RADARSEMARANG.ID, Semarang - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Semarang turut terdampak banjir. Hujan yang mengguyur Kota Semarang sejak beberapa hari terakhir mengakibatkan air hujan merendam penjara ini.
Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Semarang Kamis (14/3) banjir masih menggenang. Seluruh blok hunian terkena banjir, beberapa di antaranya bahkan masuk hingga kamar hunian. Beberapa warga binaan nampak menjemur pakaian.
Kepala Lapas Perempuan Semarang Kristiana Hambawani mengatakan, banjir terjadi sejak pukul 16.00 Rabu (13/3) kemarin.
Air yang menggenangi wilayah kerjanya mencapai betis orang dewasa. Namun, kini sudah berangsur surut.
"Tadi malam sudah masuk ke kamar hunian wbp sekitar mata kaki, kalau di luar kamar sampai betis. Beruntungnya dipan kamar tinggi sehingga tetap bisa tidur di atas kasur," ujarnya, Kamis (14/3).
Ia menyatakan beberapa pelayanan terhambat seperti kunjungan tatap muka, warung telepon (wartel), hingga kegiatan tadarusan dan tausiyah tak bisa dijalankan lantaran tempat tergenang banjir.
Namun, kegiatan kerja seperti menjahit, sulam, dan pembuatan kue tetap berjalan karena lokasi aman. Begitupun dengan dapur.
"Dapur aman, walaupun di lantai tergenang tapi kami bisa memasak untuk sahur, dan makan bagi yang tidak berpuasa. Untuk berbuka juga sudah di masak," tambahnya.
Kristin, sapaan akrabnya menyatakan meski kondisi demikian namun tidak perlu dilakukan evakuasi atau memindahkan warga binaan.
Hanya saja ia berharap segera dilakukan relokasi ke tempat yang lebih layak. Mengingat banjir seperti ini sudah terjadi empat tahun terakhir.
"Kondisi kami lebih rendah daripada jalan, untuk menambah bangunan juga tidak mungkin karena ini gedung cagar budaya. Kami harap segera direlokasi ke tempat yang lebih layak lagi agar tidak kebanjiran," ucapnya.
Ia menyebut rencana relokasi tersebut sudah disampaikan pada pimpinan bahkan dengan pemerintah setempat.
Survei lokasi juga telah dilakukan yakni di daerah Cepoko, Kecamatan Gunung Pati. Namun hingga kini belum ada kabar kelanjutannya seperti apa.
Sementara itu, Kepala Divisi Pemasyarakatan Kemenkumham Jateng Kadiyono yang mendorong adanya relokasi tersebut.
Menurutnya, sudah saatnya Lapas Wanita Bulu ini pindah tempat karena kondisinya memprihatinkan. Dimana ketika debit dan curah hujan tinggi sementara kondisi lapas rendah dibandingkan drainase, maka ketika air masuk tingkat kesurutan lambat.
"Harus segera direlokasi karena sudah tidak layak, baik dari sisi bangunan pun ketinggian bangunan. Mudah-mudahan pemerintah setempat bisa mendengar dan merespon dengan baik mau menyediakan tanah lebih strategis dan tinggi sehingga tidak banjir lagi," ucapnya saat meninjau kondisi banjir.
Terpisah, seorang warga binaan berinisial SC yang menghuni Blok Cut Nyak Dhien mengatakan sempat panik saat banjir datang.
Ia bersama teman-temannya langsung melakukan evakuasi mengamankan barang-barang.
"Air masuk sampai kamar, kami langsung mengamankan barang dan pakaian. Untuk tidur aman karena di atas dipan, tapi ya takut karena hujannya semalam deras disertai angin," tuturnya.
Ia mengatakan sudah pernah kebanjiran saat tahun lalu namun tidak sebesar sekarang.
Warga binaan kasus narkoba ini menambahkan, selesai membersihkan air dan hujan reda langsung menjemur pakaian.
Bahkan tidak sedikit yang kehabisan baju karena memang hanya diperbolehkan membawa pakaian terbatas.
"Di sini dibatasi bawa pakaian jadi langsung dijemur yang basah," tambahnya. (ifa/bas)
Editor : Baskoro Septiadi