Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Seri Sejarah Semarang! Sempat Jadi Hiasan Taman, Arca Candi Duduhan Raib Dicuri Maling

Adennyar Wicaksono • Rabu, 1 Mei 2024 | 13:00 WIB
CANDI KUNO : Ekskavasi di reruntuhan Candi Duduhan yang dilakukan pada 2018. (Pratono/Jawa Pos Radar Semarang)
CANDI KUNO : Ekskavasi di reruntuhan Candi Duduhan yang dilakukan pada 2018. (Pratono/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID—Sejumlah benda di situs Candi Duduhan, Kelurahan Mijen, Kecamatan Mijen sempat dipindah warga untuk penghias makam.

Tapi benda-benda purbakala tersebut hilang dicuri orang pada Juli 2020 lalu.

Sejak sekitar 1991, fragmen arca Nandi bagian perut, lapik sesaji dan kemuncak dari situs Candi Duduhan dipindah warga ke pertigaan kampung, tak jauh dari kantor Kelurahan Jatibarang.

Tepatnya di depan warung mi ayam. Saat ini niatnya untuk memperindah taman kampung.

Tapi sejak Selasa (7/7/2020) malam, batuan bersejarah tersebut tak lagi berada di lokasi.

Kemungkinan batu-batu tersebut diangkut maling sekitar pukul 02.00 dinihari. Sebab sekitar pukul 01.00, pemilik warung mi ayam masih berada di lokasi tersebut.

Sejumlah warga mengaku sempat mendengar suara mobil berhenti.

Sekitar pukul 02.00, pemilik warung mi ayam juga mendengar suara orang dan benturan benda keras.

Tapi ia tak curiga karena mengira mobil tersebut hanya parkir di dekat tiga batu bersejarah tersebut.

Arkeolog Tri Subekso menjelaskan, situs Candi Duduhan diduga sudah ada sejak abad ke 8 sampai 10 Masehi dan masuk pada klasifikasi peradaban Jawa Kuno.

"Termasuk tiga arca yang hilang tadi, merupakan situs dari Candi Duduhan," jelasnya.

Sekitar tahun 1979 lalu, lanjut Subekso, tercatat ada beberapa komponen bangunan candi di situs Candi Duduhan.

Bukan kali pertama bagian dari percandian kuno abad 8-10 masehi itu jadi incaran maling.

Selain ketiga benda yang hilang tersebut, juga ada arca Ganesha dan pecahan arca lain.

Ganesha yang menjadi simbol dewa ilmu pengetahuan juga sempat dicuri orang. Namun pencurinya berhasil ditangkap.

Selanjutnya arca Ganesha disimpan di Museum Ranggawarsita Semarang hingga saat ini.

Pada 2015 dan 2018, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Bersama Lembaga Penelitian Perancis untuk Kajian Timur Jauh atau Ecole Francaise d’Extreme-Orient (EFEO) mengekskavasi situs Candi Duduhan.

Ditemukan struktur candi dari batu bata berupa candi induk dan tiga candi perwara.

Candi induk berukuran 9,3 x 9,3 meter. Lebih besar dari ukuran candi terbesar di Gedongsongo.

Yoni berukuran besar juga ditemukan di sumuran candi induk.

Tim Registrasi Nasional (Regnas) Cagar Budaya bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang pada Kamis (9/7/2020) telah mengecek hilangnya tiga benda cagar budaya tersebut.

Diperkirakan, wilayah Mijen pada masa lalu sudah menjadi semacam permukiman kuno yang besar.

Berbagai data dan temuan arkeologis memperkuat adanya permukiman di era kerajaan Mataram Kuno pada sekitar abad 8-10 masehi.

Tri Subekso menjelaskan, keberadaan situs Candi Duduhan dan Candi Tempel yang berasal dari masa Jawa Kuno ini menunjukkan adanya permukiman masyarakat kuno di kawasan Mijen.

“Biasanya, karakteristik terdiri dari rumah-rumah penduduk, bangunan suci yang terdiri dari candi dan petirtaan, serta lahan pertanian,” jelas lulusan Magister Arkeologi Universitas Indonesia ini.

Data-data arkeologis ini, lanjutnya, memperkuat bukti tentang sudah adanya wanua-wanua (desa) yang merupakan bagian dari lanskap budaya periode Hindu-Buddha.

“Saya kira, masing-masing keberadaan situs cukup mengindikasikan letak sebaran permukiman kuno tersebut,” tutur lulusan Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro (Undip) ini. (den/ton)

 

Editor : Pratono
#Sejarah Semarang #Museum Ranggawarsita #tri subekso #Candi Gedongsongo #arkeologi #Arca Ganesha #universitas indonesia #Kecamatan Mijen #Universitas Diponegoro #candi duduhan #KOTA SEMARANG