Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Ini Sosok Suroso Pelatih Marching Band yang Jadi Buruan Polisi Buntut Kasus Dugaan Piagam Palsu di PPDB Semarang 2024

Ida Fadilah • Senin, 15 Juli 2024 | 17:25 WIB
Perwakilan orang tua siswa SMP N 1 Semarang, mengecam Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jateng. (Nurchamim/Jawa Pos Radar Semarang)
Perwakilan orang tua siswa SMP N 1 Semarang, mengecam Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jateng. (Nurchamim/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Kasus dugaan piagam palsu di PPDB Semarang menyeret nama pelatih Marching Band SMP Negeri 1 Semarang Suroso yang hingga kini masih menghilang.

Kasatreskrim Polrestabes Semarang, Kompol Andika Dharma Sena mengatakan saksi-saksi yang dimintai keterangan kaitannya kasus tersebut masih terus bertambah. 

"Terkait update piagam palsu perlu kami sampaikan bahwa telah melakukan pemeriksaan sebanyak 12 saksi ini dari pihak sekolah, komite, keluarga korban yang memegang piagam tersebut," ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (12/7/2024).

Pengambilan keterangan para saksi ini sebagai bahan penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap pelaku yang membuat atau menerbitkan Piagam Marching Band, diduga palsu.

Kasatreskrim juga menegaskan, penanganan kasus tersebut yang awalnya penyelidikan, telah meningkat menjadi penyidikan.

"Kemudian dari hasil pemeriksaan saksi-saksi tersebut, kemarin pada hari Kamis (11/7/2024) untuk perkara sudah kami gelarkan, dan statusnya kami tingkatkan ke penyidikan untuk kasus ini," bebernya.

Saksi-saksi yang telah dipanggil dan diminta keterangan, ada dari pihak sekolah SMP Negeri 1 Semarang termasuk, Kepala sekolah. Kemudian Kepala Sekolah SMA Negeri 3, dari Dinas Pendidikan, Dispora, dan Persatuan Drum Band Indonesia (PDBI).

"Sehingga di sini dengan status tersebut dari pihak penyidik sudah bisa melakukan upaya paksa dalam mengumpulkan alat bukti. Sehingga nanti ke depannya, untuk tes kasus ini tentunya untuk kesimpulan awal memang ini piagam diduga palsu," sambung terkait penanganan penyidikan.

Sedangkan Suroso, selalu pelatih Marching Band, penyidik juga telah melakukan penjadwalan dan pemanggilan untuk dimintai keterangan pada, Rabu (10/7/2024).

Namun hingga sekarang belum menunjukan batang hidungnya untuk datang ke Polrestabes Semarang memenuhi kewajiban atau pemanggilan.

"Tapi nanti untuk pelatih sendiri dengan inisial S ini karena memang kami sudah lakukan pengecekan di wilayah semarang yang bersangkutan sudah tidak ada," katanya.

"Artinya nanti yang bersangkutan dengan panggilan sebagai saksi tidak hadir tentunya akan kita lakukan pencarian keberadaan dari inisial S ini sendiri," sambungnya.

Indah, salah satu orang tua siswa mengatakan, baru mengetahui piagam yang digunakan untuk mendaftar PPDB ini bermasalah pada hari terakhir pelaksanaan PPDB.

Dari informasi yang ada status dari piagam ini ada yang mempermasalahkan.

"Saat verifikasi tidak bisa diganti, nama anak-anak juga masih ada dalam PPDB. Tapi ada beberapa orang tua yang akan mendaftar ulang, tidak bisa," tambah dia.

Penganuliran 69 anak ini sendiri dilakukan secara offline oleh Disdikbud. Akhirnya siswa banyak yang terlempar.

Pihak orang tua sendiri tidak menyangka jika piagam yang digunakan ternyata bermasalah.

"Harusnya kalau online tidak bisa bisa dilakukan secara offline, kondisi anak tentu shock. Bahkan mereka mendapatkan bullyan dan hinaan, mental mereka jatuh. Padahal mereka berjuang latihan pagi sampai malam," keluhnya.

Orang tua siswa sendiri menerima piagam dari sekolah pada 11 Juni, dalam bentuk legalisir dari pihak sekolah.

Sementara piagam Marching Band di event internasional yang diikuti secara offline yang diselenggarakan Malaysia, dimiliki sekolah. Anehnya lagi, prestasi para siswa ini juga diposting di sosial media sekolah. 

"Kita tidak ragu menggunakan karena ada legalisir dari sekolah, juga ada Dinas Pendidikan Kota yang mengetahui," tambah dia.

Orang tua siswa, kata dia, sempat berkomunikasi dengan Suroso, pelatih Marching Band terakhir bisa diajak komunikasi pada 27 Juni lalu.

Orang tua siswa pun sempat komplain, atas kasus dugaan piagam palsu. Sampai sekarang Suroso tidak diketahui dimana keberadaannya.

"Disporapar Jateng, bilang kalau pelatih mengakui sebenarnya tim dari SMP N 1 itu juara 3, tapi di piagam ditulis juara 1. Katanya Suroso, sengaja melakukan itu," katanya.

Adapun masalah ini, menurut Indah bukan kesalahan dari anak-anak ataupun orang tua siswa. Melainkan kesalahan Suroso.

Pihaknya meminta agar pemerintah bisa memulihkan nama baik anak-anak yang saat ini terkena sanksi sosial dari masyarakat.

Suroso si pelatih Marching Band sendiri, selain mengajar di SMP N 1 Semarang, juga mengajar di SDN Ngaliyan 1. Bahkan ada informasi dia juga mengajar di Akpol.

"Proses berjalan nanti akan ketahuan kok pelatih yang salah.. Kami ada rencana menggugat karena ini cacat hukum," ujarnya. (mha/ifa/bas)

Editor : Baskoro Septiadi
#Piagam Palsu #MARCHING BAND #PPDB #PPDB Jateng 2024 #PPDB Semarang