Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Cerita Teman Mahasiswa Udinus yang Jadi Korban Pembunuhan Kreak Gangster Semarang, Malam Sebelum Pembacokan Korban Berubah Jadi Pendiam

Muhammad Hariyanto • Jumat, 20 September 2024 | 01:54 WIB
Teman korban nampak emosi terhadap para tersangka yang melakukan pembunuhan Muhammad Tirza Nugroho Hermawan, 21, mahasiswa Udinus Semarang
Teman korban nampak emosi terhadap para tersangka yang melakukan pembunuhan Muhammad Tirza Nugroho Hermawan, 21, mahasiswa Udinus Semarang

 

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Kepergian Muhammad Tirza Nugroho Hermawan, 21, mahasiswa Udinus Semarang asal Kampung Bakalan, Bandungharjo, Donorojo Kabupaten Jepara meninggalkan duka cita mendalam bagi orang tua dan teman-temannya.

Bahkan, teman-temannya sekampung dan mahasiswa termasuk dari Udinus tidak terima dengan kejadian tersebut. Mereka juga menuntut pelaku dihukum seberat-beratnya.

Terlihat, rekan-rekan korban juga mendatangi Mapolrestabes Semarang, dan berniat melihat wajah pelaku yang melakukan pembacokan saat dihadirkan dalam rilis Kamis (19/9/2024).

Hasil penanganan proses hukum oleh penyidik Satreskrim Polrestabes Semarang, ada enam tersangka dalam kasus pembacokan tersebut.

Tiga tersangka diantaranya merupakan pelaku utama dan dijerat pasal 384 KUHP, pasal 170 dan pasal undang-undang darurat kaitannya kepemilikan senjata tajam.

"Jangan kasih remisi. Jangan kasih keringanan pak. Ancaman 20 tahun tidak cukup untuk membalas nyawa teman saya," teriak salah satu rekan korban, saat di ruang lobi, rilis kasus tersebut, Kamis (19/9/2024).

Bahkan, salah satu rekan korban dengan nada emosi dan menyumpahi serta mengutuk pelaku atas perbuatan kejinya. Pria yang diketahui bernama Al ini meluapkan emosinya di depan para tersangka juga sampai menangis. Hingga kemudian dipapah jalan menuju keluar ruangan oleh rekan-rekannya.

AL mengaku masih tidak terima dengan ancaman hukuman 20 tahun terhadap tersangka pelaku utama pembacokan.

Pihaknya juga menuntut nantinya para pelaku mendapat hukuman seberat beratnya.

"Hukuman 20 tahun gak setimpal itu. Harus dihukum seberat-beratnya. Itu teman baik, teman dekat saya sejak kecil sampai sekarang. Jarak rumah nya dengan saya hanya berjarak dua rumah," ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (19/9/2024).

Menurutnya, sebelum kejadian baru kumpul bersama di tempat kosnya di Gunungpati, datang pukul Senin (16/9/202) sekitar pukul 23.00.

Kemudian, korban kembali ke tempat kos, di sekitaran kampus Udinus berboncengan dengan temannya, Selasa (17/9/2024).

"Terus kan paginya saya mau ngajar, dia mau balik, saya cegah sudah tidur di tempatku saja, ada wifi nya, ada makanan juga. Tapi dia balik sama temanku juga, boncengan. Bilangnya aman bos. Ngko, besok besok maneh," bebernya.

"Yo wes kabar kabar aja, kalau ada apa-apa di jalan," lanjut menjawab omongan korban.

Namun tak disangka, korban mengalami musibah, menjadi sasaran keberingasan gerombolan gangster bersenjata tajam.

Tubuh korban dibacok-bacok hingga meninggal di lokasi depan SPBU. Padahal tidak tahu menahu dan hanya melintas.

"Saya langsung turun, itu saya pas mau tidur. Terus saya bagun ngabarin dua teman saya, bilang kalau teman saya lagi ada masalah dibacok wong. Saya kira begal. Tiga orang turun termasuk saya, ngebut. Lainnya di kontrakan karena tida dikunci," jelasnya.

Menurut, sesampai lokasi sudah mendapati korban dalam kondisi bersimbah darah. Namun, kondisi korban masih bisa diajak komunikasi. Namun pada akhirnya meninggal.

"Sempat minta air minum tapi gak boleh. Hampir setengah jam itu masih komunikasi sama saya. Masih bisa berontak tubuhnya kalau kaki kanan sudah mati, cuma kaki kirinya yang masih bisa gerak," bebernya.

Menurut Al, sebelum kejadian dan pada saat nongkrong bareng di tempat kos, Al mengatakan ada sedikit perubahan sikap terdapat korban. Malam ditempat tongkrongan, korban lebih banyak diam.

"Dia lebih banyak ke diam, dia padahal humoris, pelawak didalam tongkrongan, asyik. Semua pembahasan dia dapat semua," katanya.

"Saya makan sama yang korban yang bonceng di diam saja, mideoin, ga ada komen apa-apa. Mau makan apa, mie tak masake, ada semua. Tapi juga menolak gak mau," sambungnya.

Lanjut Al menyampaikan, korban juga dikenal baik di lingkungan temannya. Bahkan, menjadi harapan tulang punggung keluarga, karena anak pertama dari dua bersaudara.

Korban memiliki adik perempuan dan di Jepara tinggal bersama keluarga yang harmonis.

"Dia anak pertama yang diandalkan itu hanya dia, soalnya dia tinggal di rumah sama embah, sama bapak ibu adiknya satu. Dia anak cowok di rumah yang diharapkan cuma dia. Sering ngandan-ngandani, nganterin adiknya, dia juga nganter keluarga saya dia yang nyopirin," jelasnya.

Al menambahkan, korban juga memiliki gagasan dan ide-ide ke depan yang berencana membuat usaha bersamanya.

Namun, dengan adanya kejadian ini merubah segalanya. Bahkan, orangtuanya dan keluarganya juga syok atas kejadian tersebut.

"Orang tuanya syok banget, yang bapaknya sudah tidak bisa ngapapain. Emangnya juga langsung drop sampa ruma sakit. Ibunya juga ya begitulah. dilingkungan teman tenan baik sudah banyak rencana rencana diskusi bareng bareng mau buat usaha," pungkasnya. (mha/bas)

Editor : Baskoro Septiadi
#mahasiswa Udinus #kreak semarang