RADARSEMARANG.ID - Semarang dikenal sebagai kota yang menjadi awal mula berkembangnya transportasi kereta api di Indonesia.
Hal ini ditandai dengan dibangunnya jalur kereta api dari Samarang menuju Vorstenlanden oleh pemerintah kolonial.
Jalur ini awalnya dibangun untuk sarana pengangkutan hasil bumi dan penumpang dari Semarang menuju Solo/Yogyakarta yang disebut Vorstenlanden atau wilayah kesultanan.
Pada paruh abad ke-19, Semarang memiliki pelabuhan penting yang dirancang sebagai pelabuhan eksportir terbesar di Indonesia. Sementara itu, perkebunan di Vorstenlanden banyak memasok komoditi ekspor, terutama gula.
Pembangunan jalur ini dibangun berdasarkan konsesi yang diajukan pada Agustus 1861 dan disahkan oleh oleh Gubernur Jenderal yang berkuasa saat itu, Ludolph Anne Jan Wilt Sloet van de Beele pada 28 Agustus 1862.
Kemudian proyek ini dipegang oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) yang berkantor pusat di Lawang Sewu.
Pada tanggal 27 Agustus 1863, perusahaan ini disahkan menurut akta notaris Amya Esser di Amsterdam, dan segera melaksanakan proyek pembangunan lintas Samarang hingga Vorstenlanden.
Modal awal yang digelontorkan NIS sebesar 2.670.000 gulden namun dalam pelaksanaanya, NIS mengalami defisit anggaran.
Pemerintah pun turun tangan memberikan pinjaman 4 juta gulden untuk per km jalur kereta api dibutuhkan biaya sekitar 85 ribu gulden.
Awal pembangunan jalur ini adalah untuk rute Semarang hingga Tanggung, pembangunan dimulai pada hari Jumat tanggal 17 Juni 1864.
Dimulai dari daerah Kemijen yang menjadi titik 0 km jalur, Disinilah Stasiun Samarang dibangun.
Pembangunan terus dilanjutkan hingga ke daerah Tanggung, Kabupaten Grobogan yang juga dibangun Stasiun Tanggung.
Proyek jalur pertama kereta api di Indonesia ini rampung pada 10 Agustus 1867, kemudian dilanjutkan ke Kedungjati dan mulai dioperasikan untuk angkutan umum pada 19 Juli 1868.
NIS melanjutkan jalur rel dari Kedungjati hingga Stasiun Solobalapan, Surakarta, yang mulai beroperasi 10 Februari 1870.
Perusahaan kemudian ingin melanjutkan pembangunan jalur Surakarta-Yogyakarta, namun saat itu didera masalah finansial.
Mereka kembali menerima pinjaman tanpa bunga dari Pemerintah Hindia Belanda karena fungsi KA penting bagi pertumbuhan ekonomi dari usaha perkebunannya.
Para pengusaha perkebunan pun bersedia membayar uang di muka demi memanfaatkan jasa kereta api.
NIS memperoleh modal lagi dan awal tahun 1871 kembali melanjutkan pembangunan jalur Surakarta-Yogyakarta.
Pada 1 Januari 1973, NIS membuka dan mengoperasikan jalur Stasiun Lempuyangan-Surakarta.
Pada prosesnya diawasi oleh insinyur kepala NIS yaitu J.P de Bordes, Pembangunan menggunakan lebar jalur 1.435 mm (noormalspoor), meniru standar lebar jalur di Belanda.
Jalur tersebut melintasi tanah pemerintah, tanah-tanah raja dan tanah bebas, saat itu pembangunannya dibagi atas empat seksi.
Selama pembangunan, dipekerjakan kuli bebas dengan sistem upah.
Para kuli berasal dari penduduk sekitar, orang-orang Cina yang didatangkan dari Kalimantan dan Bangka serta orang-orang dari Madura.
Editor : Baskoro Septiadi