RADARSEMARANG.ID, SEMARANG - Umat Tri Dharma mengikuti Sembahyang Ulambana di Kelenteng Hoo Hok Bio, Jumat (23/8).
Dipimpin oleh pendeta, belasan umat Tri Dharma sangat khidmat mengirimkan doa untuk arwah para kerabat.
Para umat juga melakukan ritual dengan mengelilingi sesaji di atas meja besar berupa nasi dan bubur mengelilingi masakan Tionghoa.
Selain itu, beberapa sajian berupa kepala babi, bebek bakpao, buah semangka, buah nanas, jeruk bali, aneka sup, jajan pasar, buah belimbing, buah pear, buah apel dan lainnya juga ditata dengan rapi.
Di bawah meja sesaji terdapat beberapa kendi yang mengelilingi meja, dan di dalam lorong meja terdapat alat rumah tangga, aneka minuman serbuk, mainan anak, dan alat sekolah anak yang direbutkan seusai sembahyang.
Salah seorang warga, Muslimah, mendapatkan sapu, tampah, minuman serbuk, mainan anak, dan wadah makanan. Diakui, warga Buyaran ini baru kali ini mengikuti rebutan.
"Saya berkerja di Kawasan Pecinan bertahun-tahun, begitu ada kabar rebutan, saya ikut berebut. Senang sekali karena baru kali ini dapat," riangnya.
Ketua Pelaksana Ulambana, Pho Pek Tho, menjelaskan Sembahyang Ulambana atau King Hoo Ping dilakukan pada tanggal 20 bulan ke tujuh penanggalan China. Sembahyang ini untuk menghormati kerabat yang telah tiada.
"Jadi kita memanggil arwah yang gentayangan, sesaji ini makanan untuk para arwah, sehingga arwah gentayangan ini bisa makan ke kelenteng kita," jelasnya.
Sesaji berupa makanan dan hasil bumi karena memang merupakan konsumsi sehari-hari. "Kalau filosofinya saya belum tahu pasti, ya," jelasnya.
Disebut juga sebagai Sembahyang Rebutan, karena setelah mendoakan para arwah, warga berebut berbagai macam peralatan yang telah disiapkan di lorong meja sesaji. "Tidak dibagikan, karena menjaga tradisi dari leluhur, yakni berebut, ya," ujarnya.
Selain itu, pihaknya menyiapkan 3500 paket sembako, berupa beras, gula, mi instan, dan teh. "Dibagikan kepada masyarakat kurang mampu yang menerima kupon," jelasnya. (fgr)