Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Mengenal Bank Jelantah Sekar Sejagad 88, Sekelompok Warga Gedawang Semarang Sukses Ubah Minyak Jelantah Jadi Rupiah

Muhammad Iqbal Amar • Senin, 6 Mei 2024 | 22:44 WIB

 

 

Salah satu karyawan Bank Jelantah Sekar Sejagad 88 saat melayani warga menjual minyak jelantah
Salah satu karyawan Bank Jelantah Sekar Sejagad 88 saat melayani warga menjual minyak jelantah

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Warga Gedawang, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang mampu mengolah minyak jelantah jadi rupiah. 

Namanya Bank Jelantah Sekar Sejagad 88. Sebuah kelompok masyarakat yang secara sadar memungut dan memanfaatkan limbah minyak jelantah dari seluruh warga Kota Semarang dan beberapa kota/kabupaten di Jawa Tengah. 

Bangunan tempat penukaran jelantah menjadi rupiah Bank Jelantah berdiri sederhana. Tembok bangunan bercat hijau berdiri kokoh dari batako. Ventilasi juga terbuat dari bambu serta atap asbes menaungi bangunan tersebut.

Baca Juga: Disdik Kota Semarang Beber Alasan Gaji Guru PPPK Telat Cair, Ternyata karena Ini

Dua daun pintu terbuka lebar membuat tumpukan jeriken penampung minyak jelantah terlihat jelas dari luar.

Didalamnya juga terdapat beberapa ruangan yang diberi sekat papan. Serta timbangan untuk menakar jumlah minyak jelantah per kilogram.

Disitulah para penggerak lingkungan menampung sementara limbah minyak jelantah dari warga Semarang bahkan juga dari luar kota.

Direktur Bank Jelantah Sekar Jagad 88 Heru Santoso mengakui, berdirinya bank jelantah tak lepas dari keprihatinan kawan-kawan bank sampah terhadap penjualan minyak jelantah yang tidak ada harganya sama sekali.

Selain itu, masyarakat cenderung mengabaikan dan jika dibiarkan nantinya juga berpotensi merusak lingkungan ketika dibuang sembarangan.

"Lantas kami terus memikirkam bagaimana jelantah itu bisa menghadirkan berkah," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Baca Juga: Geger Bayi Dibuang Dalam Ember Cucian di Semarang, Pelaku Tinggalkan Surat Ini

Sejak saat itulah, rekan-rekan penggerak lingkungan berkolaborasi untuk menggencarkan sosialisasi sekaligus mengedukasi masyarakat. Bahwa minyak jelantah punya nilai manfaat ekonomi jika diarahkan dengan pemanfaatan yang tepat yakni untuk biodiesel.

"Ternyata minyak jelantah bisa diberdayakan untuk ekonomi serkuler. Pada waktu itu kita terus menghimpun dari rumah-rumah warga," jelas Heru.

Sementara itu, Bendahara Yumna Sole menjelaskan Bank Jelantah Sekar Sejagad 88 dirintis setelah masa pandemi (2020).

Berangkat dari sebuah himbauan untuk mengumpulkan jelantah dari warga dalam rangka bentuk kepedulian terhadap lingkungan.

"Karena latarbelakang saya dari limbah B3 maka saya paham nilai dan manfaat jelantah. Saat itu semua rekan-rekan dibawah naungan bank sampah mulai menghimpun jelantah," ujar Yumna.

Meski demikian, awalnya memang tak mudah untuk menyosialisasikan hal tersebut ke masyarakat.

Namun lambat laun mereka dapat memahami manfaat dan pentingnya menjaga lingkungan diawali dengan pengumpulan limbah rumah tangga berupa minyak jelantah. Melalui eksportir, minyak tersebut akan diolah menjadi biodiesel di luar negeri.

Baca Juga: Pabrik Aspal PT Jumbo Jade di Kawasan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang Terbakar, Begini Kronologinya

"Caranya kita kebetulan punya link dengan eksportir langsung. Jelantah punya nilai lebih ketika diolah menjadi biodiesel. Tapi prosesnya bukan dibindonesia sehingga harus diekspor," papar Yumna.

Yumna bersyukur, Bank Jelantah Sekar Sejagad 88 menjadi salah satu kepercayaan perusahaan eksportir minyak jelantah yang nantinya akan diubah menjadi biodiesel.

Saat ini bahkan sudah menjadi gudang transit perusahaan ekspor itu. Bukan lagi menjadi supplier tetapi sudah menjadi purchasing tetap.

"Saat ini kita membeli minyak jelantah dari masyarakat itu Rp. 9.500 perkilogram minyak jelantah," akunya.

Ia bercerita, saat awal merintis bank jelantah enam bulan pertama dijalani tanpa adanya omset sama sekali. Bahkan rela jemput bola bagi setiap warga yang memiliki minyak jelantah berapapun.

Baca Juga: Bek PSIS Semarang, Alfeandra Dewangga Buka Peluang Menyusul Timnas U-23 di Paris Usai Posting Datangi Kedubes Prancis

Mulai kelihatan meroket pada 2022 dengan berkembang pesat. Awalnya berkisar 100 kilogram perhari. Sedangkan saat ini sudah mencapai dua ton per hari.

"Jadi dua ton itu setara dengan nilai beli Rp. 19 juta," tutur Yumna.

Marketing Bank Jelantah Sekar Sejagad 88 Sri Mulyani  mengungkapkan, saat ini pihaknya tidak lagi harus mencari minyak jelantah.

Justru minyak jelantah itu yang datang sendiri ke pusat penampungan di Banyimanik. Bahkan, ekspansi pengambilan minyak jelantah semakin luas.

Yakni di beberapa kota di Jateng diantaranya Kendal, Batang, Pekalongan, Demak, Kudus, hingga Rembang. Serta Jawa Tengah bagian selatan seperti Kebumen.

Baca Juga: Seri Sejarah Semarang ! Kabarnya, Candi Duduhan di Kecamatan Mijen Lebih Besar dari Candi Gedongsongo. Ini Perbandingan Ukurannya!

"Saat ini rata-rata perhari bendahara harus menyiapkan cash senilai Rp 50 juta karena memang minyak jelantah yang bisa kita himpun sudah mencapai tujuh ton per hari," tandasnya.

Sri Mulyani menambahkan, dalam kegiatan ekonomi kreatif yang berorientasi pada pelestarian lingkungan itu juga membutuhkan surat-surat izin penjualan secara resmi tentang pemanfaatan jelantah.

Untuk ekspansi lebih luas, pihaknya juga menggandeng toko-toko retail di setiap wilayah meskipun tidak semuanya.

"Meskipun minyak jelantah baunya beragam kita tetap mengurus tanpa ada rasa jijik sedikitpun. Karena kita sadar bersatu dan berkolaborasi untuk menjaga alam," pungkasnya.(mia/bas)

 

 

 

Editor : Baskoro Septiadi
#Bank Jelantah Sekar Sejagad 88 #Minyak jelantah jadi rupiah #Minyak #LINGKUNGAN #KOTA SEMARANG #pedulilingkungan #cuan #ekonomikreatif #minyak jelantah #Jelantah