RADARSEMARANG.ID, Semarang - Pemkot Semarang memiliki gedung parkir di Jalan Pandanaran sejak 2020.
Sudah dibagun megah dan diproyeksikan sebagai tempat parkir umum sekaligus parkir di pusat oleh-oleh.
Tetapi ternyata keberadaannya belum optimal. Banyak kendaraan yang memilih parkir di tepi jalan.
Gedung dibangun sebagai lahan untuk parkir berlangganan. Area basement merupakan area parkir sepeda motor.
Di area tersebut, banyak sepeda motor yang terparkir di sana. Sementara untuk parkir mobil atau kendaraan roda empat. Terletak di lantai 4, 5, 6, dan 7.
Pantauan koran ini di lapangan, gedung tersebut cukup sepi. Di lantai 4 hanya 18 mobil terparkir. Di lantai 5, ada 14 mobil yang terparkir, satu di antaranya merupakan ambulans.
Di lantai enam, ada tujuh mobil mobil yang terparkir dan beberapa perkakas perkantoran yang usang. Sementara di lantai tujuh, ada lima mobil yang terparkir dan juga kantin atau tempat makan.
Banyak kendaraan yang justru memilih di bawah jembatan penyebrangan, persimpangan Jalan Pandanaran dan pasar kembang. Tepatnya di depan BRI. Termasuk di depan pusat oleh-oleh Pandanaran.
Salah seorang cleaning service, Sandi, mengatakan, dulu sempat ada petugas parkir di Gedung Pandanaran.
Untuk mobil, satu jam pertama Rp 3.000, jam berikutnya Rp 10.000. “Tapi sekarang tidak ada yang jaga, gratis, parkir umum semua mas," jelasnya.
Tahun 2020 memang diperuntukkan untuk parkir oleh-oleh. Tapi saking sempit dan curamnya, banyak yang memilih parkir di luar.
"Harus pinter-pinternya mengemudi, karena kalau salah dikit di serempet, hanya kurang 2 meter tikungannya," ujarnya.
Ia menambahkan, di lantai tiga merupakan Gedung Dinas Perhubungan. Di lantai dua, delapan, dan sembilan merupakan gedung Puskesmas Pandanaran dan Dinas Kesehatan Kota Semarang.
Sementara itu, Rohmat, sopir ambulans, mengungkapkan para sopir atau pengemudi harus lebih jeli dan pintar ketika hendak parkir.
"Belokan ini aslinya kurang lebar, naik turunnya juga cukup curam, yang terbiasa oke-oke saja. Tapi, kalau tidak terbiasa mepet karena tidak bisa ngepaske akselerasinya," katanya.
Ia mengakui untuk parker harus berhati-hati. Lebih memperhatikan spion kanan kiri. "Kalau naik ngepres, pas mau belok. Kalau sopir handal sudah biasa, kalau sopir baru berbahaya, apalagi mobil besar," ujarnya.
Ia berharap, akses ke gedung parkir lebih dilebarkan lagi. Apalagi kalau ada acara, sudah ke atas, malah ramai, lebih memilih parkir di luar atau di bawah sih kalau mau membeli oleh-oleh.
Juru parkir depan BRI, Ali Gufron, mengakui akses ke gedung memang sempit. Apalagi untuk mobil besar, seperti Pajero, Xpander, Innova, HRV, Stargazer dan lainnya tidak berani masuk ke gedung parkir tersebut. "Sudah sempit, jauh juga aksesnya," ujarnya.
Para pengemudi lebih memilih parkir di luar untuk membeli bunga tabur dan oleh-oleh. "Beberapa juga memilih parkir di pinggir jalan. Ramainya saat weekend," ujarnya. (fgr/fth)
Editor : Baskoro Septiadi