RADARSEMARANG.ID—Banyak tinggalan masa klasik atau era Kerajaan Mataram Kuno yang ditemukan di tengah Kota Semarang.
Dulu diperkirakan, garis pantai sampai di tengah Kota Semarang.
Arkeolog asal Semarang Tri Subekso mengatakan, wilayah Bukit Bergota dan Bukit Pleburan di masa lalu diduga berada di tepi pantai Semarang.
Namun seiring berjalannya waktu, terjadi sendimentasi dan terbentuk daratan hingga di wilayah pantai Semarang saat ini.
Di daerah tersebut ,berdasarkan catatan masa kolonial, sempat ada temuan benda-benda bersejarah yang diduga berasal dari masa Kerajaan Mataram Kuno.
“Ada catatan di koran De Tribune edisi 21 Oktober 1936, saat pembangunan gereja Katedral Randusari, ketika menggali fondasi ditemukan adanya fragmen candi Hindu berbentuk lonceng,” jelasnya.
Dugaan adanya permukiman kuno di area Bergota juga diperkuat dengan adanya catatan temuan nekara di Bergota.
Benda berbahan perunggu itu digunakan manusia pada masa lalu sebagai salah satu alat dalam upacara peribadatan.
Tri Subekso mengatakan, penemuan nekara di Bergota mengindikasikan telah ada peradaban manusia di Kota Semarang sejak abad ke-2 sebelum Masehi (SM).
Nekara itu menjadi bukti di daerah Bergota pernah ada kehidupan dan permukiman.
“Bergota itu daerah bukit. Daerah-daerah bukit, gunung, dan gua dipilih manusia kala itu sebagai tempat bermukim,” jelasnya.
Penemuan nekara di Bergota terlacak dari sebuah catatan yang ditulis dalam bahasa Belanda.
Catatan itu memuat cukup detail tentang penemuan nekara itu. “Nekara itu bisa dilihat di Museum Nasional. Kondisinya masih bagus,” ucap Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Semarang ini.
Pada catatan-catatan sejarah, lanjut Tri Subekso, juga diketahui adanya penemuan arca Siwa dan antefiks candi di daerah Kelurahan Jomblang, serta arca Manjusri di Kelurahan Ngemplak Simongan.
Arca-arca ini diduga berasal dari abad 10 masehi.
Masih banyak lagi temuan-temuan arkeologi yang diduga berasal dari masa Kerajaan Mataram Kuno di Kota Semarang.
Sebuah makam tua berada di tengah pemakaman umum Sukolilo, Kelurahan Pleburan, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang.
Bila diperhatikan, ada yang tak biasa pada nisan yang dikenal warga sebagai makam Mbah Sukolilo.
Dari bentuknya, terlihat jelas bila nisan tersebut adalah lingga. Ada sekitar 7 lingga patok yang berdiri di tengah makam.
Sementara di sekitar makam, terdapat berbagai macam batuan kotak mirip dengan batuan yang biasa digunakan sebagai menyusun bangunan candi.
Bahkan bila diperhatikan dengan seksama, beberapa batuan terlihat memiliki guratan atau ukiran yang menunjukkan bila itu merupakan batuan candi.
Batuan yang ada di makam Mbah Sukolilo ini memang diduga dulunya merupakan bangunan candi di era Kerajaan Mataram Kuno.
Oleh masyarakat setempat, Mbah Sukolilo merupakan salah satu murid Sunan Kalijaga dan penyebar agama Islam di wilayah tersebut.
Dugaan batuan-batuan tersebut merupakan reruntuhan candi diperkuat dengan adanya pecahan arca yang diduga bagian kepala Ganesha ukuran besar dan potongan kaki arca yang lebih kecil.
“Kalau melihat temuan-temuan lingga dan batuan-batuan tersebut, diduga di daerah ini dulunya merupakan sebuah bangunan candi,” tutur Tri Subekso. (ton)
Editor : Pratono