RADARSEMARANG.ID, Semarang - Kondisi Kota Semarang saat ini daruat gangster alias kreak. Aksinya sangat meresahkan masyarakat. Menganggu keamanan dan stabilitas di Ibu Kota Jateng.
Menyikapi kondisi tersebut, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Semarang mencoba melakukan langkah preventif dengan mengajak generasi muda beraktivitas positif.
Salah satunya mengangkat budaya lokal. Ajakan tersebut disampaikan dalam Forum Group Discussion (FGD) y di Front One HK Resort, Semarang, Selasa (24/9). Kegiatan tersebut juga melibatkan mahasiswa BEM Kota Semarang,
Kabid Pemberdayaan Pemuda, Dispora Kota Semarang, A.O Sediatmoko menjelaskan jika acara FGD ini mengambil situasi dan kondisi Semarang saat ini yang darurat akan kreak dan gangster.
“Kita angkat isu budaya lokal atau kearifan lokal agar para generasi muda ini singkron dengan budaya yang ada. Artinya menggunakan budaya dengan kegiatan positif,” ujarnya usai FGD.
FGD tersebut mengangkat tema ‘Peran Kepeloporan Pemuda Untuk Mempertahankan Kearifan Budaya Lokal dan Sosial Budaya Sebagai Upaya Mengadapi Isu Global’.
Moko sapaannya menjelaskan pihaknya mengundang dua narasumber yakni Bu Maya dari Komunitas Diajeng, lalu entrepreneur muda pemilik Identix Batik Kopi, Irma Susanti. Tujuannya agar bisa menginspirasi mayarakat.
“Kita ingin generasi muda ini terinpirasi, agar bisa diimplementasikan di kegiatan positif,” tambahnya.
Dispora kata dia, juga akan melakukan road show ke sekolah-sekolah yang dianggap rentan dengan kekerasan dan kenalakan remaja.
Dia mencontohkan dibentuknya gangster bukan dari budaya lokal, melainkan budaya luar yang sebenarnya tidak bisa diaplikasikan di Indonesia.
“Budaya lokal seperti gotong royong, yang harus diimplementasikan. Bukan budaya barat seperti gangster,”katanya.
Dinas kata dia, juga menyerap aspirasi dari perwakilan BEM yang hadir.
Salah satunya meminta agar Pemkot bisa memperbanyak event yang melibatkan pemuda ataupun generasi muda yang sifatnya kegotongroyongan.
“Misalnya lebih diperbanyak kegiatan outdoor, seperti jamboree kewirausahaan dan kegiatan lainnya yang melibutkan generasi muda. Apirasi ini akan kita terapkan di tahun 2-2025 mendatang,” pungkasnya.
Sementara itu, Irma Susanti menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan kegiatan kolaborasi antara pemerintah dan pihak swasta yang melibatkan pemuda sebagai generasi penerus banga.
“Saya ingin bagaimana pemuda berperan dalam pembangunan, dan menciptakan kegiatan yang positif,” tambahnya.
Kenalakan remaja, kata dia, sebenarnya bisa diantisipasi jika lingkungan sekitar turut melakukan pengawasan dan memberikan wadah untuk menampung kreativitas generasi muda.
“Apalagi saat ini gempuran era globalisasi tidak bisa dikontrol, budaya lokal, agama yang bisa menjadi fondasi sehingga generasi muda memiliki pendidikan karakter yang baik,” katanya.
Menurut dia, kemajuan teknologi saat ini bisa digunakan untuk merawat budaya yang ada di Indonesia, termasuk dari sisi kearifan lokalnya.
“Kuncinya adalah kolaborasi, dengan memanfaatkan teknologi untuk mengenalkan budaya dan kearifan lokal,” pungkasnya. (den/zal)
Editor : Muhammad Rizal Kurniawan