Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Sejarah Klenteng Sam Poo Kong, Destinasi Wisata Semarang dengan Budaya Khas Asia Timur

Aris Hariyanto • Minggu, 19 Mei 2024 | 16:37 WIB
Sejarah Klenteng Sam Poo Kong di Simongan, Semarang, Jawa Tengah.
Sejarah Klenteng Sam Poo Kong di Simongan, Semarang, Jawa Tengah.

RADARSEMARANG.ID - Klenteng Sam Poo Kong merupakan salah satu destinasi wisata Semarang dengan seni budaya yang khas.

Letak klenteng Sam Poo Kong berada di Jl. Simongan No.129, Bongsari, Kec. Semarang Barat, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Bangunan klenteng Sam Poo Kong menunjukkan pengaruh gaya arsitektur Cina dan Jawa abad ke-14, dengan luas 1.020 meter persegi.

Selain itu, Klenteng ini memiliki warna merah mencolok dan atap pagoda berlapis tiga, yang mencerminkan budaya khas Asia Timur.

Meski demikian, Klenteng Sam Poo Kong juga merupakan klenteng Cina tertua di kota Semarang.

Klenteng Sam Poo Kong juga dikenal sebagai Gedung Batu Temple karena bentuknya yang menyerupai gua batu besar yang berada di sebuah bukit batu.

Menurut sejarahnya, Klenteng Sam Poo Kong dibangun berdasarkan kisah kedatangan seorang laksamana Zheng He (Cheng Ho) ke Semarang.

Laksamana Cheng Ho merupakan seorang penjelajah Muslim dari Cina Daratan yang diketahui berasal dari Dinasti Ming di Tiongkok.

Pada saat itu, Cheng Ho membawa kapalnya merapat ke Pantai Utara Semarang dan berlabuh di pantai Simongan, Kota Semarang.

Saat berlabuh, juru armada kapal Wang Jing Hong sakit parah dan dibawa ke gua batu di wilayah tersebut untuk istirahat dan pengobatan.

Setelah beberapa waktu menunggu Wang Jing Hong menjalani penyembuhan, Cheng Ho lalu meninggalkan Jawa.

Namun, banyak anak buah Cheng Ho memutuskan untuk tetap tinggal dan menetap di daerah itu, termasuk Wang Jing Hong.

Mereka kemudian menikah dengan penduduk setempat, dan sampai sekarang, Simongan dihuni oleh keturunan Cina.

Sebagai bentuk penghormatan, Wang Jing Hong membangun sebuah patung Cheng Ho (Sam Po Tay Djien) di dalam gua batu tersebut.

Patung ini dianggap sebagai simbol penghormatan dan kenangan yang diingat oleh penduduk sekitar.

Selanjutnya, Wang Jing Hong wafat pada usia 87 tahun dan dikebumikan di sekitar daerah tersebut.

Tempat peristirahatannya kemudian dikenal sebagai Makam Kyai Juru Mudi, sebagai penghormatan atas kontribusinya sebagai juru mudi dalam armada Laksamana Cheng Ho.

Pada 1704, kuil dan gua yang asli runtuh karena tanah longsor. Masyarakat setempat membangunnya kembali 20 tahun kemudian.

Namun, pembangunnaya berada di lokasi yang berbeda, lebih dekat ke pusat kota dan aman dari kerusakan alam.

Setelah direkonstruksi, kuil dan gua tersebut digunakan sebagai tempat ibadah dan penghormatan kepada Cheng Ho.

Hingga kini, klenteng Sam Poo Kong menjadi destinasi wisata di kota Semarang dengan dan banyak dikunjungi orang.

Editor : Baskoro Septiadi
#Sejarah Klenteng Sam Poo Kong #Simongan #sam poo kong #wisata semarang #dinasti ming #Makam Kyai Juru Mudi #cina #klenteng tertua #Klenteng Sam Poo Kong #Gedung Batu Temple #KOTA SEMARANG #kerusakan alam #armada kapal #laksamana cheng ho #Tiongkok #gaya arsitektur #destinasi wisata #Sam Po Tay Djien #budaya khas Asia Timur