Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Foto-foto Keseruan Tradisi Gebyuran Bustaman Semarang Jelang Ramadan, Warga Saling Serang Air

Figur Ronggo Wassalim • Senin, 4 Maret 2024 | 17:37 WIB
Prosesi perang air saat Gebyuran Bustaman di Kampung Bustaman RT 4 - 5 RW 3, Kelurahan Purwodinatan, Semarang Tengah, Minggu (3/3).NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG
Prosesi perang air saat Gebyuran Bustaman di Kampung Bustaman RT 4 - 5 RW 3, Kelurahan Purwodinatan, Semarang Tengah, Minggu (3/3).NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Ratusan warga kampung Bustaman perang air pada Minggu (3/3). Mulai anak-anak hingga dewasa saling siram. Ada yang menggunakan ember, gayung, hingga bungkus plastik.

Perang air tersebut merupakan tradisi Gebyuran untuk menyambut Ramadan. Perang air digelar di RT 4-5, RW 3, Kampung Bustaman, Kelurahan Purwodinatan, Semarang Tengah.

Tidak sekadar perang air, tradisi Gebyuran Bustaman juga dimeriahkan dengan pentas seni dan pameran produk UMKM.

Prosesi perang air saat Gebyuran Bustaman di Kampung Bustaman RT 4 - 5 RW 3, Kelurahan Purwodinatan, Semarang Tengah, Minggu (3/3).NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG
Prosesi perang air saat Gebyuran Bustaman di Kampung Bustaman RT 4 - 5 RW 3, Kelurahan Purwodinatan, Semarang Tengah, Minggu (3/3).NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, di depan gapura Kampung Butaman terdapat panggung kesenian.

Di sekitarnya terdapat UMKM kuliner berisi jajanan tradisional dan produk unggulan Kampung Bustaman.

Memasuki Kampung Bustaman, para pengunjung dan warga harus dicoreng menggunakan tepung yang diberi pewarna makanan. Sementara para ibu dan warga lainnya mempersiapkan air warna dibungkus plastik.

Tidak ingin piranti peliputan terciprat air, beberapa awak media dan fotografer segera membungkus peralatan dokumentasi menggunakan plastik. Acara gebyuran dimulai setelah salat Ashar.

Diawali dengan kirab budaya yang dipimpin oleh Kepala Dinas Budaya Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Wing Wiyarso Poespojoedho.

Disusul oleh penari tradisional, dan rebana yang membawakan lagu salawatan. Mereka mengarak tujuh anak yang akan dimandikan di area Masjid Barokah, Bustaman.

Prosesi perang air saat Gebyuran Bustaman di Kampung Bustaman RT 4 - 5 RW 3, Kelurahan Purwodinatan, Semarang Tengah, Minggu (3/3).NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG
Prosesi perang air saat Gebyuran Bustaman di Kampung Bustaman RT 4 - 5 RW 3, Kelurahan Purwodinatan, Semarang Tengah, Minggu (3/3).NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG

Tujuh anak dimandikan dengan air yang sudah didoakan dengan khidmat. Setelah dimandikan, petasan dan genderang pun berbunyi. Tanda perang air dimulai.

Semuanya basah kuyub karena saling lempar air warna. Bahkan ada yang mengguyur air dari atas loteng. Tak sedikit pula yang mengabadikan foto dan video di atas musala.

Ketua Panitia Gebyuran Bustaman Fachrizal Efendy menjelaskan, kegiatan Gebyuran Bustaman dilakukan setiap tahun menjelang Ramadan.

Berbeda dengan tahun sebelumnya yang dilakukan di dalam kampung termasuk kuliner. Gebyuran Bustaman tahun ini, kuliner dan hiburan dilakukan di luar kampung.

"Tapi tetap gebyuran dilakukan di dalam kampung," ujarnya.

Gebyuran Bustaman dimulai dari Kamis malam yakni arwah jamak. Jumatnya, warga berziarah di Makam Mbah Yai Bustam.

"Sabtunya kita bersih kampung, Minggunya puncaknya," ujarnya.

Prosesi perang air saat Gebyuran Bustaman di Kampung Bustaman RT 4 - 5 RW 3, Kelurahan Purwodinatan, Semarang Tengah, Minggu (3/3).NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG
Prosesi perang air saat Gebyuran Bustaman di Kampung Bustaman RT 4 - 5 RW 3, Kelurahan Purwodinatan, Semarang Tengah, Minggu (3/3).NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG

Diceritakan, Mbah Bustam terbiasa memandikan cucunya menjelang Ramadan dengan cara menyiram.

"Kita dari panitia memiliki inovasi dengan perang air," ujarnya.

Mbah Bustam merupakan pahlawan Indonesia, penyambung lidah rakyat Indonesia ke Belanda dan sebaliknya. "Beliau ini pejuang," tandasnya.

Ia berharap, Kampung Bustaman lebih dikenal. Tak hanya Kampung Gulainya dan Jagal Kurban saja.

"Tetapi di sini ada kulinernya. Bahkan saat Sahur dan Buka Puasa ini juga ramai jajanan tradisonal," tandasnya.

Kepala Disbudpar Kota Semarang Wing Wiyarso Poespojoedho sangat mengapresiasi kelestarian tradisi Gebyuran Busataman yang tetap terjaga.

"Kearifan lokal ini harus dijaga sebagai warisan dari Kiyai Bustam menjelang Ramadan. Dan kampung ini sebagai salah satu potensi sektor wisata Kota Semarang. Baik dari lokal maupun mancanegara," katanya.

Ia berharap tradisi di Kampung Bustaman ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan tak benda. "Karena banyak sejarah di Kota Semarang di Kampung Bustaman," ujarnya. (fgr/zal)

Editor : Baskoro Septiadi
#semarang #Bustaman #Ramadan