RADARSEMARANG.ID, Semarang - Dua orang korban miras oplosan etanol 70 persen tidak dirawat di rumah sakit lantaran kondisinya sekarang ini tidak parah, dibanding delapan orang rekannya.
Salah korban bernama Guntur Bagus mengatakan, awalnya yang berkumpul tiga orang, pada Kamis (5/1/2024) petang atau menjelang maghrib.
Kemudian, datang rekan-rekan lainnya dan menenggak minuman keras oplosan tersebut hingga Jumat (6/12023) menjelang pagi.
"Minum sampai selesai pagi hari, tidak ada yang muntah. Langsung pulang rumah masing-masing. Cuman yang dua masih tidur Pendeng sama Andika (korban meninggal)," ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (8/1/2023).
Pihaknya juga menyebutkan, yang mengajak menenggak minuman oplosan tersebut adalah Dodi, warga Dadapsari, Semarang Utara.
Bahkan, Dodi inilah yang menjadi pengoplos sekaligus pemilik ide untuk mencampurkan minumannya dengan etanol.
"Itu minuman oplosan. Setahu saya Etanol dicampur sirup. Itu saran Dodik, pakai campuran itu. Saya belum pernah mencoba yang sama etanol, baru kali ini," bebernya.
Dodi meracik oplosan tersebut berkeinginan untuk membuka usaha menjual minuman keras oplosan. Sedangkan, mereka yang menjadi korban lantaran merasakan rasa tersebut sebagai uji rasa.
"Itu Dodik mau buka usaha miras, testernya kita. Rasanya panas, efeknya lemes," ujarnya.
Tak hanya menenggak miras, ternyata meraka juga mengkonsumsi obat terlarang jenis daftar G. Jumlah yang dikonsumsi bervariasi, mencapai 10 butir lebih.
"Saya sudah minum dextro 10 butir. Ada yang 20 butir, ada yang ditambah kasaran," jelasnya.
Guntur mengaku tidak mau dirawat di rumah sakit. Meski sempat dilarikan ke rumah sakit pasca pesta miras. Ia memilih pulang, untuk menjalani perawatan di rumah.
"Takut di bawa ke rumah sakit, tidak mau nginap. Terus pulang minum air kelapa," katanya.
Sementara, Ketua RT Setempat, Slamet Tejo mengaku prihatin atas kejadian ini. Meski demikian, pihaknya akan melakukan pendekatan terpadu dengan tokoh masyarakat sekitar untuk menjaga lingkungan, termasuk mengantisipasi kenakalan remaja.
"Sangat prihatin, memang pemuda disini sukar dikendalikan. Tidak tentu tapi biasanya malam minggu tanggal merah biasanya kumpul biasa terus ada yang ngajakin (minum)," katanya. (mha/bas)
Editor : Baskoro Septiadi