RADARSEMARANG.ID, Semarang - Belasan warga binaan di Lapas Perempuan Kelas II A Semarang disulap menjadi model.
Para narapidana berjalan berlenggak-lenggok dengan riasan make up yang membuat penampilan semakin cantik.
Baca Juga: 23.438 CPNS Berebut Formasi Penjaga Tahanan Kemenkumham Jateng
Uniknya, mereka mengenakan karya dari bahan-bahan bekas yang disulap menjadi kostum menarik.
Daur ulang sampah dari berbagai jenis ini membuat tampilan warga binaan semakin epic.
Beberapa di antaranya mengolah limbah plastik, karung beras, koran bekas, dan lainnya.
Kreativitas ini digarap bersama oleh tim dalam satu blok. Kostum warna hitam ini dibuat bersama-sama 16 orang lain.
Salah satu warga binaan, Triandari Retno Adi alias Tinung mengatakan konsep yang ia ciptakan adalah elegan wild rose and black gold yang berarti mawar liar yang tumbuh di belukar tapi anggun dan mempesona.
Pemilihan bahan sampah plastik ini ingin menyampaikan bahwa sampah bukan akhir, namun awal yang baru membuat sesuatu.
"Ingin sampaikan ke masyarakat bahwa sampah ini bisa menjadi barang bermanfaat dan sedap di pandang," katanya.
Sementara itu, Kepala Lapas Wanita Bulu Semarang Kristiana Hambawani mengatakan dalam pelaksanaan Bulu Model dan Bulu Idol ini berkolaborasi dan bersinergi dengan DPD Gerakan Rakyat Anti Madat (Geram) Jateng.
Kegiatan ini terkait menumbuhkan kreativitas warga binaan yang ada di LPP Semarang.
Dengan keterbatasan itu, pada warga binaan memanfaatkan sampah bekas mie instan, kantong plastik, dan lainnya bahwa di Lapas meski terbatas gerakannya namun dalam hal kreatif membatasi.
Ia menyampaikan cara ini bertujuan untuk mewadahi kreativitas dan seni di bidang peragaan busana dan suara.
"Salah satu fungsi pidana penjara adalah keterbatasan ruang gerak, tapi kreativitas tidak terbatas. Terbukti tadi betapa kreativitasnya yang tidak kita sangka bisa juga dibikin baju," kata Kristin, sapaan akrabnya, Senin (14/10/2024)
Ia menyebut persiapan dalam event ini tidak ada satu bulan. Adapun yang mengikuti Bulu Model ada 14 dan Bulu Idol bernyanyi dangdut 47 napi.
Sementara itu, Ketua Geram Jateng Havid mengatakan biasanya pihaknya memberikan penyuluhan. Namun, karena ingin menciptakan suasana baru kemudian dibuatlah event ini.
"Kalau penyuluhan orang lama-lama akan bosen akhirnya buat kegiatan yang sifatnya seni, yakni model dan nyanyi dangdut," ungkapnya.
Sebagai juri dalam kompetisi ini, David menilai warga binaan banyak yang cukup kreatif. Menurutnya hal seperti ini perlu dikembangkan.
Pasalnya, mereka pada dasarnya hanya membutuhkan ruang atau jalur untuk mengekspresikan kreatifitas di sela menjalani masa pidana.
"Jadi jangan melakukan kriminal tapi mereka bisa berprestasi lewat seni. Karena kegiatan ini sifatnya pencegahan, artinya kalau mereka sudah bebas bisa berkreasi lewat seni," tambahnya.
Kegiatan semacam ini memang kali pertama diselenggarakan.
Namun ia melihat antusiasme warga binaan sangat tinggi sehingga penyuluhan yang biasanya bersifat pasif berubah menjadi aktif. (ifa/bas)
Editor : Baskoro Septiadi