Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Hutan Tinjomoyo Semarang Bakal Disulap Jadi Kebun Raya, Begini Konsepnya

Figur Ronggo Wassalim • Minggu, 4 Februari 2024 | 16:41 WIB
Kepala UPTD Tinjomoyo, Sugiharto menunjukkan area Hutan Wisata Tinjomoyo. FIGUR RONGGO WASSALIM/JAWA POS RADAR SEMARANG
Kepala UPTD Tinjomoyo, Sugiharto menunjukkan area Hutan Wisata Tinjomoyo. FIGUR RONGGO WASSALIM/JAWA POS RADAR SEMARANG

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Pemkot berencana untuk menambah ruang terbuka hijau di Kota Semarang.

Hal ini sebagai upaya mengoptimalkan aset pemerintah sekaligus menambah ruang-ruang untuk masyarakat.

Salah satunya langkah yang dilakukan adalah merubah Hutan Wisata Tinjomoyo menjadi Kebun Raya.

Saat ini konsepnya masih berproses, termasuk kajian penataannya termasuk berkoordinasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Setelah menjadi Kebun Raya, Hutan Wisata Tinjomoyo, tidak hanya untuk tempat wisata tetapi tempat pendidikan.

Hutan Wisata Tinjomoyo memiliki luas 57,5 hektare. Namun baru hanya 5 - 6 hektare yang dikelola.

"Karena masih banyak yang menjadi hutan belantara," kata Kepala UPTD Tinjomoyo, Sugiharto.

Ia menambahkan, tiket masuk Rp 6.000. Parkir sepeda Rp 3000 roda empat Rp 5000. Pengunjung dapat menikmati Pasar Semarangan, Jogging Track, gazebo untuk kemah, taman dan Spot foto menarik.

Nantinya sebagai Kebun Raya, keberadaan Hutan Wisata Tinjomoyo akan lebih banyak ditanami tanaman atau botani dari berbagai zona.

Seperti zona penelitian, zona edukasi, dan zona konservasi. "Nanti akan dipeta-petakan," tandasnya.

Untuk jembatan kaca, karena mengingat kajian K3 yang terkait dengan keselamatan pengunjung. Saat ini masih berproses. 

"Belum ada izin ke pengunjung, kendalanya kalau ada pengunjung yang naik dan yang turun itu kan harus dipisahkan, informasinya akan dilanjutkan," ujarnya.

Pembangunan jembatan kaca hanya dari sisi barat sungai hingga tengah atau 15 - 20 meter. Saat ini akan dilanjutkan sampai ke sisi Timur.

Atau 30 meter kalau membentang dari Barat ke Timur sungai. Nanti membentang dari Barat ke Timur sungai, sehingga pengunjung tidak pada satu jalan, nanti terpisah.

“Kedepan, terdapat paket wisata untuk menarik pengunjung. Seperti Kebun Raya dan Jembatan Kaca,” tambahnya.

Harus Memperhatikan Lingkungan dan Menjaga Kearifan Lokal

Pengamat lingkungan  Dr.Ir. Djoko Suwarno, MSi. memandang dua lokasi yang hendak dijadikan hutan kota (eks Wonderia dan Kebun Raya Tinjomoyo) merupakan bentuk responsif Pemkot Semarang dalam memenuhi kebutuhan oksigen.

Meski demikian, beberapa hal penting diperhatikan mengenai keberlanjutan (sustainable) hutan kota.

Pemerintah berarti sudah melihat dan memikirkan bahwa ruang terbuka hijau yang disyaratkan 30 persen itu memenuhi.

“Mengapa ruang hijau harus dipaksakan seperti itu? supaya kebutuhan utama oksigen wilayah tersebut terpenuhi," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (3/2).

Rektor Institut Teknologi Sains dan Kesehatan Sugeng Hartono Sukoharjo ini mengungkapkan, kondisi hutan kota di Semarang menurutnya hampir memenuhi. Hanya saja yang perlu lebih diperhatikan lagi adalah mempertimbangkan lokasi yang tepat.

"Semarang cukup menarik, harus dilihat dulu titik yang rentan terjadi crowded itu dulu. Karena sumber karbon banyak berasal dari benda bergerak seperti motor dan mobil. Kalau statis kan sumbernya pabrik," imbuhnya.

Mantan Dosen Unika 35 tahun itu lahan pertanian dan hutan rata-rata berada di pinggiran. Yakni daerah Mijen, Gunungpati, Banyumanik, Gajahmungkur, Semarang Selatan, Candisari, dan Tembalang. Daerah itulah yang selama ini menyumbang oksigen terbanyak di Kota Semarang. 

"Yang ditengah memang jarang istilahnya sudah daerah berkembang yang sulit untuk mencari lokasi sebagai hutan kota. Tapi bisa disiasati untuk privat," jelasnya.

Disisi lain, supaya hutan kota berkelanjutan jangka panjang (sustainable) juga harus memperhatikan kondisi lingkungan, kearifan lokal, hingga perubahan iklim. Misalnya, ada jenis pohon yang akarnya tumbuh ke permukaan bukan malah ke dalam.

Hal itu perlu diperhatikan agar nantinya tidak merusak bangunan atau permukaan permanen diatasnya. "Pemerintah juga harus bisa menjelaskan jangan sekedar ditanam yang penting hijau," jelasnya.

Pemerintah juga harus memperhatikan musim. Misal nya, saat musim kemarau harus bisa menyiasati supaya tidak terjadi kebakaran.

Hutan kota yang terdapat ilalang harus diberikan perlakuan khusus untuk menghindari risiko terjadinya kebakaran.

"Ketika musim kemarau lebih baik dibersihkan daripada nanti berisiko munculnya kebakaran karena penyebaran ilalang kering sangat cepat," jelas Joko.

Sementara, ketika musim hujan jika ilalang tumbuh lebat di area sungai maka juga perlu dihilangkan agar terhindar dari risiko banjir.

Karena ilalang yang sebenarnya untuk penghijauan berpotensi menyebabkan luapan sungai ketika debit air meningkat.

"Inilah yang harus diperhatikan untuk keberlanjutan hutan kota memahami kondisi lingkungan, kearifan lokal, dan iklim Indonesia. Dari situ kita harus betul-betul responsif supaya dampaknya positif semua," tambahnya. (fgr/mia/fth)

 

 

 

Editor : Baskoro Septiadi
#ruang terbuka hijau #semarang #hutan tinjomoyo