Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Dua Masjid Legendaris di Semarang Ini Sajikan Menu Takjil yang Unik, Selalu Jadi Rebutan saat Ramadan

Muhammad Iqbal Amar • Rabu, 20 Maret 2024 | 18:43 WIB

Warga sekitar Kampung Melayu dan para musafir berbuka bersama dengan menu khas kopi Arab di Masjid Layur. M IQBAL AMAR/JAWA POS RADAR SEMARANG
Warga sekitar Kampung Melayu dan para musafir berbuka bersama dengan menu khas kopi Arab di Masjid Layur. M IQBAL AMAR/JAWA POS RADAR SEMARANG
 

RADARSEMARANG.ID - Memasuki bulan Ramadan, hampir di setiap masjid berlomba-lomba untuk menyediakan menu takjil untuk para jamaahnya.

Namun berbeda dengan dua Masjid legendaris di Kota Semarang ini yaitu Masjid Menara Layur dan juga Masjid Jami Pekojan. 

Masjid Menara Layur atau yang dikenal dengan Masjid Layur Semarang merupakan masjid kuno yang ada di Jalan Layur, Kelurahan Dadapsari, Semarang Utara.

Masjid ini sudah berumur kurang lebih dua abad lamanya dan dibangun pada tahun 1802 Masehi.

Masjid ini didirikan beberapa saudagar asal Yaman yang saat itu bermukim di Kota Semarang.

Ciri Arab-Melayu dapat dilihat dari fasad dan ornamen gerbang masuk, tembok, pintu, dan atap kubah.

 

 

Setiap Ramadan, masjid ini menyiapkan buka puasa yang unik. Warga sekitar dan para musafir saat berbuka dengan menu wajib kopi Arab di Masjid Layur. Tradisi turun-temurun itu sudah berlangsung lebih dari seabad lamanya.

Tradisi unik berbuka dengan kopi Arab di Masjid Layur, Kampung Melayu hanya bisa dijumpai saat bulan Ramadan.

Kopi Arab beraroma rempah itu disajikan bersama roti, kurma, semangka, beserta nasi bungkus. Selain warga lokal (warlock), tak sedikit pula pelancong atau musafir yang singgah di masjid tersebut.

“Kopi ini untuk kesehatan dengan banyak komposisi rempah. Minum disaat perut kosong tak jadi masalah,” kata Muadzin Masjid Layur Ali Maksum.

Kopi Arab sudah ada sejak zaman dahulu sebelum kemerdekaan. Munculnya kopi Arab lantaran kebiasaan para pedagang Arab yang sengaja singgah dan berdagang di Semarang.

Mereka mengisi waktu kosong untuk menyeduh dan menikmati kopi yang dicampur dengan rempah-rempah. Lantas kebiasaan itu melekat dan terbawa juga oleh masyarakat sekitar hingga sekarang.

“Kopi ini cukup unik dicampur dengan rempah-rempah seperti jahe, kapulaga, cengkeh, kayu manis, daun jeruk, serai, dan pandan,” papar Ali.

Cara pembuatannya cukup mudah. Semua bahan rempah diseduh dengan air mendidih selama satu jam. Baru menuangkan kopi dan diaduk.

Setelah 15 menit dituangkan ke teko untuk disuguhkan. Kopi Arab dinilai baik untuk kesehatan karena kandungan rempah di dalamnya.

Meski diminum saat perut kosong tidak akan menyebabkan sakit perut. “Setiap hari kita sediakan sekitar 40-50 cangkir untuk buka puasa,” tambah Ali.

Tradisi unik berikutnya datang dari Masjib Jami Pekojan Semarang. Setiap Ramadan, Masjid Jami Pekojan slealu menyediakan menu takjil Bubur India.

 

Bubur yang disajikan setiap Bulan Ramadan itu menjadi makanan favorit warga sekitar. Tak jarang banyak warga rela antre untuk mendapatkan bubur tersebut.

Warga yang ingin berkunjung dan mencicipi Bubur India bisa datang ke Masjid Jami Pakojan yang berada di Jalan Petolongan, Kelurahan Purwodinatan Semarang.

Bubur tersebut terbuat dari bawang merah, bawang putih, bawang prei, pandan, daun salam, dan wortel serta rempah-rempah seperti sereh, kayu manis, jahe dan garam.

Bahan-bahan itu kemudian dicampur dengan beras dimasak dalam panci raksasa, persis di atas tungku kayu yang usianya sudah ratusan tahun.

Selama tiga jam, tiga juru masak tersebut bergantian mengaduk olahan bubur dan mereka bergantian mengatur api di tungku api tradisional ini.

Waktu memasak ini dimulai dari usai sholat Dzuhur hingga adzan Ashar berkumandang.

Setiap harinya, pengurus memasak 600 mangkok bubur yang diberikan kepada warga setempat maupun warga yang sengaja datang ke Masjid tersebut.

Sampai saat ini resep Bubur India tak pernah berubah. Resep tersebut turun-temurun yang dibawa dari Gujarat. (mia/bas)

Editor : Baskoro Septiadi
#kopi arab #Ramadan #Masjid #bubur india