Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Pengakuan Tersangka Penipuan Sebar Link Belanja Online di Semarang, Bosnya Orang China, Sebulan Digaji Rp 13 Juta

Muhammad Hariyanto • Rabu, 10 Juli 2024 | 01:41 WIB
Muhammad Rafi Akbar, alias Cendong, alias Bobo, 20, warga Dusun Dahlia Laut Dendang, Kecamatan Percut Sei Tuan, Deli Serdang, Sumatera Utara ditangkap Polrestabes Semarang.
Muhammad Rafi Akbar, alias Cendong, alias Bobo, 20, warga Dusun Dahlia Laut Dendang, Kecamatan Percut Sei Tuan, Deli Serdang, Sumatera Utara ditangkap Polrestabes Semarang.

RADARSEMARANG.ID, Semarang - M Rafi Akbar, alias Cendong, alias Bobo, 20, warga Sumatera Utara tersangka penipuan mengaku cara kerjanya menyebar link produk melalui media sosial Facebook termasuk Instagram yang diambil dari salah satu marketpalace.

Setelah mendapat sasaran, kemudian korban dimasukan ke dalam grup WhatsApp yang didalamnya berisi komplotan penjahat ini.

"Jadi ketika korban sudah klik linknya, nanti muncul WhatsApp custom service, yang dimana itu, akan dijelaskan untuk perusahaanya, cara bekerjanya dan mendapatkan keuntungan," jelasnya.

"Ketika korban sudah bersedia untuk bergabung akan diberi cara untuk akun tugas. Yang dimana nanti setelah daftar dialihkan ke mentor guru, untuk dipandu untuk mendapatkan tugas dan mendapatkan komisi," lanjutnya.

Pelaku ini juga mengaku, peran dalam kejahatan ini menjadi ketua tim di bawah si bos. Cara kerjanya hanya memantau anggota dalam tim yang diketuainya.

Satu tim tersebut berjumlah 12 orang. Sedangkan cara kerja anggotanya menyebar link kepada korban.

"Bisa jadi ketua tim, jadi bos melihat kinerja kita di sana. Kalau kita bisa menghasilkan omzet banyak, kita bisa naik. Kerja di sana sudah 1 tahun 6 bulan, awalnya ikut teman. Sekarang gajinya perbulan 900 dollar, atau Rp 13 juta," jelasnya.

Pelaku juga menyebut, anggota komplotan kejahatan ini mayoritas dari warga Negara Indonesia.

Kerja komplotan ini, menyebar link kepada korban secara random. Setiap harinya, mendapat puluhan sasaran korban, dan paling banyak dihasilkan korban dari Semarang.

"Paling besar Rp 1 miliar ini. Total gak ingat, banyak. Setiap hari banyak. Omzet sehari puluhan juta. Jumlah korban tidak terhitung. Disana buka jam 9 pagi sampai 5 sore. Bos orang China," jelasnya.

"Tugas korban hanya like produk saja. Jadi kita memberikan link kepada korban, ketika sudah transfer, dan kita memberikan link tugas. Link produk ini juga mengambil link di marketplace hanya sebatas kamuflase, untuk mengerjakan like saja. Bohong-bohongan," jelasnya.

Pemuda ini juga membeberkan, korban yang sudah menyatakan bergabung kerja paruh waktu akan dimasukan ke dalam grup WhatsApp, setelah menyetorkan uang, dengan dalih deposito. Awalnya, komisi dan deposito tersebut dikembalikan kepada korban.

"Upah nanti sudah disediakan di table tugas, nominal, dan semua komisi yang didapatkan dari 10 persen sampai 30 persen (uang deposito). Uang yang dicairkan biasanya diawal saja, dua kali tiga kali permainan. Sekitaran ratusan ribu sampai 1 jutaan. Cair terus. Setelah itu tidak. Kalau gak ikut lagi, tidak ada pemaksaan, tapi selalu diberikan event event supaya mau ikut lagi," pungkasnya. (mha/bas)

Editor : Baskoro Septiadi
#Polrestabes Semarang #PENIPUAN #kriminalitas semarang