RADARSEMARANG.ID, Semarang - Sudarman, 66, warga Kelurahan Pedurungan, dilaporkan hilang keluarganya di Mapolsek Pedurungan, Selasa (13/2/2024) sekitar pukul 08.30.
Lansia tersebut dilaporkan hilang, yang diduga hanyut terseret aliran sungai yang berada di belakang rumahnya.
"Iya, kami mendapat laporan dari pihak keluarga korban, setelah melaporkan kejadian ini di kepolisian. Ini tim dari Basarnas sudah ke lokasi, masih melakukan pencarian, dengan cara penyisiran," ungkap Humas Basarnas, Nur Mustofa kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (13/2/2024).
Informasi yang diperoleh, awalnya Sudarman, keluar rumah dan pamit ke istrinya untuk bercocok tanam di ladang, pada Senin (12/2/2024) sekitar pukul 16.00.
Namun, hingga sekarang ini belum pulang ke rumah. Pihak keluarga sudah mencari keberadaan korban, dan belum diketemukan sampai sekarang.
"Iya, sampai sekarang belum ketemu. Keluarga juga khawatir. Apa mungkin hanyut di sungai apa gimana, kita juga belum tahu," kata Nur Ahmat Kusaini.
Pria anak Sudarman ini mengatakan, orangtua tersebut keluar rumah dalam kondisi gerimis. Lokasi ladang yang dituju hanya berjarak 100 meteran dari rumah, yang tepinya merupakan aliran sungai Sinarwaluyo.
"Kalau mau ke ladang itu menyusuri sungai dulu. Sungai itu kalau posisi hujannya lebat biasanya banjir. Posisi berangkat belum hujan," jelasnya.
Lanjutnya mengatakan, selang satu jam, wilayah tersebut diguyur hujan deras sekitar pukul 17.00. Menurutnya, posisi Orangtuanya masih di ladang. Namun, air sungai sudah dalam kondisi meluber hingga ke tepian ladang.
"Posisinya sungai sedang meluap banjir. Perkiraan itu, apakah bapak saya melewati banjir atau muter jalan. Kalau muter jalan biasanya sudah sampai rumah. Tapi ini sampai sekarang belum ada kabar," katanya.
Pihaknya juga masih melakukan penyisiran sungai bersama anggota SAR Semarang, bersama Damkar dan relawan. Ahmat berharap, orangtuanya masih dalam kondisi sehat dan bisa ditemukan.
"Pulang dengan selamat, dan tidak terbawa banjir. Orangtua saya itu biasanya buat bata merah, karena hujan beralih ke tanam-tanam. Makanya sering ke ladang, nyangkul, berkebun," pungkasnya. (mha/bas)
Editor : Baskoro Septiadi