RADARSEMARANG.ID, Semarang - Nasib siswa SMP yang tak lolos Penerimaan Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) 2024 di SMA/SMK Negeri akibat penggunaan dugaan piagam palsu kejuaraan Malaysia International Virtual Band Championship Virtual (MIVBC) 2022 akhirnya melanjutkan pendidikan ke sekolah swasta.
Di antaranya ke SMA 1 Kesatrian Semarang.
Kepala SMA 1 Kesatrian Semarang A Budiman mengatakan terdapat kurang lebih 45 siswa SMPN 1 Semarang (pengguna piagam, Red) yang mendaftar di sekolahnya.
Ia menyebut, diterimanya para siswa tersebut karena memang masih membuka pendaftaran.
Perihal adanya penggunaan dugaan piagam palsu marching band dalam PPDB oleh siswa, pihak sekolah dan yayasan tidak mempermasalahkan.
Pasalnya, para siswa tersebut juga memang memiliki prestasi. Bahkan menurut Budi, tidak hanya di bidang marching band saja, namun juga di bidang lain seperti juara Bahasa Inggris, dan lainnya.
"Buat kami tidak masalah karena anak-anaknya memang berprestasi," katanya pada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (23/7/2024).
Ia menjelaskan, sekolahnya membuka peluang dan memberi kesempatan bagi siapa saja untuk melanjutkan pendidikan.
Adapun mereka saat mendaftarkan ke sekolah di Jalan Pamularsih Raya No 116 ini ketika proses PPDB masih berlangsung.
Waktu tersebut sembari menunggu keputusan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah diterima atau tidak.
"Mereka mendaftarkan saat PPDB masih berlangsung, belum ditutup karena kami swasta ya relatif. Jadi tidak ada tambahan karena kami juga mempertimbangkan sarana dan prasarana nya juga," ucapnya.
Seluruhnya, siswa baru yang sekolah di SMA Kesatrian 1 adalah 227. Jumlah tersebut terbagi menjadi tujuh rombongan belajar (rombel).
Terpisah, Kepala Disdikbud Jawa Tengah, Uswatun Hasanah dalam rilisnya mengungkap dari 69 siswa yang menggunakan piagam internasional tersebut, hanya ada tujuh siswa yang bisa melakukan daftar ulang ke SMA/SMKN.
“Yang pemakai piagam yang diragukan keabsahannya sudah terolah di dalamnya. 7 diterima, lainnya tidak bisa proses daftar ulang,” tuturnya.
Di sisi lain, Uswatun dalam rilis remi Disdikbud Jawa Tengah menyebutkan bahwa tingkat keterpenuhan SMA/SMKN di Jawa Tengah selama PPDB 2024 mencapai 98,97 persen.
Presentase tersebut terdiri dari SMAN sebanyak 117.061 dan SMKN sebanyak 102.507. Karena belum 100 persen, memang diakui masih ada kursi kosong.
Namun, terkait mekanisme pengisian kursi kosong itu masih akan dibahas lebih lanjut.
“Akibat tidak terpenuhinya kuota daya tampung pada Satuan Pendidikan, mekanisme dan pengaturan pengisiannya masih akan dikoodinasikan dan konsultasikan dengan berbagai pihak terkait,” beber Uswatun dalam rilis resminya.
Ia menyebut, guna mencegah potensi terjadinya pelanggaran prinsip-prinsip penyelenggaraan PPDB, ia akan berkoordinasi dengan Kemendikbudristek untuk menjamin transparansi dan akuntabilitas.
Diberitakan sebelumnya, viral lulusan SMPN 1 Semarang menggunakan piagam kejuaraan Malaysia International Virtual Band Championship Virtual (MIVBC) 2022 untuk mendaftar di SMA/SMKN Jawa Tengah di Semarang.
Totalnya mencapai 69 siswa. Sayangnya, kejuaraan internasional tersebut tak bisa membuat seluruhnya diterima di sekolah negeri pilihan karena diduga piagam tersebut tidak absah.
Sehingga PJ Gubernur Jawa Tengah dan Disdikbud setempat menganulir nilai dan memengaruhi nilai calon siswa.
Para orang tua siswa pun pernah menggeruduk Kantor Gubernur Jawa Tengah dan Kantor Disdikbud untuk meminta kejelasan diterima atau tidak di sekolah negeri.
Protes itu dilayangkan karena nama calon siswa masih nyantol dalam sistem PPDB. (ifa/bas)
Editor : Baskoro Septiadi