RADARSEMARANG.ID—Wilayah Kecamatan Mijen, Kota Semarang diketahui memiliki beragam sebaran temuan arkeologis masa lalu.
Setidaknya ada dua reruntuhan candi yang sudah ditemukan jejaknya.
Yakni Candi Duduhan di Dusun Duduhan, Kelurahan Mijen dan Candi Tempel di bekas peternakan ayam Dusun Tempel, Kelurahan Jatisari.
Walaupun bentuk asli bangunan candi belum diketahui secara pasti, namun batuan di wilayah tersebut menunjukkan bahwa pernah ada candi.
Selain kedua tempat tersebut, di wilayah Kelurahan Cangkiran juga menarik perhatian arkeolog.
Sebab di Kelurahan Cangkiran ditemukan adanya yoni dengan ukuran besar. Yoni Cangkiran memiliki ukuran 105 x 105 cm dan tinggi 110 cm.
Yoni ini berada di kompleks makam Mbah Badur, tokoh yang dipercaya sebagai pembuka kawasan Cangkiran.
“Yoni Cangkiran untuk saat ini merupakan yang terbesar untuk temuan di wilayah Kota Semarang,” kata Arkeolog asal Semarang Tri Subekso.
Yoni merupakan bagian penting dari candi Hindu. Yoni merupakan simbol dari Dewa Siwa.
Biasanya yoni akan berpasangan dengan lingga yang dipasang pada lubang bagian atas yoni.
Adanya yoni Cangkiran ini menimbulkan hipotesa bahwa di wilayah tersebut dulu pernah berdiri bangunan candi.
“Pasti ada (bangunan candi), tidak mungkin tidak,” jelas Tri Subekso terkait keberadaan candi di Cangkiran.
Keberadaan yoni Cangkiran merupakan salah satu bukti bahwa wilayah Mijen merupakan daerah yang sudah didiami manusia sejak dulu.
Arkeolog memperkirakan, wilayah Mijen pada masa lalu sudah menjadi semacam permukiman kuno yang besar.
Berbagai data dan temuan arkeologis memperkuat adanya permukiman di era kerajaan Mataram Kuno pada sekitar abad 8-10 masehi.
Tri Subekso menjelaskan, keberadaan situs Candi Duduhan dan Candi Tempel yang berasal dari masa Jawa Kuno ini menunjukkan adanya permukiman masyarakat kuno di kawasan Mijen.
“Biasanya, karakteristik terdiri dari rumah-rumah penduduk, bangunan suci yang terdiri dari candi dan petirtaan, serta lahan pertanian,” jelas lulusan Magister Arkeologi Universitas Indonesia ini.
Data-data arkeologis ini, lanjutnya, memperkuat bukti tentang sudah adanya wanua-wanua (desa) yang merupakan bagian dari lanskap budaya periode Hindu-Buddha.
“Saya kira, masing-masing keberadaan situs cukup mengindikasikan letak sebaran permukiman kuno tersebut,” tutur lulusan Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro (Undip) ini. (ton)
Editor : Pratono