RADARSEMARANG.ID - Kota Semarang di masa lalu merupakan salah satu kota penting yang menjadi kota pelabuhan yang sibuk serta sangat ramai oleh aktivitas perdagangan.
Di kota ini lahir peradaban dengan keberagaman budaya yang sangat kaya, berbagai etnis tinggal berdampingan dengan akur tanpa adanya masalah besar.
Semarang juga menjadi rumah bagi distrik-distrik tempat tinggal dengan latar penduduk yang berbeda-beda.
Sebut saja di kota ini terdapat Little Netherland, Kampung Pecinan, Daerah Kauman dan melebur bersama dengan masyarakat lokal.
Keramaian di kota ini turut membuka jalur ekonomi yang berkembang dengan pesat, bahkan kota ini melahirkan beberapa konglomerat-konglomerat yang disegani.
Jika kita biasanya lebih mengenal sang raja gula Semarang, Oei Tiong Ham karena kiprahnya menjadi taipan internasional yang bertempat di Semarang. Kali ini kita akan membahas konglomerat lain bernama Tasripin.
Ia merupakan seorang bumiputera pengusaha kaya raya yang bergelud dalam bidang usaha kulit pada abad ke 20 awal. Usahanya diwarisi dari ayahnya yang juga bergelud di bidang yang sama.
Namun kemudian Tasripin melebarkan usaha bisnisnya di bidang kopra dan penjualan properti. Dalam menjalankan bisnisnya, Tasripin melakukan hal yang jarang dilakukan oleh pebisnis lain yakni menyewa seorang ahli hukum dari Belanda.
Aset yang kemudian ia peroleh lalu diinvestasikan lagi dalam bentuk properti dan bangunan yang menjadikan ia lebih terkenal dengan sebutan tuan tanah.
Dikabarkan, ia membeli banyak bangunan di daerah ini dengan tujuan untuk mengurangi kepemilikan tanah oleh orang-orang Belanda.
Tasripin mendiami Kampung Kulitan, di Jalan Mataram yang pada saat itu seluruh kampung tersebut merupakan milik ia seorang. Kampung ini juga menjadi tempat tinggal bagi keluarga serta kerabat dan para pekerja yang bekerja untuk dirinya.
Kampung ini didominasi oleh bangunan berasitektur campuran Melayu - Indiesche yang memiliki atap lancip dengan anak tangga dibagian bawahnya.
Baca Juga: Sejarah Pemindahan Pusat Pemerintahan Kabupaten Semarang, dari Kanjengan Sampai Ungaran
Menurut beberapa sumber, Tasripin memiliki kekayaan yang mencapai 45 juta Gulden, ia juga terkenal dekat dengan pemerintahan Hindia Belanda.
Tasripin menjadi satu-satunya pengusaha pribumi yang pernah diberi hadiah ulang tahun langsung oleh Ratu Wilhelmina, Ratu Belanda.
Tasripin diberi hadiah berupa sejumlah uang koin emas yang bergambar wajah dari Ratu Wilhelmina, karena aslinya ia memiliki rasa ketidaksukaannya pada Belanda, ia meminta izin untuk memasang koin tersebut pada lantai di rumahnya.
Pemasangan ini dilakukan di ruang tamu pada bagian depan, sehingga para aparat Hindia Belanda tidak berani menggeledah rumahnya, karena akan menginjak serta menghina ratu mereka tersebut.
Kini, tanah peninggalan milik Tasripin masih berserakan di wilayah Kota Semarang dari Kampung Kulitan, Jalan Pemuda hingga beberapa kampung di Jalan Mataram.
Source: Kota Semarang Tempo Doeloe (Fb), Universitas Diponegoro, Radar Bogor (JawaPos)
Editor : Baskoro Septiadi