Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Cerita Pelajar Korban Selamat Penembakan Polisi Aipda Robig di Semarang, Bantah Ada Tawuran sebelum Kejadian

Ida Fadilah • Selasa, 10 Desember 2024 | 00:10 WIB
Tersangka penembakan Gamma Rizkynata Oktavandy yaitu Aipda Robig Zainudin polisi anggota Polrestabes Semarang disidang Komisi Kode Etik Polri (KKEP). (Nur Chamim/Jawa Pos Radar Semarang)
Tersangka penembakan Gamma Rizkynata Oktavandy yaitu Aipda Robig Zainudin polisi anggota Polrestabes Semarang disidang Komisi Kode Etik Polri (KKEP). (Nur Chamim/Jawa Pos Radar Semarang)

RRADARSEMARANG.ID, Semarang - Korban penembakan polisi yang berhasil selamat, A, mengaku sangat terkejut ketika tiba-tiba ditembak Aipda Robig Zaenudin pada Minggu (24/11/2024) dinihari lalu.

Siswa kelas XII SMKN 4 Semarang ini tak menyangka sepulang dari nongkrong bersama teman-temannya mendapat musibah mengerikan seperti ini.

"Ya kaget itu, langsung nodong kok, kalau cuma turun di tengah masih mikir ah mungkin apa, (kalau ini, Red) langsung nodong," kata dia.

Ditemui usai tes di sekolahnya, A sempat menunjukkan bekas luka tembakan di dadanya. Terlihat luka itu di tutup perban.

Meski begitu, ia mengaku sudah sembuh dan melakukan aktivitas biasa termasuk sekolah.

A membeberkan kronologi yang ia ketahui. Ditanya apakah terjadi serempetan dengan polisi seperti yang sampaikan Kapolrestabes Semarang, A menegaskan tidak.

Menurutnya, jika terjadi serempetan dirinya semestinya juga jatuh.

"Saya posisi ketembak kan tangan satu, tangan satu kan mesti jatuh, ini nggak jatuh. Habis ketembak, dor, langsung lemes," ujarnya sembari memeragakan posisi menyetir.

Kala itu, ia berboncengan dengan S, korban penembakan yang juga selamat. Ia menceritakan, saat itu S sadar hanya saja tidak tahu jika pelurunya masuk, dikiranya hanya efek samping.

"Tapi saya sadar saya kena peluru, mikir, masuk apa nggak ya, masuk apa nggak ya. Satu peluru kan, nyerempet terus masuk ke S, mungkin S nyangkolong ke belakang di pundak," tambahnya.

A menjelaskan, malam itu ia memang nongkrong bersama teman-temannya di daerah Kalipancur, Kecamatan Ngaliyan atau tidak jauh dari TKP penembakan yang terjadi di depan Alfamart Candi Penataran.

Saat pulang usai makan, ia bersama rombongannya yang naik tiga sepeda motor masing-masing berboncengan, ketika melintas di daerah tersebut tiba-tiba ada orang yang menembak.

Yang semula mengendarai motor beriringan praktisi ngebut saat tahu ada yang menodongkan pistol.

"Ngga ada (peringatan, Red) langsung der, der, langsung aja. Itu saya lihatnya satu doang ke saya, nggak tau sebelumnya, tapi ternyata kok sudah ada tembakan sebelumnya," bebernya.

Mengenai kabar jika adik kelasnya yakni GRO meninggal, A pun baru mengetahui Minggu sore saat sedang jalan-jalan di Uptown Mall. Saat itu juga, ia diajak ketemuan oleh polisi untuk dimintai keterangan.

Berkaitan dengan tawuran, A menegaskan tidak ada. "Nggak, main di tongkrongan, nama tempatnya nggak tahu. Di sekitar situ (TKP penembakan, Red) juga. Awalnya mereka nongkrong di salah satu temannya, terus ke situ, saya nyusul," tambahnya.

Atas kejadian ini ia mengaku trauma. Lebih penting lagi, ia kini tidak boleh lagi keluar malam oleh orang tua. Mentok pukul 22.00 sudah sampai rumah.

Sementara itu, Kuasa Hukum A dan G, Zainal Petir menyatakan jika kliennya tidak sependapat dengan paparan Kapolrestabes Semarang jika ditembak karena membubarkan tawuran dan serempetan. Menurut keterangan yang ia peroleh, A kaget tiba-tiba di tembak.

Jika dikatakan penembakan yang dilakukan Aipda Robig Zaenudin karena terjadi perlawanan, faktanya nampak juga di CCTV tidak ada perlawanan.

"Kan nggak ada perlawanan, katanya melawan dengan diambil tindakan tegas itu karena melawan, nggak melawan. Wong kalau waktu itu dia menghindar saja kena tembus dada loh, masuk ke dalam, dia tahu ketika mau ditembak dia sampai menghindar jadi menghindar gini kayak gini, kena sini kesrempet. Kalau nggak menghindar bleng, tapi karena menghindari kayak gini malah menghindarnya takut. ketika menghindar harusnya kan takut nggak akan melawan kan, gitu logikanya," bebernya.

Kini, ia sedang mendampingi A dan keluarga almarhum GRO untuk mengungkapkan kasus ini hingga tuntas dan mendapatkan keadilan. (ifa/bas)

Editor : Baskoro Septiadi
#Aipda Robig Zainudin