RADARSEMARANG.ID - Rumah sakit yang dinamai dari salah seorang pejuang yang gugur di Pertempuran Lima Hari Semarang memiliki sejarah panjang yang sangat dihormati.
Namanya berasal dari sosok Dokter Kariadi, seorang dokter yang gugur dalam peristiwa perang dalam mempertahankan kemerdekaan dari Penjajahan Jepang serta kembalinya sekutu ke Indonesia.
Sejarah Rumah Sakit Kariadi
Diprakarsai oleh gagasan dari N.F Liem, seorang dokter yang menginginkan pembangunan rumah sakit besar dari gabungan Rumah Sakit Kota ( Stadverband Ziekenhuis ) yang ada di Tawang dengan Rumah Sakit Kota Pembantu ( Hulp Stadverband Ziekenhuis ) di Alun alun Semarang.
Pembangunan ini sukses diselesaikan selama lima tahun di tanggal 9 September 1925 dan lahirlah Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting yang terkenal dengan nama CBZ.
Dengan kapasitas pada masa itu 500 tempat tidur pasien, spesialisasi yang cukup lengkap seperti penyakit dalam, bagian bedah, bagian kebidanan dan penyakit kandungan.
Sekaligus telah dibangun pula asrama, dapur, pencucian, laboratorium, kamar obat, kantor administrasi dan garasi.
Pendidikan paramedis yang ditawarkan oleh Rumah Sakit CBZ ini ternyata juga menarik perhatian banyak kalangan bumiputera, mereka belajar dengan didikan keras para zuster-zuster yang ada di rumah sakit ini.
Didikan yang keras ini bukan hanya isapan jempol semata, selain harus berjaga selama 24 jam, para murid ini digembleng dengan betul-betul serius, kesalahan sedikit saja bisa berujung pemecatan.
Saat Jepang mulai masuk Hindia Belanda dan berhasil menguasai negeri ini, tak banyak yang mereka lakukan untuk CBZ , yang kemudian diganti nama menjadi Purusara ( Pusat Rumah Sakit Rakyat ).
Penguasa Jepang terkesan menarik diri dari sistem berjalannya rumah sakit ini, mereka tak terjun secara langsung dan hanya melanjutkan usaha yang telah ada.
Tentunya hal ini merupakan hal baik bagi Indonesia, selain pertanggungjawaban rumah sakit yang diserahkan ke rakyat pribumi, Jepang juga menawan dokter-dokter Belanda yang bekerja disana.
Baca Juga: Tasripin, Konglomerat Semarang Masa Kolonial yang Disegani dan Dianggap Setara Ratu Belanda
Saat kembalinya sekutu ke Hindia Belanda, bersamaan dengan diproklamirkan Kemerdekaan Indonesia sehingga posisi Jepang yang dikalahkan semakin terhimpit.
Hal inilah yang membuat rakyat Semarang kemudian melucuti tentara- tentara Jepang yang masih berada di Kota Semarang. Namun, Jepang mengatakan hanya tunduk terhadap pihak yang mengalahkannya yaitu sekutu.
Karena tensi yang memanas akhirnya meletuslah Peristiwa Lima Hari di Semarang sebagai buntut dari konflik yang dikenal menewaskan Dokter Kariadi ini.
Saat pihak Republik Indonesia berdaulat, Purusara berganti nama menjadi RSUP ( Rumah Sakit Umum Pusat ) Semarang dan kemudian berganti nama lagi pada tahun 14 April 1964 dengan nama Rumah Sakit Kariadi hingga saat ini.
Source: rskariadi.co.id
Editor : Baskoro Septiadi