanjutkan perjalanan ke Masjid Agung Semarang, untuk penyerahan suhuf kholaqoh.
“Penyerahan yang biasanya di serambi masjid akan kita lakukan di lapangan alun-alun. Acara dilanjut dengan pembacaan suhuf kholaqoh, pengumuman tentang tibanya bulan Ramadhan yang nantinya akan dibacakan oleh ibu Wali Kota. Kemudian pembagian dan rebutan roti ganjel rel,” peparnya.
Tak sampai disana, prosesi Dugderan akan berlanjut dengan bergeser melanjutkan prosesi ke Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) yang diterima oleh bapak Gubernur terpilih.
Disbudpar berencana akan mengajukan event tahunan ini ke pemerintah pusat dengan tujuan masuk ke agenda wisata di kementerian Kebudayaan.
“Nanti kementerian akan kita undang, karena merupakan kearifan lokal yang hanya ada di Semarang,” pungkasnya. (den/bas)
Editor : Baskoro Septiadi