RADARSEMARANG.ID, Semarang - Ulah sekelompok remaja tanggung atau kreak Semarangan semakin brutal serta meresahkan.
Mereka tak hanya bentrok dengan kelompok kreak lainnya, namun juga secara random warga yang bersalah.
Dalam catatan Radar Semarang, hampir tiap malam, kreak-kreak ini berulah, dengan senjata tajam seperti celurit dan gobang, konvoi keliling kota dengan sepeda motor, menebar ancaman terhadap siapa saja yang mereka temui di jalan.
Bukti para kreak ini makin brutal dan meresahkan adalah kejadian pagi dinihari tadi, seorang mahasiswa Udinus asal Bandungharjo, Donorejo, Kabupetan Jepara, Muhammad Tirza Nugroho Hermawan (21), secara tragis kehilangan nyawanya diserang sejumlah kreak bersenjata tajam di dekat pintu keluar SPBU Sampangan, Jalan Kelud Raya Semarang.
Diduga korban yang saat itu berboncengan dengan temannya adalah korban salah sasaran, karena pada saat itu tengah melintas di sekitar Lokasi kejadian, yang sebelumnya sempat terjadi keributan antar sekelompok kreak di sekitar Taman Sampangan.
Kasus penganiayaan terhadap mahasiswa asal Jepara ini, masih dalam penyelidikan apparat Polrestabes Semarang.
Dari keterangan sejumlah saksi di Lokasi kejadian, di perkirakan jumlah pelaku antara 5-7 orang, yang membawa senjata tajam jenis celurit.
Meninggalnya Muhamad Tirza Nugroho ini bukan yang pertama akibat ulah brutal kreak di kota Semarang, akhir bulan kemarin, tawuran dua kelompok kreak di Jalan Layur, Bandarharjo, Semarang Utara, mengakibatkan 1 orang tewas dan seorang lainnya luka berat.
Dalam sepekan terakhir ini, setidaknya dua kali kasus tawuran antar kreak, yakni di Kawasan dekat Jalan Barito dan Lamper Tengah. Aksi tawuran mereka bahkan tersebar secara luas di platfrom media social kota Semarang.
Dalam tayangan video di media social seperti IG, terlihat mereka saling serang di tengah jalanan dan saling kejar sembari mengacung-acungkan senjata tajam.
Mirisnya, mereka rata-rata masih berusia remaja duduk di bangku SMA bahkan SMP.Sepak terjang kreak ini benar-benar sudah sangat meresahkan, beberapa pelaku yang tertangkap dengan barang bukti berupa senjata jenis celurit yang panjang-panjang dan sajam lainnya, seolah tak menimbulkan efek jera.
"Korban anak Udinus, dua duanya kan anak Jepara, boncengan sepeda motor. Dia menjadi korban anak-anak gang, bawa sajam, celurit panjang," ungkap Kapolsek Gajahmungkur, Kompol Agus Hartono, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (17/9/2024).
Kejadian tersebut, pihaknya bersama anggotanya juga telah mendatangi lokasi kejadian, bersama Inafis Polrestabes Semarang melakukan olah TKP. Sejumlah saksi juga telah dimintai keterangan guna bahan penyelidikan lebih lanjut.
"Itu dari keterangan saksi jam 1 jam 2 nongkrong disitu, dekat toko elektronik, dekat Taman Sampangan. Menurut saksi ada sekitaran 10 orang, ada yang membawa sajam," katanya.
Kapolsek menyebut, diduga gerombolan pelaku pembacokan ini akan melakukan tawuran dengan kelompok lain. Lokasinya, ajang aksi tawuran berada di wilayah Gajahmungkur.
"Mungkin, itu kan tantang-tantangan (tawuran) bukan anak-anak Gajahmungkur, anak luar semua. Jadi Gajahmungkur itu Alhamdulillah sebenarnya kondusif, tapi hanya sebagai titik kumpulan," ujarnya.
Apesnya, korban yang kebetulan melintas di lokasi tersebut menjadi sasaran pembacokan gerombolan tak dikenal.
Informasi yang diperoleh, korban mengendarai sepeda motor dari arah Gunungpati, menuju pulang kos dekat kampusnya, Udinus.
"Mungkin mahasiswa ini kan malam malam entah mau ngopi apa mau pulang kos, tidak tau, dibuntutilah dari arah belakang. Tau-tau yang belakang itu ditarik anak empat. Terus jatuh, terus itu tadi di sajam itu kena pahanya," jelasnya. (sls/mha/bas)
Editor : Baskoro Septiadi