RADARSEMARANG.ID, Semarang - Lebih dari dua dekade Ahmad Soleh konsisten menjadi perajin rotan di Kota Semarang.
Ia merupakan satu-satunya perajin rotan yang masih eksis di Kampung Krabatan, Kelurahan Pakintelan, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.
Meski sudah tembus ke pasar internasional, kini tak banyak anak muda yang tertarik menjadi penerus.
Pria paro baya itu menjadi perajin rotan sejak 1997. Ketrampilannya cukup matang untuk membuat berbagai macam bentuk permintaan kerajinan rotan.
Beberapa produk yang dibuat Soleh antara lain keranjang buah, meja, kursi, vas bunga, pernak pernik aksesoris rumah tangga, dan lainnya.
Bahan baku rotan merupakan asli dari Kalimantan yang ia dapatkan dari pengepul di Jepara.
"Saya bisa mengerjakan 100 macam bentuk. Hampir semuanya permintaan semua orang saya kerjakan," jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Ia juga berhasil mengekspor produknya ke Inggris. Yakni berupa anyaman bentuk bunga, kupu-kupu, dan kumbang dari rotan.
Selain itu anyaman kanguru tiga dimensi juga ia buat dan diekspor ke Australia. Terkadang ia mampu menghabiskan satu atau dua kuintal saat mendapatkan pesanan besar.
Seperti bentuk kanguru ia mengaku bisa menghabiskan tiga kuintal rotan."Saat ini pesanan dari luar negeri masih ada tapi tak sesering dulu," keluhnya.
Menurutnya, usaha rotan dewasa ini semakin meredup. Sebelumnya, pengrajin di kampungnya mencapai puluhan.
Namun saat ini hanya hitungan jari yakni lima orang pengrajin. Rata-rata pindah profesi atau memilih pekerjaan yang lebih menjanjikan.
Terutama anak-anak muda sekarang, sangat jarang yang tertarik pada kerajinan rotan.
"Makanya selain sebagai usaha, tempat ini juga menjadi edukasi para generasi muda khususnya pelajar dan mahasiswa agar setidaknya ada yang terbuka untuk mengembangkan kerajinan rotan di Kota Semarang," jelasnya.
Menurutnya, saat ini sudah jarang sekali menemukan pengrajin rotan. Bahkan di Kota Semarang pun diperkirakan hanya dirinya yang masih eksis menggeluti kerajinan rotan.
Banyak yang dulunya juga pengrajin sudah berpindah dengan bahan baku sintetis yang dinilai lebih murah dan mudah didapatkan.
"Kalau perajin rotan memakai bahan sintetis jelas bisa. Tapi kalau pengrajin bentuk menggunakan bahan sintetis belum tentu bisa memakai rotan," jelasnya. (mia/ton)
Editor : Baskoro Septiadi