Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Cerita Dua Aktivis HAM Asal Swedia Dicekal saat Akan ke Semarang, Visa Tiba-Tiba Dibatalkan dan Dideportasi

Muhammad Iqbal Amar • Selasa, 19 Desember 2023 | 16:53 WIB
Benjamin Ladraa dan Sanna Ghotbi yang bersepeda keliling sejumlah negara untuk mengakmpanyekan nasib warga Sahara Barat.
Benjamin Ladraa dan Sanna Ghotbi yang bersepeda keliling sejumlah negara untuk mengakmpanyekan nasib warga Sahara Barat.

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Dua aktivis hak asasi manusia (HAM) asal Swedia menyuarakan isu HAM dengan berkeliling Indonesia.

Di tengah aksi itu, keduanya dicekal ketika akan melanjutkan perjalanannya ke Semarang. Tiba-tiba visa mereka dibatalkan dan dipaksa pulang ke negaranya.

Benjamin Ladraa, 31, dan Sanna Ghotbi, 30, harus menghentikan aksinya yang telah dijalani sejak Mei 2022. Keduanya menyuarakan isu pelanggaran HAM yang terjadi di Sahara Barat.

Wilayah ini dikatakan sebagai daerah koloni yang dikuasai pemerintah Maroko. Aksi itu dilakukan dengan berkeliling ke berbagai negara dengan menggunakan sepeda.

Indonesia menjadi negara ke-18 yang mereka singgahi sejak kedatangannya pada Oktober 2023 lalu.

Sudah melanglang buana ke kota-kota besar di Indonesia seperti Bali, Surabaya, Jogjakarta dan sebagainya.

Bahkan, selama di Indonesia, Benjamin dan Ghotbi juga menjadi pembicara lebih dari 15 dialog publik dan 30 wawancara media. Seusai dari Jogjakarta, mereka berencana ke Magelang dan lanjut ke Semarang.

“Kami telah bersepeda selama lebih dari satu bulan melintasi Bali dan Jawa menyuarakan isu HAM yang terjadi di Sahara Barat,” ujarnya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.

Penjelajahan di berbagai negara termasuk di Indonesia mereka berdua terus menyuarakan pelanggaran HAM yang terjadi di Sahara Barat. Dimana wilayah itu saat ini diduduki oleh Maroko sejak 1975.

Masyarakat Sahrawi yang menjadi penduduk asli daerah tersebut menjadi sasaran penangkapan, kesewenang-wenangan, penyiksaan, penghilangan, hingga diskriminasi otoritas Maroko.

“Tidak ada jurnalis atau organisasi HAM yang diizinkan masuk ke sana. Maroko juga tak berhenti menekan siapapun yang berani mengungkap penjaajahan mereka,” jelas Benjamin.

Karena itulah, kedua aktivis itu dicekal sebelum melanjutkan perjalanannya ke Semarang yang direncanakan pada Sabtu (16/12) lalu.

Mereka sudah dijadwalkan menjadi pembicara di kampus dan bertemu wartawan Semarang. Tapi visa mereka telah dibatalkan dan dipaksa meninggalkan Indonesia sejak Rabu (13/12).

Tak hanya itu mereka juga mendapatkan ancaman dan teror dari pihak yang diduga aparat keamanan Indonesia.

“Pada saat itulah kami menerima kabar bahwa rumah seorang kenalan keluarga digeledah paksa oleh polisi yang mengaku sedang mencari kami,” terang Benjamin.

Dirinya menduga, aparat keamanan Indonesia itu mencarinya atas perintah otoritas Maroko. Yakni mencari dan mengganggu ataupun menangkap keduanya.

Keduanya pun heran mengapa pemerintah Indonesia membantu Maroko. Terlebih melecehkan aktivis HAM asal Swedia.

Dari deretan negara-negara yang mereka berdua kunjungi, Indonesia menjadi pertama kali negara yang melakukan hal tersebut.

“Mengapa polisi tidak menghubungi kami sendiri untuk menanyakan tentang kampanye kami. Kami belum pernah mengalami di negara-negara sebelumnya,” akunya.

Meski menerima berbagai ancaman, Benjamin dan Sanna tak akan berhenti begitu saja. Pihaknya akan terus mengampanyekan isu Sahara Barat. Bahkan akan mengorganisir secara daring di seluruh Indonesia dengan jaringan yang ada.

Selain itu kedepan meraka akan bersepeda ke Eropa dan Afrika Utara. Tujuannya untuk mengunjungi kamp-kamp pengungsian Sahrawi pada musim dingin 2024. “Kami tidak pernah bersembunyi,” jelasnya. (mia/ton)

Editor : Baskoro Septiadi
#Aktivis #HAM