RADARSEMARANG.ID - Memiliki gelar Surohadimenggolo V: seorang penasihat perang asal Semarang ini sangat dihormati dan memiliki dua makam, satu di Semarang dan satunya lagi di Sumenep, Madura.
Ia merupakan konsultan Perang Jawa yang kerapkali dimintai nasihat ataupun petuahnya oleh Pangeran Diponegoro sebelum melancarkan serangan dalam Perang Jawa.
Perang yang amat dahsyat ini menjadi pukulan telak bagi VOC dan pemerintah Kolonial Belanda yang ingin menghegemoni kekuasaan atas kepulauan Nusantara.
Singkat cerita, cendekiawan besar asal Semarang ini hendak diasingkan ke Ambon, namun ia mendapat suaka dari Sultan Sumenep yang menjamin keberadaannya kepada Belanda.
Surohadimenggolo V lebih dikenal masyarakat Madura dengan nama Kangjeng Kai, atau di beberapa kesempatan beliau juga dipanggil dengan sebutan Adipati Terboyo.
Bagaimana sepak terjang dan sejarah terkait perjuangan Adipati Terboyo sampai dicap "pemberontak" yang anti Belanda?.
Sejarah Adipati Kanjeng Terboyo
Kanjeng Kiai Adipati Surohadimenggolo ke-V adalah salah satu tokoh cendekiawan radikal yang menjadi penasihat kepercayaan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa.
Kiprahnya dalam Perang Jawa dikarenankan kompabilitasnya dalam menguasai banyak ilmu pendidikan, baik disiplin ilmu politik, ilmu budaya dan seni berperang.
Dalam catatan yang ditulis oleh Mr. Hamid Algadri, Adipati Surohadimenggolo V disebut sebagai Kanjeng Terboyo karena kedudukannya di Terboyo, Semarang.
Karena kharisma serta berbagai pencapaian yang berhasil dicapai, Raffless dalam History Of Java juga menyebut Kanjeng Terboyo sebagai salah satu sumber karyanya.
Naasnya, setelah terlibat dengan Perang Jawa. Pada tahun 1822, Kanjeng Terboyo diturunkan dari jabatannya sebagai "Rato" di Semarang. Kemudian disusul oleh sang putra yang bernama Raden Saleh juga dicopot jabatannya sebagai Bupati Lasem.
Baca Juga: Dijuluki Sunan Terboyo karena Mampu Taklukkan Bajak Laut Pantura
Kedua ayah dan anak ini bahkan ditawan oleh Belanda karena dakwaan sebagai tokoh dibalik Perang Jawa. keduanya kemudian diboyong menggunakan Kapal Pollux menuju Surabaya, lalu Ambon.
Melalui bantuan dari Sultan Sumenep, mereka berdua dilepaskan dan mendapat suaka di Keraton Sumenep. Kanjeng Terboyo memilih untuk tinggal di luar keraton sedangkan Raden Saleh diangkat menjadi Patih Kesultanan Sumenep.
Jabatan Hoofd Regent atau Adipati di Semarang berganti kepada Raden Krisno, anak lain dari Kanjeng Terboyo atau Kangjeng Kai, sebutannya yang lebih populer di Madura.
Nama "Kanjeng Terboyo" disinyalir menghilang dari silsilah kepemimpinan Semarang, hal tersebut karena kiprahnya sebagai "Pemberontak" yang dianggap sebagai aib oleh keluarga.
Hal sama juga dialami oleh Pangeran Diponegoro dan beberapa generasi dibawahnya yang secara disengaja "hilang" dari kakancingan silsilah Keraton Jogjakarta.
Source: Website Kabupaten Sumenep (The Soul Of Madura)
Editor : Baskoro Septiadi