RADARSEMARANG.ID - Jalan Raya Pantura Kaligawe hingga Genuk tergenang air alias banjir. Ketinggian air mencapai lebih dari setengah meter. Banyak kendaraan yang tak berani melintas. Akibatnya jalur penghubung Semarang - Demak dan sekitarnya lumpuh total.
"Genangan air masih cukup tinggi. Untuk sementara ini belum bisa dilalui kendaraan, arus lalu lintas lumpuh total," ungkap Kapolsek Genuk Kompol Rismanto kepada Jawa Pos Radar Semarang Kamis (14/3).
Banjir di sepanjang jalan tersebut terjadi sejak Rabu (12/3) malam. Akibat diguyur hujan dengan intensitas lebat.
Ketinggian genangan air bervariasi, di beberapa titik mencapai di atas 60 sentimeter.
Sejumlah kendaraan, utamanya roda empat, yang nekat melintas mengalami mogok.
Tak hanya jalan raya, di wilayah perkampungan juga banyak yang terendam. Mapolsek Genuk juga terendam air ketinggian setengah meter.
"Genangan air di perkampungan ya antara 50 senti hingga 60 sentimeter. Ini saya juga mau evakuasi warga, anak kos yang terjebak sama evakuasi tahanan. Ada satu orang (tahanan) dievakuasi ke Polrestabes Semarang," jelasnya.
Satlantas Polrestabes Semarang mengambil langkah rekayasa lalu lintas untuk menghindari Jalan Raya Kaligawe - Genuk.
"Sejak tadi (Rabu) malam, dinihari sampai ini tidak bisa dilewati. Kaligawe, mulai dari Rumah Sakit Islam Sultan Agung, sampai jembatan Kaligawe bawah tol itu tidak bisa dilewati," ungkap Kasatlantas Polrestabes Semarang AKBP Yunaldi.
Pengalihan arus sementara tersebut, kendaraan yang melaju dari arah Demak yang menuju Semarang, disarankan untuk belok ke kiri pertigaan Genuk, menuju Jalan Waltermongonsidi, dan masuk ke Jalan Tol Gayamsari.
"Sehingga rekayasa yang dari Demak kita alihkan ke Jalan Woltermongonsidi, walaupun ada genangan tapi masih bisa lewat terus ke arah Pedurungan. Terus kita masukan ke dalam Tol Gayamsari," katanya.
Sedangkan di jalur Pantura Mangkang, Yunaldi menyebut masih bisa dilewati.
Namun pihaknya juga telah melakukan antisipasi pengalihan arus untuk menghindari timbulnya kemacetan di Jalan Arteri Yos Sudarso.
"Dari arah barat kita masukan ke exit Tol Krapyak. Kalau kendaraan yang mau masuk ke pelabuhan, bisa mencari Jalan alternatif lainnya," katanya.
Di Jalan arteri Yos Sudarso yang mengarah ke Kaligawe juga mengalami kepadatan dan kemacetan dampak dari banjir di Kaligawe -Genuk.
Kemudian arah masuk ke pertigaan Genuk juga sama. Mengingat banyaknya kendaraan yang antre masuk ke wilayah Kota Semarang.
"Di situ banyak truk-truk, atau kendaraan yang akan masuk ke Kota Semarang. Makanya kita alihkan belok kiri menuju Jalan Woltermongonsidi. Ya kita imbau supaya tidak berhenti disitu," harapnya.
Berbagai upaya dilakukan untuk mengurangi debit banjir di kawasan Kaligawe.
Koordinator Pompa Wilayah Timur DPU Kota Semarang Eko Setiyanto, menjelaskan air berasal dari luapan sungai Banjir Kanal Timur (BKT) ditambah hujan deras yang sangat parah.
"Ada tiga kecamatan yang terisolasi, Genuk, Gayamsari, dan Pedurungan," katanya.
Pihaknya mengupayakan penanganan di pintu air Kelurahan Tambakrejo. Karena di wilayah tersebut parah, genangan air mencapai 70 - 100 meter.
"Kami menggunakan sistem gravitasi untuk penurunan debit air di wilayah Kaligawe untuk dibuang ke BKT," katanya.
Sementara itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 3.1 Bina Marga Jawa Tengah Wishnu Herlambang menjelaskan BBWS sudah menyiapkan dan menghidupkan pompa untuk mengurangi debit air di wilayah Kaligawe.
Sementara, kondisi aspal jalan dinilai masih bagus. Namun, karena adanya genangan, banyak kendaraan yang tidak bisa lewat.
"Kami mengecek kondisi jalan pascabanjir, saat ini kami menunggu hingga surut," ujarnya.
Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu menjelaskan, sejak Rabu (13/3) malam curah hujan di Semarang sangat ekstrem.
"Sehingga mengakibatkan wilayah Kota Semarang terkena banjir, apalagi wilayahnya di muara" katanya.
Mbak Ita, sapaan Hevearita, menjelaskan, Pemerintah Kota Semarang meminta bantuan ke Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Penataan Ruang (Pusdataru) Provinsi Jawa Tengah dan BBWS Wilayah Kali Bodri untuk memompa air di wilayah yang banjir parah.
Pemkot Semarang telah melakukan penanganan maksimal untuk mengurangi genangan.
Seperti semua poma air di rumah-rumah pompa dinyalan. Masih ditambah pompa portabel.
Pihaknya masih mendata jumlah warga yang terdampak banjir. Yang paling banyak, kata dia, di Kecamatan Gayamsari.
Hampir semua kelurahan di Gayamsari terdampak banjir. Sementara di Kecamatan Pedurungan, banjir parah berada di Kelurahan Muktiharjo Kidul, dan Tlogosari Kulon.
Di Kecamatan Genuk yang terdampak antara lain Kelurahan Kudu, Bangetayu Wetan, Bangetayu Kulon, Trimulyo, dan lainnya.
Sejumlah dapur umum didirikan untuk memenuhi logistik pengungsi. Seperti di Balai Kota Semarang, masjid, dan beberapa titik dapur umum.
"Di Semarang Utara, Gayamsari, dan Pedurungan di USM, serta di Genuk. Kami juga menyuplai makanan siap santap, roti, air mineral. Kami mengontak pak Pj Gubernur (Jateng) dan Menteri Sosial. Semoga dapat dikirimkan ke Kota Semarang," harapnya.
Jalur pantura Kabupaten Kendal juga kebanjiran. Hujan deras sejak Selasa (12/3) membuat sungai-sungai meluap karena tidak mampu menampung air.
Seperti luapan Sungai Kendal pada Kamis (14/3) meluber hingga ke permukiman warga dan Jalan Raya Pantura Kendal.
Meski begitu, lalu lintas kendaraan di lokasi tersebut masih terbilang aman.
Hanya saja, pengendara perlu waspada dan hati-hati karena terdapat beberapa lubang di jalan raya.
"Jalan Raya Soekarno-Hatta alias jalur pantura Kendal ini kan diapit dua sungai. Kalibuntu sama Kali Kendal. Kalau sungai sudah gak mampu menampung ya meluber ke jalan raya," ungkap Ahmad, warga Kendal.
Ahmad mengatakan, di Jalan Raya Soekarno-Hatta Kendal ini ketinggian air bervariasi. Untuk sisi kiri jalan raya ketinggiannya di atas mata kaki orang dewasa.
Lalu untuk sisi kanan jalan raya, hampir selutut orang dewasa.
"Sisi kanan memang agak dalam, soalnya miring. Tadi beberapa motor juga mogok," katanya.
Titik banjir lainya di Kabupaten Kendal berada di Kelurahan Pekauman, Ngilir, Patukangan, Kebondalem, Pegulon, Trompo, hingga Sukodono di Kecamatan Kendal.
Selanjutnya di Kecamatan Kaliwungu berada di Desa Kumpulrejo dan Sarirejo. Kemudian di Desa Brangsong dan Kebonadem di Kecamatan Brangsong.
"Ada sekitar 500 rumah di Desa Brangsong yang ikut terendam," kata Kepala Desa Brangsong Moh Asnawi Kamis (14/3).
Asnawi mengatakan, ketinggian air yang masuk ke perkampungan Desa Brangsong bervariasi.
Mulai 20 sentimeter hingga satu meter. Meski begitu, saat ini limpasan air dari Sungai Waridin berangsur surut.
Selain itu, SDN Brangsong, Kantor Kecamatan Brangsong, hingga SMPN 1 Brangsong juga terendam banjir. (mha/dev/fgr/ton)
Editor : Agus AP