Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

May Day, Mahasiswa dan Buruh di Semarang Kritik Kinerja Pemerintah dan Singgung Banjir Kaligawe

Muhammad Hariyanto • Rabu, 1 Mei 2024 | 22:11 WIB
Aksi unjuk rasa  May Day alias hari buruh sedunia di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah terus berdatangan, Rabu (1/5/2024). (M Hariyanto/Jawa Pos Radar Semarang)
Aksi unjuk rasa May Day alias hari buruh sedunia di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah terus berdatangan, Rabu (1/5/2024). (M Hariyanto/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Aksi unjuk rasa  May Day alias hari buruh sedunia di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah terus berdatangan, Rabu (1/5/2024).

Setelah aksi buruh, kali ini giliran para mahasiswa yang ada di Perguruan Tinggi yang ada di Kota Semarang.

Terlihat, peserta aksi longmarch dari arah Lapangan Simpang Lima Semarang melintas di Jalan Pahlawan menuju Kantor Gubernur Jawa Tengah, sekitar pukul 13.00.

Mahasiswa mahasiswa ini gabungan perwakilan dari Undip, Unissula, UIN Walisongo, Unnes, USM, Unwahas.

Mereka juga membawa dan membentangkan spanduk termasuk poster bertuliskan kritikan terhadap pemerintah "Buruh Jadi Budak, Oligarki Makan Enak".

"Hidup mahasiswa, hidup mahasiswa, hidup mahasiswa," teriak orator pria dari perwakilan mahasiswa, diatas kendaraan pengeras suara, disambut teriakan masa demonstrasi saat menuju gerbang titik gerbang Kantor Gubernur Jawa Tengah, Rabu (1/5/2024).

Selain itu, peserta demonstrasi juga membawa bendera diantaranya PMII, HMI. Selain itu juga terlihat ratusan perempuan dan laki-laki mengenakan seragam atau atribut buruh, dengan membawa bendera berwarna merah dan bertuliskan "Serikat Buruh Federasi Independen".

"Hidup buruh, hidup buruh, hidup rakyat Indonesia, hidup rakyat yang tertindas," kata orator.

Orator tersebut juga menyampaikan, aksi dan kedatangannya di lokasi ini, untuk membantu perjuangan rakyat utamanya para buruh dengan tujuan supaya mendapat kesejahteraan.

Menurutnya, permasalahan yang dihadapi sekarang ini adalah undang undang cipta kerja yang tidak berpihak bagi buruh.

"Kita datang kesini untuk memperjuangkan kesejahteraan buruh. Undang undang cipta kerja, bukan membuka lapangan kerja tetapi membuat buruh di PHK secara sepihak. Kebijakan yang bersekongkol dengan oligarki, dapat merusak kebijakan," katanya.

Baca Juga: Peringati Hari Buruh, Puluhan Wanita Olahraga Pound Fit dengan Pakaian Profesi di Taman Indonesia Kaya Semarang

Sementara, orator perwakilan mahasiswa dari Universitas Islam Sultan Agung Semarang, juga mengkritik pemerintahan dan wakil rakyat terkait banjir yang ada di wilayah Semarang.

Banjir tersebut terjadi tidak hanya setahun sekali, dan belum bisa teratasi. Sehingga juga berdampak terhadap aktivitas kuliah di Kampus Unissula Semarang.

"Banjir Kaligawe juga membuat kawan kami (mahasiswa) meninggal, banjir, kuliah diliburkan. Banjir sudah menggerogoti sungai yang ada dan dampaknya kepada masyarakat. Saya tidak tau apa itu kinerja dari DPRD di Propinsi Jawa Tengah," jelasnya.

Orator juga menyebutkan, terdapat beberapa faktor penyebab banjir, salah satunya adalah penurunan tanah yang diduga disebabkan oleh perusahaan yang tidak mematuhi kebijakan atau aturan yang berlaku.

Selain itu ada juga perusahaan yang diduga membuang limbah sembarangan.

"Banjir di Semarang ini besar. Tidak hanya di kaligawe, Semarang kalinya banjir itu jutaan tidak hanya sebuah lagu. Disebabkan penggundulan hutan di Semarang atas. Perusahaan tidak mentaati regulasi," jelasnya.

Sementara, laki-laki Orator perwakilan dari buruh mengkritik terkait undang undang cipta kerja. Termasuk, sekarang ini sembako banyak yang terus merangkak naik. Hal ini membuat rakyat kecil, termasuk kaum buruh semakin tercekik.

"Korupsi terjadi dimana mana, bukan hanya milyar tetapi sudah triliunan. Ini yang membuat bangsa kita menjadi miskin. Persatuan menjadi rusak. Belum lagi kasus kasus yang ditangani dengan baik. Ini tidak boleh dibiarkan," katanya.

Di sisi lain, petugas aparat kepolisian dari Polrestabes Semarang sudah berjajar melakukan barikade di gerbang, untuk mengantisipasi peserta demontrasi yang berupaya merangsek ke pintu gerbang untuk masuk ke dalam kantor Gubernur Jawa Tengah yang berdampingan dengan Gedung wakil rakyat atau DPRD Propinsi Jawa Tengah. (mha/bas)

Editor : Baskoro Septiadi
#may day #tuntutan buruh #hari buruh #Demo Buruh Semarang #Demo Buruh