RADARSEMARANG.ID, Semarang - Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes) Semarang memutuskan menaikkan Iuran Pengembangan Institusi (IPI) mencapai empat kali lipat untuk semester depan.
Hal itu membuat ratusan mahasiswa Unnes Semarang menggeruduk gedung rektorat melakukan aksi protes kenaikan IPI. Setidaknya ada enam tuntutan yang diinginkan para mahasiswa.
Kenaikan IPI yang mencapai empat kali lipat itu tentu membuat para mahasiswa keberatan. Kenaikan IPI tersebut bervariasi sesuai dengan masing-masing jurusan.
"Angkanya cukup fantastis Rp 100-250 juta. Padahal IPI tertinggi kategori 5 sebelumnya hanya menyentuh angka senilai Rp 25 juta," ujar Koordinator Lapangan Aksi Abdul Rozaq Salis kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Di sisi lain ia juga turut prihatin terhadap rekan-rekannya jurusan PGSD. Selain lokasi kampusnya termarjinalkan di Ngaliyan, fasilitas dan sarpras di sana juga kurang memadai.
Mahasiswa semakin merasa keberatan ketika IPI menembus angka Rp 100 juta. Sementara itu, jurusan kedokteran menembus hingga Rp 250 juta.
"Di FT (Fakultas Teknik) itu masih banyak kursi zaman majapahit, di FBS juga, FISIP apalagi, tentunya tidak etis ya, membiayai anak kuliah sejumlah Rp 70 juta dan hanya mendapatkan kursi Majapahit tanpa ruang ber-AC," ungkap Marcellus Diaz, Menteri Keagamaan BEM KM Unnes.
IPI di FISIP yang tahun lalu berkisar Rp 5-15 juta, tahun ajaran baru ini akan naik dengan angka maksimal Rp 72 juta.
"Yang katanya Unnes itu kampus kerakyatan tapi hari ini jelas ada upaya komersialisasi yang dilakukan oleh birokrasi kampus. Rata-rata mahasiswa dari Jawa Tengah tentu gak masuk akal biaya IPI segitu tapi UMP masih berkisar Rp. 2 juta," jelas Rozaq yang juga Menko Sospol BEM KM Unnes.
Usai berlangsungnya orasi, semua tuntutan yang diajukan mahasiswa dimentahkan oleh Wakil Rektor I Prof Zaenuri yang menemui mahasiswa. Sementara itu, Rektor UNNES Prof. Martono tidak tampak mendatangi mahasiswa. (mia/mg7/mg8/mg10/mg11/ton)
Editor : Baskoro Septiadi