Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Cerita SMK PIKA Semarang Kerahkan Guru dan Siswa Membuat Kursi untuk Paus Fransiskus hingga Akhirnya Diundang Misa Agung di GBK

Ida Fadilah • Rabu, 4 September 2024 | 00:33 WIB

 

SMK PIKA Semarang berkesempatan membuat kursi untuk Paus Fransiskus yang berkunjung ke Indonesia.
SMK PIKA Semarang berkesempatan membuat kursi untuk Paus Fransiskus yang berkunjung ke Indonesia.

RADARSEMARANG.ID, Semarang - SMK Pendidikan Kayu Atas (PIKA) Semarang berbangga hati mendapatkan undangan misa agung bersama Paus Fransiskus di Gelora Bung Karno, Jakarta.

Undangan spesial ini karena sekolah tersebut telah membuatkan kursi khusus untuk Paus Fransiskus yang sedang berkunjung ke Indonesia.

"Undangan diterima Agustus, walaupun kami tidak mengharapkan karena bisa membuatkan kursi dan di acc saja sudah menyenangkan sekali. Undangan ini menjadi kado bagi kami," ujar Kepala SMK PIKA, FX Marsono pada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (3/9/2024).

Ia menjelaskan, pada kesempatan ini ada lima orang dari managemen yang hadir ke misa agung tersebut.

Sebenarnya ia ingin mengajak para siswa namun terhalang ujian dan para managemen memiliki agenda lain.

Keberangkatan itu diakuinya sangat menggembirakan karena tidak pernah menyangka sebelumnya.

Marsono mengaku terkejut karena ia hanya fokus dalam membuatkan kursi saja.

Marsono membeberkan, pada Februari 2024, ia mendapat kabar dari Romo Hani dari Gereja Katedral untuk membuatkan kursi khusus kedatangan Paus Fransiskus.

Mendapat kabar gembira dan kesempatan besar itu, ia dan tim di sekolahnya kemudian membuat desain.

Diakuinya memang prosesnya cukup panjang. Rencana bentuk kursi itu dikirim ke panitia, namun di revisi.

"SMK Pika mendapatkan kepercayaan membuat "tahta suci". Kami buat dengan sedikit lebih mewah dengan sedikit kemampuan yang kami miliki. Kami menggerakkan semua guru dan beberapa siswa. Kami kirim ternyata direvisi, kami kirim lagi ternyata direvisi lagi cukup banyak dalama revisinya," jelasnya.

Akhirnya, lanjutnya bercerita, pihaknya membuat dua desain model bangku gereja. Karena kunjungan ke Indonesia ini merupakan sesuatu yang spesial, Marsono lantas membuat desain yang menyimbolkan dan ciri khas Indonesia.

Yakni menggunakan bahan rotan dan kayu jati yang merupakan bahan khas dari Indonesia.

Pada kursi rotan, awalnya dari sisi bentuk juga ciri khas yakni gunungan seperti wewayangan Indonesia, dan ide di atas gunungan itu dibuat mahkota, serta di kaki kursi diukir agar tampak mewah dan Indonesia banget.

Namun, semua desain di tolak dengan catatan minta dibuatkan yang sederhana.

"Bapa Paus dan panitia minta kursi yang sederhana, kami revisi. Ternyata itu menjadi hal yang kami pelajari juga. Awalnya kami membayangkan kursi yang mewah, megah, ternyata mintanya suatu desain yang sangat sangat sederhana sekali bagi saya, tidak ribet, tetapi dari sisi bentuk, bahan, pengerjaan, kami buat optimal," ucapnya.

Ia memastikan jika bahan yang ia pakai sangat bagus. Di kursi rotan itu, ditambah bantal untuk duduk. Namun, yang spesial, di bagian belakang dudukan tersebut diukir tulisan aksara Jawa.

"Kalau bantal diangkat ada tulisan huruf Jawa nah itu juga ciri khas Indonesia, yakni fisumsum saking kawitan keluwargo ageng SMK PIKA artinya persembahan dari keluarga besar SMK PIKA, Semarang, gitu," paparnya.

Kemudian, kursi yang satunya yakni sofa yang menggunakan kayu jati. Desainnya juga berubah.

Awalnya, lanjutnya, pada senderannya dibuat kepulauan Indonesia lalu ada tulisan Bhineka Tunggal Ika yang di cengkeram oleh cakarnya Garuda Pancasila dan di atasnya ada lambang bendera merah putih. Setelah dikirim ternyata juga direvisi.

Akhirnya direvisi dihias bordir dengan logo kepausan, logo keuskupan, lalu kanan kirinya ada tulisan katedral.

Meski desainnya tak digunakan, Marsono tetap senang. Baginya yang terpenting kursi untuk Pimpinan Katolik itu nyaman dan kuat.

Adapun dua kursi spesial itu tidak dibanderol harga. Bagi Marsono kursi itu menjadi persembahan untuk Paus Fransiskus. Kursi itu telah dikirim pada 27 Mei lalu karena akan ditinjau oleh tim Gereja Vatikan.

"Pokoknya hadiah untuk Paus. Dari awal kami tidak menghitung biaya. Berapapun biayanya akan kita keluarkan," tandasnya. (ifa/bas)

Editor : Baskoro Septiadi
#Smk pika #Paus Fransikus