RADARSEMARANG,ID- G30SPKI adalah salah satu contoh kebiadaban dari perang ideologi yang sedang digencarkan oleh segelintir orang-orang dengan mengatasnamakan pemikiran atas umat manusia yang setara.
Sebut saja berbagai pemberontakan orang-orang komunis terhadap republik ini, seperti Pemberontakan Madiun, Pembantaian Pesantren Takeran dan tentu saja Peristiwa G30SPKI.
Sebagai respons, pembalasan pun dilakukan secara serentak oleh orang-orang nasionalis dan kaum agamis. Mereka menganggap bertumbuh suburnya ideologi komunis membahayakan negara ini.
Di Jawa Tengah (sebagai basis orang-orang merah sebutan untuk para komunis dan sosialis pada jaman tersebut). Memiliki kisah panjang sejak awal disebarkan hingga hancurnya ideologi ini ditanah Nusantara.
Kota Semarang adalah kota kelahiran dari Sarekat Islam Merah yang dalam prosesnya akan menjadi cikal bakal bangkitnya Partai Komunis Indonesia, salah satu kekuatan terbesar komunisme pada era tersebut.
Salah satu sudut kotanya, di daerah Ngaliyan terdapat makam massal para korban pembantaian '65 yang telah diakui UNESCO sebagai salah satu situs kemanusiaan.
Makam massal ini adalah kawasan perhutanan yang cukup jauh dari ramainya perkotaan, sebelum menjelajah lebih jauh masuk kedalam hiruk pikuk kontradiksi pembantaian para yang terjadi di Hutan Plumbon, alangkah lebih baik untuk menggali informasi yang melatarbelakangi kejadian naas ini.
Pembantaian Simpatisan PKI di Plumbon Semarang
Paska G30SPKI meletus di Jakarta, pemerintah langsung diambil alih oleh pihak militer yang langsung mendapatkan izin untuk mengamankan kondisi dan stabilitas negara seperti sedia kala.
Berbekal surat Supersemar, RPKAD langsung menyisir daerah-daerah untuk menahan dan membersihkan anggota-anggota Partai Komunis Indonesia yang dinilai bersalah dalam G30SPKI.
Di Semarang sendiri, salah satu lokasi bersemayamnya para tapol (tahanan politik) dan para tertuduh mungkin yang terbesar ada di kawasan hutan Plumbon, Wonosari.
Makam tersebut hanya ditandai dengan batu-batu karena korban dikubur secara massal.
Sebuah tetenger mirip prasasti berdiri sekitar lima tahun silam, sebagai tanda rekonsiliasi.
Salah satu tokoh masyarakat di jaman tersebut yang tak luput dari sentimen anti-komunis adalah Soesetyo, seorang Wakil Bupati Kendal yang tergabung dalam kepengurusan Partai Komunis Indonesia.
Perlu diketahui, sebelum dimekarkan menjadi bagian dari Kota Semarang. Wilayah ini masuk ke dalam daerah administratif Kota Kendal.
Sedangkan tokoh yang lain adalah seseorang wanita yang dikenal merupakan bangsawan syar'i , ia bernama Moetiah. Seorang tenaga pengajar dan anggota Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) yang berafiliasi dengan PKI.
Diperkirakan ada sekitar 24 jenazah yang disemayamkan di makam massal ini, dengan 8 orang yang sudah diketahui namanya sedangkan sisanya masih misterius hingga kini.
Oleh CIPDH-UNESCO (The International Center for the Promotion of Human Rights) Hutan/Makam Plumbon Semarang dijadikan situs persekusi politik bersamaan dengan Kuburan Priaranza del Biero (Spanyol) serta ESMA di Argentina.
Berbeda dengan berbagai kota lain tentang urusan mengakui masa kelam Indonesia paska '65, masyarakat Kota Semarang berbesar hati dan mengizinkan rekonsiliasi serta pembangunan nisan bagi mereka-mereka yang (terlibat ataupun tidak) sudah dihilangkan nyawanya.
Pada tahun 2020 silam, bersama dengan berbagai elemen masyarakat seperti GMNI DPC Semarang, PMII Undip, IMM Ibnu Sina Undip, Exsara, RBSS, Komunitas Payung, dan sebagainya melakukan penisanan makam massal Hutan Plumbon dengan tiga cara yakni cara Islam, Katolik dan Kejawen.
Source: Perpustakaan Online Genosida 1965-1966, Jawa Pos, CIPDH
Editor : Tasropi