RADARSEMARANG.ID, Semarang - The Republic Institute, merilis hasil survey yang dilakukan pada 1 - 10 Mei 2024.
Ada tiga besar tokoh yang memiliki elektabilitas maju wali kota dalam Pilwakot yaitu Hevearita Gunaryanti Rahayu berada di urutan pertama dengan persentase 16,8 persen.
Disusul, Yoyok Sukawi 15,8 persen dan Ade Bhakti Ariawan 14,5 persen.Dari hasil ini, kemungkinan akan ada pertarungan antara petahana Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu.
Mbak Ita sapaannya akrab Hevearita, diprediksi akan melawan CEO PSIS Semarang, Yoyok Sukawi, sangat memungkinkan pada Pilwakot Semarang 2024.
“Adanya head to head sangat mungkin, nanti akan ada pergerakan dari parpol secara realistis, bagaimana mengalahkan PDI-P ini akan lebih menarik,” kata Pengamat Politik Undip, Wahid Abdulrahman saat Ngobrol Politik: Tergiur Figur yang digelar Forum Wartawan Provinsi dan DPRD Jateng (FWPJT) dan Forum Wartawan Balai Kota (Forwakot) Semarang, di Setos Cafe, Kamis (16/5)
Yoyok sendiri saat ini melamar ke seluruh partai koalisi Indonesia Maju, menurutnya, itu bagian dari konsolidasi.
Pasalnya, selain tiket atau rekomendasi untuk bisa maju pilwakot, jaringan politik sangat diperlukan.
“Dengan langkah Yoyok ini, kemungkinan head to head antara Ita dan Yoyok pun sangat memungkinkan,” tambahnya.
The Republic juga merilis survei kepuasan terhadap kinerja pemerintah. Kepuasan terhadap kinerja Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu berada di angka 53 persen.
Halini menjadi faktor penting, jika petahana kembali maju.
“Kalau tadi lihat 53 persen, sebenarnya cukup mengkhawatirkan. Ini warning. Ini PR bagi petahana,”ujarnya.
Dirinya tidak memungkiri petahana memiliki program yang sangat bagus, tapi yang harus dilakukan adalah menyampaikan kepada pemilih.
MunculnyaYoyok juga perlu diperhatikan, lantaran menjadi CEO PSIS, anggota DPR RI, dan memiliki jaringan politik yang kuat.
“Tapi PDI-P tentu tidak ingin kalah di Pilkada, Semarang juga menjadi barometer di Jateng, ketika rekom turun petahana. Saya kira PDI-P akan bisa lebih solid,”ucapnya.
Peneliti The Republic Institute, Sufyanto mengatakan, dalam teori voting behavior bagaimana cara menilai incumbent sangat mudah dilihat dari tingkat kepuasan.
Jikatingkat kepuasan bisa diperbaiki hingga menjelang 27 November, tentu akan menaikan elektabilitas.
“Harus diperbaiki, kalau tidak akan sulit menaikkan elektabilitas. Banyak pengalaman incumbent. Kalau kebijakan tidak bisa dirasakan tren akan semakin turun. Itu catatan bagi incumbent dimana saja. Penting ketika ikut kompetisi kembali mempertimbangkan aspek kinerja,” pungkasnya. (den)
Editor : Muhammad Rizal Kurniawan