Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Mengunjungi Rumah Pencipta Lagu Hari Merdeka dan Syukur H Mutahar di Semarang, Sempat Pisahkan Kain Merah dan Putih untuk Selamatkan Bendera Pusaka

Figur Ronggo Wassalim • Sabtu, 17 Agustus 2024 | 14:43 WIB

 

Rumah peninggalan H Mutahar di Kampung Geni Nomor 773, Kelurahan Dadapsari, Semarang Utara. FIGUR RONGGO WASSALIM/JAWA POS RADAR SEMARANG 
Rumah peninggalan H Mutahar di Kampung Geni Nomor 773, Kelurahan Dadapsari, Semarang Utara. FIGUR RONGGO WASSALIM/JAWA POS RADAR SEMARANG 

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Tujuhbelas Agustus tahun empat lima. Itulah hari kemerdekaan kita. Hari merdeka, nusa dan bangsa. Hari lahirnya bangsa Indonesia. Merdeka

Setiap masuk bulan Agustus, lagu Hari Merdeka selalu berkumandang di mana-mana. Lagu tersebut ciptaan komponis Husein Mutahar atau H Mutahar yang pernah tinggal di Semarang.

Rumah di Kampung Geni Nomor 773 Kelurahan Dadapsari, Semarang Utara tampak kurang terawat. Tembok bagian depan yang dicat putih sudah kusam.

Bahkan sebagian tembok masih terlihat susunan bata merahnya. Pintu dari kayu tak kalah kusamnya. Tapi rumah ini menyimpan sejarah besar dari Republik Indonesia.

Di rumah ini, H Mutahar pernah tinggal. Ia juga menyelamatkan dan menyimpan bendera pusaka Sang Saka Merah Putih, yang dikibarkan saat proklamasi kemerdekaan Indonesia, di rumah ini.

Salah seorang Keponakan H Mutahar, Aminah Mutahar, 71, menceritakan pamannya sempat menyimpan potongan kain warna merah dan putih di rumah tersebut.

Kain tersebut merupakan bendera pusaka yang untuk sementara dipisahkan agar tidak direbut tentara Belanda.

"Biar tidak ditangkap sama Belanda, karena saat itu ada operasi pemberhentian. Beliau membagi menjadi dua, yang merah untuk alas koper pakaian, yang putih untuk sapu tangan di sakunya beliau," jelasnya.

Cerita penyelamatan bendera pusaka ini tak lepas dari Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948. Saat itu serdadu Belanda menyerang Yogyakarta yang menjadi ibukota Indonesia.

Presiden Sukarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan sejumlah menteri ditangkap. Saat kejadian tersebut H Mutahar yang lahir pada 5 Agustus 1916 merupakan salah satu ajudan Bung Karno.

Dalam situasi genting, Bung Karno menitipkan bendera pusaka pada H Mutahar untuk diselamatkan, jangan sampai jatuh ke tangan Belanda.

Is lantas bersiasat untuk membuka jahitan bendera, memisahkan antara kain merah dan putih dan menyimpan pada tempat terpisah.

Sebagai staf kepresidenan, H Mutahar sempat ditahan selama sebulan di kota kelahirannya Semarang.

Ketika berhasil membebaskan diri, kedua kain bendera pusaka tersebut tetap aman di tangan H Mutahar.

 Baca Juga: Susunan Pemain Derby Jateng Persis Solo vs PSIS Semarang, Mahesa Jenar dan Laskar Sambernyawa Usung Misi Bangkit

Kain merah dan putih tersebut akhirnya diserahkan kembali pada Bung Karno pada Juni 1949.

Saat diserahkan, bendera pusaka sudah kembali dijahit dengan hati-hati, menyesuaikan bekas lubang jahitan ibu negara Fatmawati.

Pada 17 Agustus 1949, bendera pusaka kembali dikibarkan di halaman Istana Presiden Agung Yogyakarta.

Aminah menceritakan, ibunya, Alwiyah Mutahar, pernah menanyakan soal kain merah dan putih di koper H Mutahar.

“Ibu saya bernama Alwiyah bertanya, ini apa? Ini benderanya Indonesia. Sontak keluarga pun kaget, (takut) jika diburu oleh Belanda,” kata Aminah.

H Mutahar merupakan anak kedua dari tujuh bersaudara. Yakni Aisyah Mutahar, Ahmad Mutahar, Fatma Mutahar, Husein Mutahar, Alwiyah Mutahar, Zahra Mutahar, dan Abdullah Mutahar. Ia menghabiskan masa kecilnya di Semarang.

"Saat itu, Mbah kan keturunan Belanda, dulu (masuk) sekolah Belanda yang namanya MULO, kemudian melanjutkan di Yogyakarta sampai disuruh membawa bendera pusaka merah putih," jelas Aminah yang merupakan kakak Habib Umar Mutahar ini.

Setelah mengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Belanda, H Muntahar lebih banyak tinggal di Jakarta hingga akhir hayatnya. Kecuali saat menjadi duta besar RI untuk Vatikan pada 1969-1973.

"Kalau lebaran datang ke Semarang karena makam orang tuanya kan di Bergota," jelas Aminah.

H Mutahar telah menciptakan belasan lagu. Selain Hari Merdeka, yang populer adalah lagu wajib Syukur.

Baca Juga: Ada Upacara HUT Kemerdekaan ke-79 RI, Lalu Lintas di Seputaran Simpanglima Dialihkan

Lagu Syukur ditulisnya di Semarang pada 7 September 1944. Lagu ini lahir dari kepedihan hati yang mendalam.

Sebagai pemuda masa itu, H Mutahar merasakan bagaimana pahitnya penjajahan Belanda yang memperlakukan kepada bangsa Indonesia.

H Mutahar bermimpi menyaksikan Indonesia merdeka. Ketika sudah merdeka, harus ada rasa syukur, maka Mutahar menciptakan lagu Syukur.

Lagu ini diperdengarkan pertama kali pada Januari 1945, dinyanyikan oleh 64 orang anak yang tergabung dalam sebuah paduan suara yang dipimpin oleh H Mutahar, diiringi oleh sebuah orkestra.

Mimpi H Mutahar tentang Indonesia merdeka memang terwujud setelah sebelas bulan ia menulis lagu tersebut. Lagu Syukur kembali diperdengarkan untuk masyarakat pada 17 Agustus 1946.

Saat ini, rumah peninggalan di Kampung Geni Nomor 773 ini tidak ada pewarisnya. Rumah kurang terawat sejak 2008 sepeninggal Abdullah Mutahar.

"Kalau Agustusan gini, pada menanyakan, dan difoto. Saat ini tidak ada yang mewarisi," kenangnya. (fgr/ton)

 

 

 

 

Editor : Baskoro Septiadi
#Husein Mutahar #H Mutahar