Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Seri Sejarah Semarang ! Candi Duduhan Bukan Satu-Satunya Candi di Mijen, Kota Semarang. Lalu Ada di Mana Lagi?

Pratono • Sabtu, 27 April 2024 | 16:00 WIB

 

TERBESAR : Yoni di Cangkiran, Kecamatan Mijen, Kota Semarang (Pratono/Jawa Pos Radar Semarang)
TERBESAR : Yoni di Cangkiran, Kecamatan Mijen, Kota Semarang (Pratono/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID— Candi Duduhan di Dusun Duduhan, Kelurahan Mijen, bukan satu-satunya reruntuhan candi yang ditemukan di wilayah Kecamatan Mijen, Kota Semarang.

Sejumlah batuan yang diduga bagian dari candi diketahui tersebar di sejumlah tempat.

Selain Candi Duduhan, ada juga reruntuhan candi di Dusun Tempel, Kelurahan Jatisari, Kecamatan Mijen.

Sejumlah batuan yang menunjukkan bentuk sebagai bagian candi terdapat di sebuah bekas peternakan ayam.

Secara nyata, memang terlihat jelas sejumlah batuan yang mirip bagian sebuah candi.

Di lokasi tersebut terdapat yoni yang relatif masih utuh.

Yoni merupakan bagian penting dari candi Hindu. Yoni merupakan simbol dari Dewa Siwa.

Biasanya yoni akan berpasangan dengan lingga yang dipasang pada lubang bagian ayas yoni.

Sejumlah kemuncak candi juga terlihat bertebaran di sejumlah titik. Kemudian empat batuan bundar yang diduga umpak.

Di lokasi tersebut juga terdapat arca berbentuk sapi atau biasa disebut arca Nandi. Sayangnya arca ini sudah tidak utuh lagi.

Bagian kepala sapi sudah patah tapi masih ada di dekat badannya. Nandi merupakan hewan tunggangan Dewa Siwa dalam mitologi Hindu.

Batuan lain yang berserakan juga menunjukkan adanya pola tertentu. Biasanya itu merupakan bagian dari dinding candi.

Tim peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) bersama Lembaga Penelitian Perancis untuk Kajian Timur Jauh atau Ecole Francaise d'Extreme-Orient (EFEO) pada 2018 sudah mengunjungi lokasi situs Candi Tempel.

“Sepertinya candi yang di kandang ayam itu candi yang besar juga. Masih ada yoni besar, kemuncak, arca nandi dan batuan-batuan penyusun candi lainnya,” ujar Arkeolog dari Puslit Arkenas Agustijanto Indradjaja.

Kemudian keberadaan yoni berukuran besar di Kelurahan Cangkiran Kecamatan Mijen juga diduga merupakan bagian dari candi besar di wilayah tersebut.

Yoni Cangkiran memiliki ukuran 105 x 105 cm dan tinggi 110 cm. Yoni Cangkiran merupakan yoni terbesar yang selama ini ditemukan di wilayah Kota Semarang.

“Mijen merupakan salah satu wilayah yang banyak ditemukan peninggalan-peninggalan kuno era klasik,” jelas Arkeolog asal Semarang Tri Subekso.

Tak jauh dari lokasi situs-situs candi di Mijen, juga ditemukan reruntuhan Candi Trisobo di Desa Trisobo Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal.

Di lokasi ini, terdapat reruntuhan batuan candi dan arca yang sudah rusak sebagian.

RERUNTUHAN CANDI : Sejumlah batuan yang berada di bekas peternakan ayam di Dusun Tempel, Jatisari, Mijen. (Pratono/Jawa Pos Radar Semarang)
RERUNTUHAN CANDI : Sejumlah batuan yang berada di bekas peternakan ayam di Dusun Tempel, Jatisari, Mijen. (Pratono/Jawa Pos Radar Semarang)

Saat melakukan ekskavasi pada 2018, sejumlah batu bermotif dan potongan arca telah dibawa tim peneliti dari Puslit Arkenas untuk diselamatkan.

Diperkirakan Candi Duduhan dan Candi Trisobo ini berdiri pada masa yang sama, yaitu Mataram Kuno.

Hanya saja struktur bangunan kedua candi ini berbeda. Jika Candi Duduhan disusun dari bata, Candi Trisobo berasal dari gabungan bata dan batu andesit.

“Candi utama di Trisobo berasal dari batu. Tapi ketika digali, di sekitarnya ada susunan candi dari bata juga,” jelas Agustijanto Indradjaja.

Ada beberapa alasan mengapa terdapat perbedaan jenis batu penyusun candi. Di antaranya terkait ketersediaan bahan baku.

Di Trisobo, kata Agustijanto, batu-batuan mudah ditemukan. Sementara di Duduhan, lokasinya jauh dari area yang menyimpan banyak batu.

Bisa juga karena perbedaan teknologi atau kecenderungan tren pada masyarakat yang membangunnya.

“Jadi banyak perkiraan penyebab, mengapa ada candi yang dibangun menggunakan bata dan ada yang dari batu.” (ton)

 

 

Editor : Pratono
#Sejarah Semarang #arkeolog #tri subekso #Agustijanto Indradjaja #Kecamatan Mijen #Kabupaten Kendal #Boja #candi duduhan #KOTA SEMARANG