Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Kolaborasi Indonesia dan Australia Atasi Banjir Rob, Andalkan Sistem Berbasis Artificial Intelligence

Khafifah Arini Putri • Jumat, 18 Oktober 2024 | 21:05 WIB
Kunjungan oleh alumni kursus singkat Australia Awards ke Rumah Pompa Yos Sudarso untuk melihat Teknologi Tide Eye.
Kunjungan oleh alumni kursus singkat Australia Awards ke Rumah Pompa Yos Sudarso untuk melihat Teknologi Tide Eye.

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Beragam inovasi terus dikembangkan untuk mengatasi banjir dan rob di Kota Semarang.

Salah satunya melalui teknologi Tide Eye. Teknologi ini merupakan hasil kolaborasi antara Indonesia dan Australia.

Tide Eye dikembangkan untuk membantu Balai Besar Wilayah Sungai Pemali-Juana (BBWS) memantau permukaan air laut dan risiko banjir rob di Kota Semarang dan Pekalongan berbasis kecerdasan buatan (AI/IoT).

Kedua kota di pesisir utara Jawa Tengah ini sangat rentan terhadap banjir rob, terutama akibat perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem.

Dinilai ada hasilnya, beberapa kunjungan pun datang untuk melihat teknologi ini.

Mereka berkunjung untuk mencontoh Tide Eye yang harapannya bisa diterapkan di kotanya masing-masing.

Kali ini Konsul Jenderal Australia di Surabaya, Glen Askew, beserta alumni studi singkat Australia Awards Indonesia berkunjung ke Stasiun Rumah Pompa Yos Sudarso, Semarang untuk menyaksikan demonstrasi teknologi Tide Eye.

Diketahui Tide Eye merupakan riset yang didukung KONEKSI dan melibatkan Universitas Wollongong (Australia) dengan Universitas Telkom, BBWS Pemali Juana, Kementerian PUPR, dan PT. Hilmy Anugerah Consulting Engineer Ltd (Indonesia).

Tide Eye mengembangkan solusi yang terjangkau untuk mengurangi kerugian akibat banjir pasang di Pantai Utara Jawa.

"Proyek ini merupakan contoh kolaborasi yang sangat baik antara akademisi, sektor swasta, dan pemerintah yang bertujuan untuk mendorong pembangunan ekonomi dan sosial," jelas Konsul Jenderal Australia di Surabaya, Glen Askew saat berkunjung ke Rumah Pompa Yos Sudarso.

Kunjungan yang dihadiri oleh alumni kursus singkat Australia Awards ini bertujuan untuk melihat langsung implementasi proyek Tide Eye.

Studi ini diikuti oleh 26 peserta, mewakili lembaga pemerintah, swasta, dan penelitian.

Harapannya ke depan bisa memperkuat kapasitas para pembuat kebijakan dan pelaku riset-inovasi dalam mengembangkan kebijakan dan regulasi inovasi.

Turut hadir dalam kunjungan ini, Principal Investigator Riset dari Universitas Telkom, Dr. Miftadi Sudjai.

Menurutnya sistem Tide Eye yang sudah berjalan di Kota Semarang ini telah memberikan solusi penanganan rob.

Sistem ini kata dia, memberikan solusi yang hemat biaya, sesuai kebutuhan, dan terukur untuk mendigitalisasi pemantauan dan memprediksi risiko banjir.

Sehingga akan ada notifikasi ketika air mulai naik dan masyarakat pun bisa waspada. Menariknya data real time juga bisa diakses melalui smartphone masyarakat.

"Dengan demikian, efisiensi dan akurasi pemantauan akan meningkat, serta kerugian akibat banjir dapat dikurangi," tegasnya.

Selain Kota Semarang, ada daerah lain yang telah menggunakan Tide Eye. Yakni Pekalongan dan Demak.

"Sudah berjalan di Kota Semarang, Pekalongan, dan Demak," akunya.

Lebih lanjut dalam pengumpulan data menggunakan drone yang diterbangkan di atas stasiun pompa Pekalongan.

Ada ribuan gambar dan video yang berhasil dikumpulkan dan diubah menjadi data visual. Ini menjadi fondasi bagi AI agar mampu memprediksi banjir rob dengan akurat.

Tak hanya mengumpulkan data, "Tide Eye" juga dilengkapi kecerdasan buatan yang mampu mendeteksi pasang surut air laut, mengidentifikasi area terdampak banjir dari visual drone, dan memantau permukaan air melalui kamera.

"Sistem peringatan dini banjir pun telah diimplementasikan, menjadikan Tide Eye sistem terpadu untuk menanggulangi banjir rob," imbuhnya.

Diperkirakan ada jutaan penduduk di Semarang dan Pekalongan yang mata pencahariannya terdampak akibat hilangnya lahan produktif.

Jika tidak ditanggulangi dengan baik, kondisi ini akan semakin memburuk di masa depan. Proyek Tide Eye diharapkan dapat menjadi model bagi permasalahan serupa di kawasan lainnya di Indonesia. (kap)

Editor : Tasropi
#Banjir Rob #Tide Eye #lahan produktif #pantai utara Jawa #BBWS Pemali Juana