Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Seri Sejarah Semarang! : Bagaimana Batuan Penyusun Candi Duduhan Direkatkan? Ini Dugaan Arkeolog.

Pratono • Jumat, 26 April 2024 | 16:00 WIB
CAGAR BUDAYA : Ekskavasi Candi Duduhan di Kelurahan Mijen, Kecamatan Mijen yang berlangsung pada 2018.
CAGAR BUDAYA : Ekskavasi Candi Duduhan di Kelurahan Mijen, Kecamatan Mijen yang berlangsung pada 2018.

RADARSEMARANG.ID—Situs Candi Duduhan di Dusun Duduhan, Kelurahan Mijen, Kecamatan Mijen menjadi temuan penting dalam sejarah Kota Semarang.

Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) dan Lembaga Penelitian Perancis untuk Kajian Timur Jauh atau Ecole Francaise d'Extreme-Orient (EFEO) telah ekskavasi situs Candi Duduhan pada 2015 dan 2018 lalu.

Berdasarkan temuan arkeolog, Candi Duduhan disusun dengan 3 macam bahan.

Bahan utama dan paling banyak ditemukan berupa bata merah yang berukuran besar.

Sekitar 3 kali lipat dari ukuran bata yang lazim digunakan saat ini.

Selain itu, juga ditemukan batu putih sebagai penyusun candi.

Terutama di bagian sumuran dan tangga candi. Tim juga menemukan patahan pipi tangga candi yang terbuat dari batu putih.

Arkeolog yang ikut serta dalam ekskavasi Tri Subekso mengatakan, susunan batu putih di tangga candi perwara sisi utara. Batu putih ini mirip dengan batu pada sumuran candi utama.

“Mungkin pemakaian batu putih di bagian tangga sesuai pertimbangan teknis. Tangga akan sering diinjak, sehingga butuh bahan yang kuat,” jelas lulusan Magister Arkeologi Universitas Indonesia ini.

Yang juga masih menjadi teka-teki bagi tim peneliti, adanya bata merah yang bentuknya mirip setengah lingkaran.

"Saya belum tahu ini bagian apa, baru kali ini menemukan bentuk seperti ini," kata Ketua Tim Ekskavasi Agustijanto Indradjaja.

Tim juga akan membawa bata yang saling menempel untuk diteliti di laboratorium.

Diduga pada bagian ini ada semacam perekat atau lem dalam penyusunan candi.

Bila benar ditemukan zat perekat, maka ini merupakan data baru dalam pengetahuan teknik pembangunan candi.

Menurut Agustijanto, selama ini yang diketahui, candi-candi dari bata disusun dengan teknik gosokan. Belum ditemukan adanya lem atau perekat di susunan batuan candi bata.

"Sebelumnya juga ditemukan yang diduga ada perekatnya di Tuntang. Tapi perlu penelitian lebih lanjut di laboratorium untuk mengetahui ada bahan apa," katanya.

Arkeolog dari EFEO, Veronique Degroot mengatakan, batuan candi yang disusun dengan perekat ditemukan di Kamboja. Perekat yang digunakan adalah gula.

“Perlu ada penelitian di laboratorium untuk melihat apakah ada perekat di batu bata penyusun candi ini,” ujarnya.

Menurutnya, jika ditemukan ada unsur perekat pada batuan Candi Duduhan, maka ada teori baru dalam pembangunan candi bata di masa klasik.

Sebab, data selama ini menunjukkan batu candi disusun dengan teknik gosokan.

Candi Duduhan dinilai sebagai salah satu temuan istimewa.

Struktur kompleks candi yang terdiri atas 1 candi utama dan 3 candi perwara menunjukkan Candi Duduhan dibangun pada masa yang sama dengan Candi Prambanan, pada abad 9 masehi.

Candi Duduhan menjadi tambahan data penting tentang hipotesa penyebaran agama dan kebudayaan Hindu yang masuk ke Jawa Tengah melalui pantai utara Jawa.

Candi Duduhan disusun dari bata. Ukuran bata lebih besar dari ukuran bata yang lazim digunakan masyarakat saat ini.

Bata yang terpendam dalam tanah tersebut berukuran sekitar 36 x 22 x 11 sentimeter atau 3 kali lipat ukuran bata saat ini.

Pintu masuk candi utama sudah ditemukan menghadap ke timur, sementara 3 candi perwara menghadap ke barat.

Ketua Tim Ekskavasi Candi Duduhan Agustijanto Indradjaja menyatakan, Candi Duduhan menjadi tambahan data penting tentang hipotesa penyebaran agama dan kebudayaan Hindu yang masuk ke Jawa Tengah melalui pantai utara Jawa.

“Bangunan candi utama di Duduhan ini lebih besar dari candi-candi di (kompleks) Gedongsongo,” tutur arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) ini.

Candi utama di Duduhan berukuran 9,3 x 9,3 meter. Sementara candi utama di Gedongsongo berukuran kurang dari 7 meter.

Berdasarkan buku “Hasil Pemugaran dan Temuan Benda Cagar Budaya PJP I” yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1996, candi terbesar di Gedongsongo adalah Candi Gedong I dengan ukuran 6,64 x 6,58 meter.

Sementara 3 candi perwara dekat candi utama di Duduhan memiliki ukuran 5,4 x 5,4 meter. (ton)

 

Editor : Pratono
#tri subekso #Candi Gedongsongo #arkeologi #Candi Prambanan #prambanan #Agustijanto Indradjaja #universitas indonesia #Veronique Degroot #Kecamatan Mijen #candi duduhan #KOTA SEMARANG