Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Apa Kunci Agar Usaha Kuliner Bertahan di Era Sekarang? Ini Tips dari Ketua Kadin Kota Semarang Arnaz Agung Andrarasmara

Pratono • Selasa, 10 September 2024 | 03:30 WIB
Owner Pisyang Shayang Bernadus Martin berbagi kisah dalam diskusi yang digelar Asosiasi Kafe dan Resto Semarang (Asokas) Senin (9/9/2024). (Pratono/Jawa Pos Radar Semarang)
Owner Pisyang Shayang Bernadus Martin berbagi kisah dalam diskusi yang digelar Asosiasi Kafe dan Resto Semarang (Asokas) Senin (9/9/2024). (Pratono/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID—Sejak pandemi Covid-19 pada 2020, perilaku konsumen di bidang kuliner mulai berubah.

Banyak bisnis food and beverage yang tumbang.

Bisnis kuliner yang mampu beradaptasi dengan kondisi terkini, yang mampu bertahan.

“Pandemi membuat orang lebih saving tidak lagi konsumtif. Bila sebelum pandemi uang Rp 100 ribu mungkin dibelanjakan sehari, setelah pandemi konsumen makin berhemat bagaimana kalau Rp 100 ribu bisa untuk tiga hari,” tutur Ketua Kadin Kota Semarang Arnaz Agung Andrarasmara dalam diskusi Roadmap FGD 2024 #batch3 yang berlangsung di Resto Nikudoni di Jalan Kyai Saleh Kota Semarang Senin (9/9/2024).

Diskusi ini diselenggarakan oleh Asosiasi Kafe dan Resto Semarang (Asokas).

Dijelaskan Arnaz, pengusaha kuliner tidak bisa menyalahkan situasi.

Tapi harus siap menghadapi perubahan.

“Siapa yang mampu beradaptasi, yang akan bertahan,” tambahnya.

Pemilik Resto Simpang Raya dan Uda Uni ini mengatakan, daya tarik resto harus bisa mengikuti selera konsumen.

Bila jadi follower sebuah usaha, harus jadi follower yang punya keunikan.

Sebagai contoh di restoran padang Simpang Raya miliknya.

Bagi Arnaz, semua rumah makan padang punya menu yang hampir sama.

Ia menawarkan sisi lain di luar menu.

Yakni adanya musala yang nyaman dan toilet bersih. “Bagi konsumen perempuan, toilet yang bersih pasti jadi perhatian. Kalau mereka nyaman, tentu akan senang dan mau balik lagi,” jelasnya.

Pembicara lain, pemilik brand Pisyang Shayang Bernadus Martin mengakui, produk pisang goreng miliknya tak jauh beda dengan produk serupa milik orang lain.

Tapi ia memastikan kualitas bahan yang dipakai lebih baik dibanding kompetitor.

“Mau pilih pakai bahan baku apa, konsumen tidak akan tahu. Tapi konsumen bisa menilai rasanya,” jelasnya.

Tentu dengan memakai bahan berkualitas yang lebih mahal, Martin harus mengincar segmen pembeli yang tidak keberatan dengan harga yang dibandrol.

Ia pertama kali membuka usaha di dekat Universitas Diponegoro (Undip) Tembalang dan kini menyasar Universitas Negeri Semarang (Unnes) di Sekaran.

“Berdasarkan riset saya, UKT di kampus ini cukup tinggi sehingga segmen mahasiswa dari target Pisyang Shayang masih mampu beli,” jelasnya. (ton)

Editor : Pratono
#Universitas Negeri Semarang #Arnaz Agung Andrarasmara #Kadin Kota Semarang #Universitas Diponegoro #Asokas